Lavi semringah saat melihat Hilux Hitam berhenti di depan pagar rumah dari kamar jendelanya. Ia bergegas kembali ke tempat tidur, mengondisikan penampilan agar sesuai dengan skenario.
Lima menit kemudian, pintu kamar Lavi diketuk.
"Vi ... buka pintunya, Vi." Terdengar suara Banyu bersamaan dengan ketukan di pintu.
Lavi sengaja tak bereaksi.
"Vi ... buka pintunya, Vi," ulang Banyu lagi bersamaan dengan ketukan di pintu.
Lavi masih tak beranjak.
"Ayolah, Vi! Jangan bikin orang cemas!" Suara Banyu terdengar berusaha membujuk.
Lavi menghitung mundur dari sepuluh.
"Vi ... buka pintunya, Vi," pinta Banyu berbarengan dengan hitungan Lavi mendekati satu.
Lavi mengacak-acak rambutnya sambil berjalan ke arah pintu. Ia sengaja memasang ekspresi kesal saat membuka pintu. "Mau apa ka-"
"Akhirnyaaa!" seru Iwan, Saras, dan Jay berbarengan sebelum Lavi sempat menyelesaikan kalimatnya.
Mata Lavi terbelalak melihat kehadiran tiga orang tersebut. "Mana Banyu?" tanyanya celingukan, yakin betul tadi mendengar suara Banyu.
Saras menyengir lebar seraya memencet rekaman suara di ponselnya. "Vi ... buka pintunya, Vi!" Terdengar suara Banyu dari ponsel tersebut.
"Kalian nipu aku, ya?" Lavi tidak dapat menutupi kegeramannya.
"Bukan nipu, Vi, tapi Banyu tidak bisa ke sini." Jay berusaha menjelaskan.
"Dih, siapa yang nipu siapa, deh?" sindir Iwan mengemu.
Saras menyikut perut Iwan, takut Lavi mendengar sindiran itu yang malah membuat situasi kian keruh.
"Banyu justru khawatir kamu kenapa-kenapa, makanya minta kami cek keadaan kamu," imbuh Saras, mengalihkan perhatian Lavi agar tidak mendengar ejekan Iwan.
"Bilangin sama si berengsek itu, tidak usah pura-pura peduli!" Lavi berusaha menutup pintu, tetapi Saras dan Jay kompak menahan.
"Aku tunggu di ruang tamu, ya!" ujar Iwan kepada Jay dan Saras. Ia mendengkus kesal, menjauh dari kamar Lavi. "Dasar ratu drama!" umpatnya pelan sambil berjalan menuju ruang tamu di lantai bawah.
"Kamu kenapa, Vi? Kata kakakmu, kamu tidak mau keluar kamar seharian." Saras berusaha tidak terpancing emosi dengan sikap Lavi yang menghina saudaranya.
"Aaargh!" Lavi menjerit kencang, lalu berlari masuk kembali ke kamarnya. Hatinya teramat kesal karena rencananya lagi-lagi gagal tereksekusi. Banyu jelas-jelas tidak bisa dimanipulasi, tidak mudah dijebak. Sekarang, ia cuma punya satu solusi, menuntut pertanggungjawaban Aghastyan, padahal ia pun sama sekali tidak mencintai laki-laki itu, tak mau menikah dengannya. Kesal dan sesal bergumul di dadanya, ia pun menangis sejadi-jadinya.
Saras dan Jay berpandangan, kaget dengan jeritan Lavi dan tangisnya yang menderu.
Jay memberi kode kepada Saras untuk mendekati Lavi.
Saras menghela napas. Sebenarnya malas membujuk Lavi, tapi juga khawatir perempuan itu melakukan tindakan nekat. Ia pun memaksa diri untuk mendekati Lavi yang meringkuk di tempat tidur.
"Aku paham kamu terpukul banget dengan kepergian ibumu, Vi." Saras mencoba berempati.
Tangis Lavi kian kencang.
Saras menarik napas panjang, tak punya pilihan selain berada di samping Lavi hingga perempuan ini tenang.
Jay memberi kode kepada Saras bahwa ia akan menunggu di depan kamar. Ia kemudian menutup pintu kamar, memberikan kesempatan kepada Saras untuk menenangkan Lavi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Meneroka Jiwa 2
DragosteKetika lara akhirnya mempertemukan pada cinta yang dinanti. Kala akhirnya terkuak sang tabir misteri. Apakah hidup akan memberikan kebahagiaan yang hakiki atau hanya kembali menorehkan luka di hati? Kisah ini masih tentang Wangi, anak dari penderita...
