41. Selesai Dengan Diri

11.9K 1.1K 191
                                        

"Mas, ini lantainya aman? Tidak akan pecah?" tanya Wangi cemas saat memasuki crystal cabin Ngong Ping 360, kereta gantung dengan bagian lantai terbuat dari tempered glass transparan sehingga dapat melihat pemandangan yang berada di bawah dengan leluasa.

"Seharusnya di tempat wisata semua sudah melalui uji kelayakan untuk jaminan keamanan," jawab Banyu.

"Kalau jatuh, gimana?" Wangi masih belum bisa menyingkirkan kekhawatirannya.

"Kalau jatuh ya ke bawah."

"Ya masa jatuh ke atas!" Wangi mengerucutkan bibir plump-nya.

"Nah, itu paham!" Banyu tersenyum lebar.

"Seharusnya tadi kita pilih yang lantainya biasa saja, bukan yang transparan begini. Aku takut!" Wangi bergidik, berbarengan dengan kereta gantung mulai meninggalkan stasiun sehingga pemandangan di bawah kakinya terlihat jelas, semakin menegaskan posisi ketinggian.

"Bilang saja kalau minta dipeluk!" Banyu yang duduk berseberangan dengan Wangi, bangkit dari duduk hendak berpindah ke samping Wangi. 

"Jangan!" Wangi mengangkat kedua tangan ke depan, melarang Banyu untuk mendekat. "Mas jangan pindah-pindah! Nanti berat sebelah dan malah terjungkir!" serunya panik.

Banyu mengurungkan niat, tersenyum geli melihat ekspresi panik Wangi. "Itu bandara." Ia menunjuk bangunan di sisi kirinya, mengajak Wangi mengalihkan fokus dengan menikmati pemandangan. Perjalanan selama 25 menit sepanjang 5,7 kilometer menggunakan kereta gantung menuju Ngong Ping dengan pemandangan lautan dan bukit di bawahnya memang bisa membuat orang yang takut ketinggian dilanda cemas berlebihan.

Wangi mengikuti arah yang ditunjuk Banyu, tak lama matanya terbelalak takjub menyaksikan pemandangan yang tersaji. Cemasnya pun hilang berganti dengan antusiasme. "Oh, dinamakan Ngong Ping 360 karena bisa melihat pemandangan secara menyeluruh 360 derajat dari kereta gantung ini, ya, Mas?"

Banyu mengangguk disertai senyum, tidak sulit mengalihkan fokus Wangi. Diamatinya Wangi yang terlihat mulai menikmati pemandangan untuk beberapa saat. Mewujudkan rencana pada ketinggian 750 meter di atas permukaan laut tampaknya akan menjadi momen tidak terlupakan. Ia merogoh saku celananya. "Ngi," panggilnya lirih.

"Ya?" tanya Wangi, menoleh ke arah Banyu yang sedang tersenyum.

Sebuah panggilan video call masuk di saat bersamaan, membuat senyum di bibir Banyu mendadak sirna dan tangannya urung mengambil sebuah benda di kantong.

"Mas Beee!" sapa Iwan kemayu sebelum Banyu sempat mengucap salam.

"Ada apa, sih? Ganggu saja!" gerutu Banyu.

"Akika memang terlahir untuk menghantui hidup yey! Mana Wangi?"

"Halo, Mas Iwan!" sapa Wangi.

"Sedang di mana, nih?" tanya Saras, menyembulkan wajah dari balik badan besar Iwan.

Banyu mengarahkan ponsel ke sekelilingnya, agar tidak ada lagi salah sangka seperti selumbari.

"Sedang di kereta gantung menuju Ngong Ping, Mbak," sahut Wangi.

"Sedang menikmati keindahan alam, tapi tiba-tiba muncul gangguan dari alam lain!" omel Banyu.

"Alam lain?! Memangnya akika setan?!" protes Iwan.

"Memang!" sahut Banyu kesal.

"Akika cuma ngecek kondisi kalian, sehat dan bahagia, kan?" sahut Iwan.

"Mau ngecek atau mau gibah, Wan?" ledek Saras yang dijawab cengiran lebar di bibir Iwan.

"Mau ngecek sekaligus gibahin pasangan sebelah!" Iwan menyengir.

"Pasangan sebelah yang mana?" tanya Wangi celingukan. Di kereta gantung ini hanya diisi oleh dirinya dan Banyu. "Tidak ada orang lain di sini."

Meneroka Jiwa 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang