Jakarta di pagi hari mulai mempertontonkan "orkestra" khas ibu kota-nya. Irama kakofoni¹ yang tercipta oleh perpaduan suara klakson bersahutan, makian pengemudi tidak sabaran, dan deru knalpot seolah menjadi latar bagi pertunjukan motor yang menyelip zig-zag di antara celah mobil yang merayap dalam kemacetan. Sebuah "orkestra" yang acapkali menyulut emosi dan menambah kepenatan, bahkan sebelum menjalankan aktivitas utama yang akan jauh lebih menguras kewarasan. Namun, bagi Banyu dan Wangi yang sedang kasmaran, "orkestra" tersebut tetap tak mengurangi kemesraan. Mereka tetap berada di asmaralokanya yang dipenuhi canda tawa disertai lembutnya tatapan dan sentuhan.
"Kalau kuliah, cara mengajar dosen seperti apa, Mas?" tanya Wangi yang akan memulai perkuliahan pada minggu depan.
"Kurang lebih sama dengan guru waktu sekolah. Ada yang kreatif pakai macam-macam metode sehingga menarik buat mahasiswa, ada juga yang monoton sehingga bikin ngantuk," jawab Banyu.
"Metode yang menarik seperti apa?"
"Banyak. Aku paling suka kalau dosen tidak jelasin teori melulu, tetapi lebih banyak bahas kasus sehingga mahasiswa paham bagaimana teori itu diimplementasikan. Kalau cuma ngomong teori, apalagi ngomongnya sambil baca buku atau layar, biasanya kutinggal tidur."
Wangi tertawa. Kebadungan Banyu saat SMA pasti masih tersisa saat kuliah. "Tidak pernah ditegur, Mas?"
"Tidak."
"Masa, sih?" Wangi sangsi. Mana mungkin dosen membiarkan mahasiswanya tidur di kelas.
"Tidak ditegur, cuma langsung dikasih nilai F. Tidak lulus!" Banyu menyengir.
"Pantas nyaris DO!" Wangi tertawa geli membayangkan kekesalan para dosen dengan tingkah Banyu. "Mas dulu kuliah ambil apa, ya?" Ia lupa jurusan kuliah Banyu, meski pernah tahu.
"Ambil hikmahnya," jawab Banyu santai.
"Iiih! Bukan itu maksudnya! Jawab serius, dong!" Wangi memukul lembut lengan kekar Banyu.
"Itu jawaban serius! Banyak hikmah yang bisa diambil dari kuliah!"
Wangi mengerucutkan bibir plump-nya. Kesal, tetapi tidak bisa marah. "Waktu kuliah, materi apa yang paling menarik buat Mas?" Ia mengganti pertanyaan.
Banyu mengerutkan dahi, lalu menjawab dengan mimik serius, "Waktu bahas tentang pertumbuhan ekonomi China."
"Kenapa?"
"Karena selalu meningkat ... seperti cintaku padamu!"
Wangi antara kesal dan geli. "Sempat-sempatnya ngegombal!" Ia hanya bisa tertawa sembari mencubit lengan Banyu.
Ponsel Wangi bergetar, sebuah pesan masuk. Tawa Wangi menghilang saat ia membaca pesan.
"Ada apa?" tanya Banyu, menyadari perubahan ekspresi kekasihnya.
"Dari Bu Giarti."
"Ibu kenapa?" Banyu bisa menduga pasti Giarti memberi kabar tidak baik tentang Surem.
"Ibu sakit sudah seminggu. Tidak mau makan, tidak mau mandi. Cuma mau tiduran."
"Sudah dibawa ke rumah sakit?"
Wangi mengangguk. "Sudah, tapi menurut dokter tidak ada apa-apa."
"Mungkin kangen kamu. Sudah dua bulan kita tidak ke sana, terakhir waktu Lebaran."
Wangi terdiam, muncul rasa bersalah tidak menyempatkan diri mengunjungi ibu lebih sering.
"Kita ke Solo hari Jumat malam setelah kamu pulang kerja. Minggu kita balik ke Jakarta supaya Senin kamu tetap bisa mulai kuliah," usul Banyu, memahami kegelisahan Wangi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Meneroka Jiwa 2
RomanceKetika lara akhirnya mempertemukan pada cinta yang dinanti. Kala akhirnya terkuak sang tabir misteri. Apakah hidup akan memberikan kebahagiaan yang hakiki atau hanya kembali menorehkan luka di hati? Kisah ini masih tentang Wangi, anak dari penderita...
