39. Keliru Paham

14.7K 1.4K 360
                                        

"Cabin crew, prepare for landing." Suara pengumuman dari pilot terdengar di pelantang suara, menandakan pesawat sudah berada pada ketinggian 10.000 kaki. Para pramugari pun mulai melakukan persiapan proses pendaratan.

"Mas, katanya momen mau mendarat ini adalah yang paling bahaya, ya?"tanya Wangi cemas. Ia merasakan goncangan kuat pada badan pesawat.

"Paling kritis. Istilahnya critical eleven, sebelas menit yang krusial dalam penerbangan. Tiga menit pertama saat pesawat baru lepas landas dan delapan menit menjelang pesawat mendarat," jawab Banyu.

"Ih, Mas bikin takut!" protes Wangi.

"Lo, kan kamu nanya! Aku jawab apa adanya!" Banyu membela diri.

Wangi cengar-cengir, menyadari kecemasan membuatnya emosional. Ia meremas ujung bawah bajunya.

"Sudah tenang saja. Atur napas." Banyu meraih tangan Wangi. "Tarik napas perlahan, kembungkan perutnya. Tahan ... satu ... dua ... tiga ... empat. Embuskan pelan, kempiskan perutnya." Ia membimbing Wangi melakukan pernapasan perut, jenis pernapasan yang memang terbukti menurunkan ketegangan.

Walaupun sudah terbiasa mengatur napasnya seperti itu, tetapi dalam kondisi teramat cemas seperti ini, arahan dari orang lain sangat membantu.

Banyu mengulangi instruksinya, membantu Wangi mengatur napas agar dapat mengusir cemas menjelang pendaratan.

"Tarik lagi pelan. Tahan ... satu ... dua ... tiga ... empat. Embuskan pelan," ujar Banyu dengan suara menenangkan. "Lewat lubang atas, ya ... jangan lubang bawah! Bau!"

Wangi mengembuskan napas sekali dorongan. Ia mendelik kesal, memukul lengan Banyu. "Iseng banget, sih! Lagi serius, tahu?!"

Banyu tergelak. "Biar tidak tegang!"

Wangi mengerucutkan mulut, antara kesal dan ingin tertawa. "Aku makin takut jadinya!"

"Yuk, diulang! Jangan ngambek, dong!" rayu Banyu, lalu kembali mengulang instruksi. "Tarik napas lagi pelan."

Wangi mengikuti arahan Banyu, menarik napas perlahan, mengembungkan perutnya.

"Tahan ... satu ... dua ... tiga ... terus tahan sampai landing!" Lagi-lagi Banyu jahil.

Wangi patuh, terus menahan napas.

"Ngik!" Banyu mencolek lengan Wangi begitu melihat kekasihnya tidak juga mengembuskan napas. "Sudah diembuskan saja! Jangan kelamaan nahannya!"

Wangi tetap menahan napas, menatap lurus ke layar monitor in flight entertainment di hadapannya.

"Aku tadi cuma bercanda!"

Wangi bergeming, tetap menahan napas.

"Ngik!"

Wangi menoleh ke arah Banyu, lalu membuka mulut lebar-lebar, mengembuskan napas ke muka kekasihya. "Haaah!"

Kepala Banyu mengedik. Bukan cuma kaget karena embusan kencang napas Wangi, tapi juga aroma yang keluar dari mulut. Ia spontan menutup hidung dan mengipas-ngipaskan jemarinya di udara. "Makan apa barusan, sih?"

Wangi tertawa puas melihat ekspresi Banyu. "Makanya jadi orang jangan jahil!"

Ganti Banyu yang cengar-cengir. "Sudah pintar ngerjain orang, ya?!"

Wangi tertawa. "Murid harus lebih cerdas dari gurunya!"

Banyu tergelak. "Tapi manjur, kan? Jadi hilang cemasnya."

Wangi tersenyum, kecemasannya menghilang seketika. Goncangan akibat pesawat menurunkan ketinggian tidak lagi dirasakan. "Eh, Mas ... aku sering dengar orang bilang kayak gini, 'Duit dari Hong Kong?' atau 'Cakep dari Hong Kong?'. Kenapa pakai Hong Kong, ya? Bukan negara lain, China misalnya?"

Meneroka Jiwa 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang