9. Potongan Misteri

10.9K 1.7K 339
                                        

Lelaki berbelangkon dengan cerutu menyelip di bibir hitamnya itu menghentikan langkah dua meter di depan tiga orang anak muda yang baru saja keluar dari pekarangan rumah Wiryo. Diamatinya ketiganya satu per satu. Hanya satu wajah yang dengan mudah dapat diidentifikasinya, Rahmat si calon kades, anak mantan kades. Ia memandangi wajah perempuan yang berjalan paling depan, sepertinya tidak asing, tetapi tidak sama persis dengan yang ada dalam memorinya.

"Pak Gatot, pripun pawartosipun?" Wangi menanyakan kabar seraya menjulurkan tangan untuk menyalami Gatot. Jantungnya berdegup kencang membayangkan apabila dugaannya mengenai alasan pemberian dana dari Gatot adalah untuk menutupi rasa bersalah itu benar adanya.

Gatot menjulurkan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mengambil cerutu dari bibirnya yang dikelilingi kerutan vertikal. "Sopo kowe?" Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya siapa yang berbicara padanya ini.

"Wangi, Pak," jawab Wangi bergetar. Ia tak tahu, mana yang membuatnya lebih cemas, ingatan tentang sikap Gatot yang sejak dulu galak atau praduganya.

Gatot mengerutkan dahi, mengamati wajah Wangi yang berbeda dengan terakhir dilihatnya, apalagi dengan Surem, simboknya yang gila. "Oh, ... tak kiro sopo," sahutnya datar setelah beberapa saat pangling. Ia ganti mengarahkan pandangan ke lelaki berbadan tinggi besar yang berdiri di belakang Wangi.

Banyu yang sejak tadi mengamati reaksi Gatot saat berhadapan dan bersalaman dengan Wangi, menyadari arah pandangan sang juragan tembakau kepadanya. Ia menarik kedua sudut bibir seraya menjulurkan tangan untuk bersalaman.

Rahmat melihat Gatot memperhatikan Banyu, berinisiatif memperkenalkan. "Niki Banyu Biru, putrane—"

"Putrane Mas Pramono!" Gatot langsung ingat nama yang disebut Rahmat dan wajah rupawan di hadapannya, putra almarhum teman masa kecilnya. Ia merespons uluran tangan Banyu, lantas memeluknya.

Mata Banyu terbelalak bak keselak biji kedondong begitu Gatot memeluknya erat, tak menyangka reaksi akrab sang juragan. Dulu, saat  tinggal di Gelem, ia amat jarang berbincang dengan Gatot. Tak pernah ada kedekatan yang menjadi alasan sikap akrab seperti ini.

Wangi menahan geli melihat reaksi Banyu, tahu betul kekasihnya itu paling tidak suka berpelukan, bahkan dengan para sahabatnya. Paling banter, Banyu hanya mau berjabat tangan ketika berjumpa dengan kawan lamanya. Bukan teletubbies, katanya dulu saat Wangi bertanya.

Gatot melepaskan pelukan, diamatinya anak muda yang dulu pernah diungsikan ke desa Gelem ini karena orang tuanya tak lagi mampu menolerir kebengalannya. "Gagah men saiki kowe, Le!" Dipujinya Banyu yang tampak gagah, dengan salah satu tangan menepuki lengan kekar Banyu. "Kata simbah putrimu, sekarang kamu sudah jadi pengusaha sukses di Jakarta?"

Banyu hanya merespons dengan senyuman.

"Hebat tenan!" sanjung Gatot mengartikan senyuman Banyu sebagai afirmasi jawaban.  

Banyu kian risi, tetapi memaksa tersenyum yang lebih menyerupai orang meringis menahan pedih.

Wangi menahan tawa melihat air muka Banyu. "Badhe tindak pundi, Pak?" tanyanya berbasa-basi, menanyakan tujuan kepergian Gatot. Ia berusaha mengeluarkan Banyu dari situasi yang tidak nyaman.

Gatot tak menggubris, tak menjawab pertanyaan Wangi, bahkan kembali berbicara kepada Banyu. "Almarhum Bapak dan simbah kakungmu pasti bangga padamu sekarang! Untung dulu kamu diungsikan ke sini!"

Senyum terpaksa di wajah Banyu hilang seketika, bukan karena perkataan Gatot tentang ayahnya, tetapi lebih pada cara lelaki itu memperlakukan Wangi. Andai tak  ingat sandiwara yang sedang dimainkan, sudah pasti lelaki ini akan diberinya pelajaran sopan santun.

Meneroka Jiwa 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang