"Tadi lama nunggu, Mas?" tanya Wangi sambil memasang sabuk pengamannya.
"Tidak terlalu, tidak sampai setengah jam," sahut Banyu, mulai menjalankan mobilnya. "Lagi pula ada hiburan saat nunggu."
"Hiburan apa?"
"Infotainment, gosip artis."
"Pasti artis India!" ledek Wangi.
"Bukan, artis Indonesia, kok," jawab Banyu dengan nada serius. "Artis dari Gunung Merbabu!"
"Hah?" Wangi memutar otak, mencoba mengingat siapa artis yang berasal dari Gunung Merbabu. Ia menoleh ke arah Banyu. Selain nada suara yang serius, ekspresi Banyu juga tidak seperti orang sedang bercanda. "Memangnya ada, ya, artis dari Merbabu?"
"Ada," jawab Banyu masih dengan air muka dan nada suara serius. "Gosipnya pacaran sama salah satu bos di kantornya, padahal setahuku dia sudah punya pacar." Ia menoleh sejenak ke arah Wangi dengan tatapan tajam.
Wangi terkesiap, menyadari siapa yang dimaksud Banyu. Teringat ia belum menceritakan perihal ungkapan cinta dari Aghastyan. Dan sekarang, Banyu telanjur mendengar gosip itu entah dari mana. Ia menarik napas panjang. Baru sehari berdamai, sudah kembali berselisih. Hari ini sungguh menguras emosinya.
"Maaf, aku belum cerita kalau kemarin setelah dari rumah sakit, Pak Aghas bilang suka. Aku pikir dia bercanda atau hanya sekadar menghiburku. Lalu, tadi pagi, dia minta aku untuk pura-pura jadi pacarnya."
"Kamu mau disuruh pura-pura?"
"Jelas tidak, lah, Mas!" sanggah Wangi cepat.
"Tidak ada asap tanpa api." Banyu mengungkapkan sebuah peribahasa yang berarti tak ada akibat tanpa sebab. "Tidak mungkin ada gosip kalau tidak ada pemicu."
Wangi kembali menarik napas panjang, harus hati-hati menjelaskan. Banyu sepertinya sangat terusik. "Dia tadi mengajakku bicara di ruang servis. Keluar dari sana, kami berpapasan dengan beberapa karyawan dan dia bilang, 'Terima kasih, Yang.' di depan mereka. Mungkin dari situ gosipnya beredar."
Banyu mendengkus kencang. Dahinya berkerut, ia menghubungkan beberapa kejadian yang tampak janggal.
"Mas marah, ya?" tanya Wangi mendengar embusan kencang napas Banyu.
Tidak ada jawaban dari Banyu.
"Aku memang salah. Seharusnya segera cerita kejadian kemarin, tapi aku tidak mau Mas tambah kesal. Lagi pula aku duga Pak Aghas cuma bercanda, jadi kupikir itu tidak penting."
Banyu masih diam, lurus menatap jalan raya di depannya.
Wangi menggigit-gigit bibir, memikirkan cara merayu Banyu. Perlahan, ia menggerakkan tangan mendekati lengan Banyu. "Maafin aku, ya, Mas," pintanya seraya mengusap lengan kekar Banyu.
Tak ada respons.
"Maaas," rayu Wangi, masih mengusap lembut lengan Banyu, "Jangan marah."
Banyu melirik ke arah Wangi. "Sudah gini doang?" tanyanya ketus sembari menghentikan mobil di antrian lampu merah.
"Iya, memang cuma begitu doang kejadiannya, Mas. Sungguh!" Jantung Wangi berdebar kencang, khawatir kali ini Banyu tak mau memaafkannya.
"Maksudnya, begini doang minta maafnya?" Banyu mengarahkan pandangan ke lengannya yang sedang diusap oleh Wangi. "Mana cukup?"
"Aku harus gimana?" Wangi bingung.
Wajah Banyu yang semula serius berubah jahil. "Minta maafnya pakai ini, dong!" Ia mengerucutkan bibir dengan telunjuk ditempel ke pipinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Meneroka Jiwa 2
RomanceKetika lara akhirnya mempertemukan pada cinta yang dinanti. Kala akhirnya terkuak sang tabir misteri. Apakah hidup akan memberikan kebahagiaan yang hakiki atau hanya kembali menorehkan luka di hati? Kisah ini masih tentang Wangi, anak dari penderita...
