17. Peristiwa Pagi

10.3K 1.6K 210
                                        

"Kapan rencana pembukaan cabang Depok, Mas?" tanya Wangi. Sepanjang jalan dari rumah ke kantor Wangi, tak putus mereka berbincang mengenai banyak hal. Seolah menebus kerinduan akibat dua minggu hubungan merenggang akibat salah paham.

"Kalau tidak ada halangan, dua minggu lagi."

"Semoga lancar. Nantinya akan banyak pelanggan dan membawa berkah."

"Amin. Terima kasih." Banyu menoleh sejenak ke arah Wangi di sela fokusnya menyetir. Tak lupa seulas senyum indah untuk iringan doa dari kekasihnya. "Kamu mau lihat ke sana?"

"Mau!"

"Gimana kalau akhir pekan ini? Sekalian kita jalan-jalan berdua setelah itu," usul Banyu, merasa perlu meluangkan banyak waktu bersama Wangi usai perselisihan.

Wangi mengangguk cepat, menyambut antusias ajakan Banyu.

"Kamu mau jalan-jalan ke mana?"

Wangi mengangkat bahu, tak punya ide, tidak tahu juga tempat menarik di seputar Depok. "Terserah."

"Di mana, tuh?" tanya Banyu serius.

"Apanya yang di mana?" Wangi bingung, rasanya ia tidak menyebut nama tempat sama sekali.

"Si tempat yang namanya terserah itu, adanya di mana?" Banyu tersenyum jahil.

Wangi terkekeh, memukuli lengan Banyu, menyadari ternyata dijahili Banyu adalah momen yang dirindukannya.

"Sekali-kali kalau gemas, tuh, nyium, dong! Jangan nyubit atau mukul," goda Banyu.

Wangi mengecimus. "Enak di Mas, dong!"

"Ah, suka gengsi! Semalam dicium juga tidak protes, 'kan?"

"Iiih, itu kan tidak sengaja!" Wangi tersipu.

"Ya, nanti kuulangi secara sengaja, deh!"

Bibir Wangi kembali mengerucut.

Banyu tergelak. "Kata orang, berantem itu bumbunya pacaran. Kalau pas takarannya, bikin makin mesra."

Wangi tersenyum, setuju dengan pendapat Banyu. "Gimana supaya pas takarannya?"

"Kalau habis berantem, masalah dibicarakan baik-baik. Sama-sama belajar dari kesalahan, supaya tidak terulang lagi."

Wangi manggut-manggut, lantas teringat sesuatu. "Mas, Jumat malam, aku dan Pak Sam diundang untuk menghadiri acara peluncuran program baru universitas punyanya Bu Muryani Wibisono."

"Bu Muryani Wibisono yang pengusaha itu?"

"Iya, yang bulan lalu bikin acara di Yogya."

"Nanti acaranya di Yogya lagi?"

Wangi menggeleng. "Tidak. Kali ini di Jakarta."

"Sepertinya Bu Muryani itu terkesan sekali denganmu."

"Masa, sih?" Wangi sangsi, mana mungkin pengusaha sukses seperti Muryani Wibisono dengan pergaulan yang sangat luas terkesan dengan dirinya yang hanya orang biasa saja.

Banyu hanya membalas dengan menarik ujung bibirnya. Isi kepalanya sibuk memikirkan sesuatu.

"Boleh, Mas?" tanya Wangi ragu melihat ekspresi Banyu.

Banyu menginjak rem, menghentikan mobil yang harus menunggu lampu merah berganti hijau. Ia menoleh, mengulas senyum. "Aku tidak berhak melarangmu."

"Tapi aku tidak mau Mas salah paham karena akan pergi sama Pak Sam."

"Kalau kamu sudah memberi tahu seperti sekarang ini, salah paham bisa dihindari. Itu pentingnya komunikasi, tidak menyembunyikan informasi yang bisa bikin salah persepsi." Banyu meraih jemari Wangi, pembahasan tentang pergi bersama Sam ini mengingatkannya pada sesuatu. "Aku minta maaf waktu itu sudah menuduh kamu pulang dengan Sam. Semalam, aku belum minta maaf untuk yang satu ini."

Meneroka Jiwa 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang