"Mas Banyu mau pulang, ya?" tanya Linda dengan gaya dibuat manja sambil berusaha meraih tangan Banyu.
"Tidak," sahut Banyu sembari berusaha menepis tangan Linda.
"Oh, belum mau pulang?" Linda antara kecewa dengan sikap Banyu, tetapi juga girang dengan jawaban Banyu. Masih ada waktu untuknya mendekati lelaki itu.
"Saya mau antar Wangi ke Jakarta," jawab Banyu.
"Iiih, bercanda, ya, Mas?" Linda berusaha memukul lengan Banyu, tapi tak berhasil karena lelaki itu refleks berkelit. "Itu kan sama saja Mas mau pulang."
Banyu tak berkomentar daripada mengundang reaksi genit Linda. Perempuan ini memang cantik, tapi sungguh agresif, bahkan lebih agresif dari para wanita anggota Benkuwat yang sering menggodanya.
"Kami pulang dulu, masih ada Bapak dan Rini di bangsal," Wangi segera pamit, tak mau Linda lama-lama menggoda Banyu.
"Aku tidak tahu di mana tempatnya. Antarkan, dong!" pinta Linda.
"Gampang, tinggal lurus saja sampai ujung, nanti ada bangunan terpisah di sebelah kiri. Petunjuknya jelas, kok!" Wangi menggerakkan tangan memberi gambaran posisi bangsal tempat Sri dirawat.
"Aduh, bingung!" keluh Linda.
"Kan bisa baca petunjuk atau tanya orang!" sahut Banyu ketus. Perempuan ini selain agresif, juga manipulatif.
"Aku tidak tahan bau rumah sakit, jadi gampang pusing, Mas, takut bingung nanti," dalih Linda mulai merajuk.
Wangi mendengkus, hapal kelakuan Linda kalau sudah mulai merengek. Linda yang kesayangan Sri dan Wiryo, sejak kecil selalu dituruti kemauannya, terutama kalau sudah meminta dengan gaya mendesak disertai rengekan. Linda tidak akan berhenti merajuk sampai keinginannya terpenuhi.
Wangi pun bimbang, di satu sisi tak enak hati dengan Banyu yang pasti kesal kalau harus kembali ke bangsal, tetapi di sisi lain tahu kalau Linda takkan berhenti memaksa.
Di tengah kebimbangannya, seorang lelaki menyapa.
"Lo, kamu masih di sini, to, Ngi?"
Wangi, Banyu, dan Linda serempak menoleh. Sujiwo berdiri tak jauh dari mereka menenteng plastik berisi buah.
"Piyambakan mawon, Pak?" Wangi menjulurkan tangan, menyalami ayah Wisnu sembari bertanya apakah Sujiwo datang sendiri.
"Sama Wisnu, tapi dia nunggu di depan," jawab Sujiwo.
"Kenapa Wisnu tidak ikut masuk? Merasa bersalah sudah bikin ibu sakit?" sindir Linda.
Sujiwo dan Wangi serempak menarik napas, Banyu geleng-geleng kepala. Linda seperti tidak menyadari dirinya penyebab utama semua kekacauan ini.
"Bapak mau jenguk Bu Sri?" tanya Wangi sebelum Linda kembali melontarkan sindiran.
Sujiwo mengangguk. "Di mana tempatnya?"
"Ini Wangi mau antar!" sahut Linda sebelum Wangi sempat menjawab.
Merasa tak punya pilihan, Wangi terpaksa setuju. "Aku antar Pak Sujiwo dan Linda dulu, Mas. Kalau Mas capek, tunggu di mobil saja." Ia khawatir Banyu kesal karena harus kembali lagi ke bangsal.
Banyu menghela napas, sudah menduga Wangi pasti luluh. "Aku temani kamu."
Wangi tersenyum. "Terima kasih, Mas."
"Kamu tinggal di mana, Ngi?" tanya Sujiwo sambil menyusuri koridor menuju bangsal tempat Sri dirawat.
"Di Bintaro, Pak."
"Kalau Mas di mana?" Linda ganti bertanya pada Banyu.
"Bintaro," jawab Banyu.
"Oh, dekatan, ya?" tanya Sujiwo yang tak tahu di mana Bintaro itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Meneroka Jiwa 2
RomanceKetika lara akhirnya mempertemukan pada cinta yang dinanti. Kala akhirnya terkuak sang tabir misteri. Apakah hidup akan memberikan kebahagiaan yang hakiki atau hanya kembali menorehkan luka di hati? Kisah ini masih tentang Wangi, anak dari penderita...
