Aghastyan yang sedang menghisap rokoknya langsung terbatuk-batuk saat melihat Mazda 2 merah berhenti di depan rumahnya. Ia mematikan puntung rokoknya, segera melesat menghampiri mobil Lavi. Diketuknya kaca mobil berulang kali dengan tidak sabar.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Aghastyan geram begitu kaca jendela samping kemudi turun.
"Mau salat Id," sahut Lavi santai. "Mama ajak aku salat Id di sini."
"Mama?" Aghastyan mengerutkan dahi. Lavi terdengar sangat akrab memanggil ibunya dengan sebutan Mama. "Mamaku?"
"Ya kali Mamaku!" sahut Lavi ketus.
"Masa, sih?"
Lavi menaikkan kaca jendelanya, lalu membuka pintu tiba-tiba, membuat Aghastyan terdorong ke belakang. "Tanya saja sendiri kalau tidak percaya!"
"Heh! Lihat-lihat kalau buka pintu!"
"Salah sendiri kamu berdiri di situ, sudah tahu aku mau turun!" Lavi tidak peduli, berjalan memasuki halaman luas rumah Aghastyan.
"Vi ... Lavi!" Aghastyan menarik tangan Lavi. "Tunggu!"
"Jangan pegang-pegang! Nanti aku batal, malas wudu lagi!"
"Kalau tidak nafsu kan tidak batal!"
Lavi mencebik. "Otak mesum kayak kamu mana pernah tidak nafsuan! Lihat anak orang gila saja nafsu, 'kan?!"
Aghastyan mendengkus geram. "Kamu mau ngapain? Pasti bukan cuma salat bareng!"
Lavi melirik, mengulas senyum penuh arti. "Mau tiada dusta lagi di antara kita!"
"Hah? Apa maksudmu?"
Lavi mendengkus, memutar tubuhnya menghadap ke arah Aghastyan. "Mau bilang sama orang tuamu kalau mereka akan punya cucu! Hari raya, hari tepat untuk berita bahagia, bukan?" Ia kembali meneruskan langkah menuju teras rumah Aghastyan.
"Shit!" Kedua tangan Aghastyan mengepal, giginya gemeletuk. Ingin rasanya menjambak rambut Lavi kalau tidak ingat itu hanya akan membuat perempuan ini makin nekat. "Vi, tunggu dulu, sabar dulu!"
"Perutku tidak bisa nunggu! Dasar pengecut! Pantas kamu cuma jadi bayang-bayang Sam! Pantas Wangi yang perempuan kampung saja tidak mau sama kamu!"
Darah Aghastyan mendidih. "Kamu pikir orang tuaku akan percaya begitu saja? Kalau aku sangkal, mereka juga pasti tidak mau terima pengakuanmu!"
Lavi mendekatkan wajahnya ke muka Aghastyan. "Kamu berani nyangkal?"
"Kamu pikir aku tidak berani?" Aghastyan tidak mau kalah gertak, mendekatkan wajah ke arah Lavi. "Kamu mau kasih tahu Sam rencanaku jatuhin dia? Silakan! Kamu mau kasih tahu Wangi niatku menjauhkan dia dari Banyu? Silakan! Itu semua tidak akan membuatku takut untuk bilang bahwa janin di perutmu itu bukan anakku!"
Seringai terulas di bibir Lavi. "Bagaimana dengan informasi bahwa sebenarnya kamu adalah pengkhianat perusahaan kakekmu sendiri? Kira-kira yang akan disingkirkan cuma kamu atau semua keluargamu, ya? Siap jatuh miskin?"
Mata Aghastyan terbelalak. "Shiiit! Dari mana kamu ta...." Ia menghentikan kalimatnya, sadar keceplosan.
Lavi tersenyum penuh kemenangan. "Aku tidak sebodoh Wangi-mu, Sayang!" Ia mengecimus sambil melenggang menuju teras.
Dari dalam rumah, Ayu menyambut Lavi dengan semringah.
Berbagai nama binatang berkaki empat pun keluar dari mulut Aghastyan.
***
"Kok, makannya sedikit banget, Vi? Tidak enak opornya, ya?" tanya Ayu khawatir makanan yang disajikan tidak sesuai dengan selera kelas atasnya Lavi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Meneroka Jiwa 2
RomantikKetika lara akhirnya mempertemukan pada cinta yang dinanti. Kala akhirnya terkuak sang tabir misteri. Apakah hidup akan memberikan kebahagiaan yang hakiki atau hanya kembali menorehkan luka di hati? Kisah ini masih tentang Wangi, anak dari penderita...
