11. Hati Yang Lindap

11.8K 1.6K 366
                                        

Wangi merasa tulangnya lunglai, seolah tak mampu lagi menopang tubuhnya sejak membaca pesan balasan dari Surip berisi nama seorang donatur yang cukup sering menyumbang. Nama yang sama sekali tak disangkanya dan tak pelak menghadirkan tanda tanya besar di benaknya.

"Kamu kenapa?"

Wangi menoleh, tersadar dari lamunannya. Samudra telah duduk di sebelahnya dan tidak ada lagi peserta rapat di ruangan itu. Semua sudah keluar dari ruangan, segera ingin mengisi perut mereka yang kosong selepas rapat. 

"Eh ... ti-tidak apa-apa, Pak," sahut Wangi gelagapan. Ia segera berdiri dan membenahi dokumen rapat.

"Dapat informasi dari Pak Surip?" tebak Samudra.

Wangi mengangguk, tapi tak mengeluarkan sepatah kata pun.

"Siapa?" Samudra tak dapat menutupi rasa penasarannya.

Gerakan Wangi terhenti seketika, kebimbangan melanda. Ingin menyebutkan sebuah nama, menguji asumsinya tentang alasan dibalik sumbangan yang diberikan orang itu. Namun, ada rasa khawatir keadaan malah jadi runyam.

Samudra membaca keraguan di air muka Wangi. "Kita makan siang, yuk!" ajaknya, berharap Wangi lebih terbuka saat rileks. 

Wangi menggeleng, kehilangan nafsu makan. Ia mendekap berkas rapat di depan dada, lalu melangkahkan kaki menuju pintu keluar.

Samudra sudah menduga respons Wangi. Kendati dipenuhi rasa penasaran, ia tidak bisa memaksa. Perempuan ini tidak pernah lagi menerima ajakannya semenjak pulang dari Filipina. Ia pun beranjak dari duduk, berjalan bersama Wangi menuju pintu keluar.  

"Aku ada di sini kalau kamu perlu teman untuk ngobrol," ucap Samudra disertai senyum. Dibukakannya pintu dan mempersilakan Wangi untuk keluar terlebih dahulu.

Tak ada respons apa pun dari Wangi. Mulutnya seperti kaku, tak bisa digerakkan. Jangankan untuk mengucapkan terima kasih atas ajakan makan siang Samudra, perlakuan lelaki itu membukakan pintu hingga kesediaan untuk menjadi tempat bercerita, bahkan untuk balas tersenyum pun ia tak mampu. Pikirannya terlampau kalut.

Kekalutan terus menghantui isi kepala Wangi, membuatnya tidak peka dengan stimulus apa pun dari sekelilingnya. Sapaan orang yang berpapasan, cibiran Vita dan Erni yang iri dengan keberhasilannya menarik hati Muryani Wibisono, ucapan terima kasih dari Eko, Indri, dan Endah atas oleh-oleh dari Yogya, bahkan makian 8 oktaf dari Shinta seolah tak menembus indra pendengarannya. Di depan komputer pun ia lebih sering menatap nanar layar 19 inch itu, kesulitan mengerahkan fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Semua gara-gara sebuah nama yang dikirimkan Surip.

"Ngi, pulang jam berapa?" Pertanyaan Eko mengagetkan Wangi. 

Wangi melirik arlojinya, lima menit melewati jam pulang kantor. Ia mengamati sekeliling ruang kerja, hanya tinggal dirinya dan Eko. Kekalutan ini sungguh menyita perhatiannya. 

"Aku pulang duluan, ya." Eko pamit, tanpa menunggu jawaban Wangi atas pertanyaannya.

"Ya, Pak." Hanya itu yang sanggup Wangi jawab. Saat yang bersamaan, ponselnya bergetar. Nama Banyu terpampang di layar. Ia menarik napas panjang sebelum mengangkat telepon dari kekasihnya itu.

"Ngik!" sapa Banyu ketika ponsel tersambung.

"Ya, Mas," balas Wangi parau.

"Kami masih kena macet di tol. Kemungkinan paling cepat sampai kantormu setengah jam lagi."

Tak ada jawaban dari Wangi, hanya helaan napas panjang.

"Kamu mau tunggu?" tanya Banyu ragu mendengar tarikan napas berat Wangi. 

Meneroka Jiwa 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang