46. Tabiat Melekat

11.1K 1K 210
                                        

Wangi tercekat. Tubuhnya kaku. Ia memejamkan mata, takut setengah mati, ngeri membayangkan tubuh Aghastyan yang pasti hancur berkeping-keping di bawah sana.

Sayup-sayup terdengar suara. "Bangsaaat!"

Wangi terperangah, membuka mata. Suara dan makian itu beberapa kali terlontar untuknya hari ini. Apakah itu suara Aghastyan? Atau jangan-jangan dia berhalusinasi?

"Wangiii!"

Wangi tersentak. Itu benar suara Aghastyan. Ia bergegas berlari menuju parapet, lalu melongok ke bawah. Kurang dari 5 meter di bawahnya, Aghastyan jatuh terduduk di cradle atau keranjang gondola, kabin yang terbuat dari baja untuk membersihkan kaca gedung tinggi.

"Bapak ... Bapak masih hidup?" seru Wangi, antara cemas, kaget, dan takjub. Ia sungguh tidak menyangka Aghastyan bisa jatuh tepat di dalam gondola.

"Kamu ingin aku mati?" omel Aghastyan.

"Bukannya Bapak yang mau mati?" Wangi bingung, seingatnya tadi Aghastyan berdiri di pinggir parapet persis seperti orang mau bunuh diri.

"Siapa yang mau mati? Kamu yang bikin aku nyaris mati!"

"Saya tidak mau bikin Bapak mati!" protes Wangi. "Kan Bapak yang mau bunuh diri!"

"Siapa yang mau bunuh diri?"

"Ngapain Bapak berdiri di sini kalau bukan mau bunuh diri?"

Aghastyan ingin membantah, tetapi tiupan angin kencang membuat gondola bergoyang, menimbulkan sensasi mengerikan buat yang tidak terbiasa berada di ketinggian. "Sudah jangan banyak omong! Cari petugas buat bantuin aku naik!"

Wangi patuh, bergegas mencari petugas yang tentunya tidak habis pikir kenapa ada orang yang berada dalam cradle gondola. 15 menit kemudian, Aghastyan sudah berhasil dievakuasi.

"Ada yang luka, Pak?" tanya Wangi cemas begitu para petugas melepaskan tali pengaman yang dililitkan pada tubuh Aghastyan.

Aghastyan tidak menjawab. Jantungnya masih berdegup kencang saking kagetnya terpeleset tadi. Ia berjalan menuju penthouse bulkhead, bangunan kecil di bagian atap gedung yang memiliki pintu akses menuju tangga. Namun, kakinya terasa nyeri akibat tertekuk saat jatuh. Ia menghentikan langkah.

"Sakit kakinya, Pak?" tanya Wangi yang melihat Aghastyan memegangi kakinya.

"Pakai nanya segala! Ya jelas sakit!" omel Aghastyan. "Ini semua gara-gara kamu!"

"Ma-maaf, Pak." Wangi menundukkan kepala, mengakui dirinya bersalah, meski masih bingung dengan alasan Aghastyan berdiri di tembok.

"Maaf ... maaf. Enak betul tinggal minta maaf! Kalau tadi aku jatuh ke bawah sana dan mati, permintaan maafmu tidak bisa bikin aku hidup lagi, tahu?!" umpat Aghastyan sambil memaksa diri berjalan dengan agak pincang hingga ke penthouse bulkhead, lalu duduk bersandar pada tembok bangunan itu.

Wangi ikut duduk di sebelah kanan Aghastyan, diliputi rasa bersalah. Tidak enak meninggalkan lelaki ini sendiri.

"Kamu ngapain naik-naik ke sini? Gara-gara kamu, aku jatuh! Untung aku tidak jatuh ke bawah sana!"

"Saya khawatir Bapak nekat," sahut Wangi.

"Nekat apa? Nekat bunuh diri?"

Wangi mengangguk.

"Mending bunuh orang daripada bunuh diri!" sahut Aghastyan kesal sambil mengusap pergelangan kakinya yang terasa nyeri. "Kenapa kamu mikir aku mau bunuh diri?"

"Bapak seharian ini kayaknya lagi banyak masalah. Bapak berdebat sengit dengan Pak Mahesa, marah-marah terus. Kemudian saat sedang teleponan, saya dengar Bapak bilang, 'Kamu pasti bahagia banget kalau aku mati.' dan naik ke lantai paling atas. Jadi, saya pikir Bapak sedang frustrasi. Saya khawatir terjadi hal buruk," ungkap Wangi.

Meneroka Jiwa 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang