Wangi mengetuk pintu kaca di hadapannya, lalu mendorong begitu melihat lambaian tangan dari dalam, tanda bahwa empunya ruangan mempersilakan masuk.
"Pagi, Bu. Ibu panggil saya?" tanya Wangi.
Rani menganggukkan kepala sambil menggerakkan tangan pertanda mempersilakan Wangi duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi kerjanya. "Jadi pulang kampung akhir pekan kemarin?" tanyanya sambil meletakkan cangkir kopi yang tadi di minumnya di atas meja.
Wangi menganggukkan kepala. "Jadi, Bu."
"Bagaimana kondisi ibumu?"
Wangi memandangi Rani, haru dengan perhatian perempuan ini. "Masih menunggu hasil pemeriksaan lengkap. Hari ini ibu dijadwalkan CT Scan."
"Siapa yang mendampingi?"
"Mas Banyu, Bu. Sebenarnya Bu Giarti, pengelola panti, tidak keberatan menemani ibu, tapi Mas Banyu khawatir merepotkan beliau. Tenaga kerja di panti terbatas, padahal penghuni sedang cukup banyak dan beberapa juga sakit."
"Wah, Banyu baik sekali! Kamu tidak salah pilih," goda Rani.
Wangi tersipu malu.
"Kalau kamu mau cuti untuk menemani ibumu, ajukan saja. Laporan kuartal sudah selesai, 'kan? Rasanya tidak ada hal mendesak yang perlu kamu kerjakan," usul Rani.
"Tadinya memang mau cuti, Bu. Tidak tega juga kalau Mas Banyu yang malah menemani ibu. Namun, lusa kuliah umum pertama dan saya lihat di agenda acara, Bu Muryani akan hadir. Menurut Mas Banyu, jangan sampai Bu Muryani kecewa karena saya tidak hadir, padahal dia sudah begitu baik memberikan beasiswa. Semoga saya tidak egoistis, ya, Bu," sahut Wangi, dalam hati merasa ragu dengan keputusannya.
"Egoistis karena membiarkan Banyu menemani ibumu, sedangkan kamu kuliah?" Rani mengonfirmasi pernyataan Wangi.
Wangi mengangguk. "Iya, Bu. Seharusnya saya yang mengantar ibu."
"Menurutku, keputusanmu tidak egoistis. Kamu tidak memaksa Banyu untuk mendampingi ibumu, justru dia yang mengajukan diri. Aku juga setuju pendapat Banyu, Bu Muryani bisa jadi akan merasa kecewa kalau kamu tidak datang pada hari pertama kuliah. Bisa memberi kesan kamu tidak antusias kuliah meskipun alasan ibu sakit pasti bisa dia terima," ujar Rani.
Wangi mengembuskan napas lega, mendapat validasi atas keputusannya.
"Tidak ada rencana membawa ibumu ke Jakarta?" tanya Rani.
"Sebenarnya ada, Bu. Seumur hidup saya belum pernah tinggal seatap dengan ibu. Jadi ingin sekali membawa ibu ke sini supaya bisa merawat sendiri. Mas Banyu juga sudah mengusulkan begitu."
"Lalu apa yang membuatmu ragu?"
Wangi menarik napas panjang. "Saya tidak enak dengan Mas Banyu kalau ibu ikut menumpang di rumahnya. Selain akan merepotkan, juga khawatir dengan omongan orang."
"Khawatir dianggap memanfaatkan Banyu sebelum menikah?" Rani bisa menebak apa alasan kekhawatiran Wangi.
Wangi mengangguk. "Iya, Bu."
"Sudah pernah memikirkan alternatif lain? Mungkin mengontrak rumah yang tidak jauh dari rumah Banyu sehingga kamu tetap punya bantuan untuk mengontrol ibu saat kamu kerja atau kuliah nanti?" gali Rani.
"Sudah, Bu, tapi kalau ngontrak, harus ada juga pengasuh karena ibu tidak boleh sendiri dan harus terus diajak beraktivitas. Dengan kondisi kejiwaan ibu dan juga sakitnya akhir-akhir ini, pengasuh yang bisa merawat ibu harus punya keahlian khusus."
Rani mengangguk-anggukan kepala, paham yang menjadi kesulitan Wangi. "Pasti tidak mudah mencari pengasuh seperti itu. Selain terampil, juga harus ekstra sabar. Belum lagi bayaran yang pasti tidak sedikit."
KAMU SEDANG MEMBACA
Meneroka Jiwa 2
RomanceKetika lara akhirnya mempertemukan pada cinta yang dinanti. Kala akhirnya terkuak sang tabir misteri. Apakah hidup akan memberikan kebahagiaan yang hakiki atau hanya kembali menorehkan luka di hati? Kisah ini masih tentang Wangi, anak dari penderita...
