3. Praduga

13.3K 1.8K 403
                                        

Aghastyan hendak membuka pintu kamar kecil pria, ketika sayup-sayup didengarnya suara Wangi dari lorong di luar toilet. Spontan, dihentikannya gerakan, ingin menguping pembicaraan yang dilakukan perempuan berkulit sawo matang itu. Dari celah pintu yang terbuka, diintipnya Wangi yang sedang berdiri di dekat ruang servis, membelakangi pintu toilet.

"Ya, Pak," ujar Wangi kepada seseorang di seberang sambungan teleponnya.

"Kami sangat butuh uang sekarang untuk nikahan Linda dan Wisnu. Berapa saja yang sudah kamu punya, segera kirim ke kami!" pinta Wiryo. 

"Tapi, Pak ...." 

"Selama ini, kami merawatmu, sudah saatnya kamu membalas budi. Toh, ini demi kebahagiaan saudaramu!" potong Wiryo, mengungkit jasanya. Ia kenal betul karakter Wangi yang mudah merasa tidak enak hati.

Wangi menarik napas berat, diterpa keresahan. Ada dorongan untuk mentransfer tabungan yang sudah dimiliki karena ingin mengurangi utang budi dengan keluarga Wiryo. Namun, di sisi lain juga membenarkan pendapat Banyu yang tidak menyarankannya untuk tunduk pada intimidasi keluarga Wiryo. Belum lagi, rasa penasaran dengan pemberian uang dari Pak Gatot.

"Ya, kalau sudah ada uangnya, saya akan transfer, Pak." Hanya itu kalimat yang bisa Wangi lontarkan sebelum sambungan telepon diputus oleh Wiryo. Ia bersandar ke tembok lorong menuju ruang servis dan kamar kecil. Tubuhnya selalu merasa lemas tiap kali memikirkan soal utang yang jumlahnya sangat fantastis itu. 

Walau tak bisa mengetahui apa yang dikatakan oleh orang yang menelepon Wangi, tetapi Aghastyan dapat menduga apa isi pembicaraan dari respons perempuan itu. Digerakan tangan untuk membuka pintu lebih lebar. Namun, gerakannya kembali terhenti begitu mendengar suara lelaki yang sangat dikenalnya.

"Ada apa?" tanya Samudra ketika melihat Wangi yang bersandar lemas. 

Wangi tersentak, segera menegakkan tubuhnya. "Eh ... tidak apa-apa."

Samudra mendekat, lalu bertanya lagi dengan pelan, "Ada masalah apa?" 

Wangi menggeleng. "Hanya capek," dalihnya, sungkan menceritakan permasalahannya.

Samudra memandangi Wangi, matanya mencerminkan kesangsian. "Kita masih berteman baik, 'kan?" tanya Samudra dengan senyum karismatiknya.

Wangi mengangguk.

"Teman saling membantu ketika salah satunya bermasalah, bukan?" tanya Samudra 

Wangi terpaksa tersenyum, benaknya sibuk mempertimbangkan perlu tidaknya bercerita pada Samudra.

"Kamu ada utang?" tanya Samudra dengan nada lembut agar tidak membuat Wangi menarik diri. Sekilas sempat didengarnya kalimat Wangi di akhir sambungan teleponnya.

Tarikan napas panjang terdengar dari hidung Wangi. "Sebenarnya bukan utang." Ia tak punya pilihan selain menceritakan permasalahan yang sedang dihadapinya. "Pak Wiryo dan istrinya–yang mengasuhku sejak bayi–minta uang untuk mengganti biaya hidupku selama bersama mereka."

"Berapa?"

"Seratus delapan puluh juta."

"Sudah ada yang kamu berikan?" tanya Samudra dengan nada tenang, meski agak kaget dengan kepamrihan keluarga yang merawat Wangi.

Wangi menggeleng. "Belum."

"Aku bisa membantu menyediakan dananya kalau kamu perlukan." Samudra menawarkan bantuan, bisa menduga Wangi tak memiliki uang sebanyak itu.

"Terima kasih," ucap Wangi, "tapi tidak perlu, Mas."

"Kenapa?" 

"Menurut Mas Banyu, itu pemerasan."

Meneroka Jiwa 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang