Dua puluh menit menjelang jam masuk kantor, suasana di Utama Medika pagi itu belumlah ramai. Beberapa karyawan yang sudah datang terlihat belum mempersiapkan diri untuk memulai rangkaian aktivitas kerjanya. Sebagian ada yang masih asyik berbincang sambil mengunyah sarapan, ada yang sibuk bersolek, ada pula yang menikmati kopi diiringi lagu pada penyuara jemalanya.
Aroma kopi bercampur dengan wangi buttery dan vanila menyeruak dari sebuah ruangan berukuran 30 meter persegi. Rani terlihat sedang berbincang serius dengan Samudra ditemani kopi dan croissant hangat di ruang kerjanya.
"Kamu yakin dengan kebenaran ceritanya?" Rani memandangi wajah Samudra, menyeruput espresonya sambil mencerna cerita keponakannya barusan.
Samudra menggeleng. "Tidak sepenuhnya."
"Apa yang membuatmu ragu?"
Samudra menarik napas panjang. "Di satu sisi, kita sama-sama tahu kelakuan Aghas memang sering di luar logika, tetapi ada inkonsistensi yang kutangkap dari cerita Lavi."
"Inkonsistensi seperti apa?"
"Menurut Lavi, Aghas yang memaksa, bahkan mengancam, agar pernikahan itu terjadi, tapi aku yakin Tante pasti tidak melihat Aghas seperti orang yang memaksakan kehendak saat pernikahan kemarin berlangsung, 'kan?" Samudra memastikan pengamatan tantenya.
Rani manggut-manggut, sepakat dengan pendapat Samudra. Dirinya bahkan harus meyakinkan Aghastyan untuk tidak berubah pikiran di detik-detik terakhir menjelang ijab kabul. "Iya, Aghas justru terlihat sangat tertekan. Buktinya, nyaris salah sebut nama!"
"Dan kuyakin semua yang ada di ruangan itu berpendapat sama." Samudra menghabiskan potongan terakhir croissant-nya. "Yang aku tidak pahami, untuk apa Lavi mengungkapkan kelakuan Aghas, kalau memang benar dia bersekongkol dengan kompetitor. Itu akan merugikan dia juga kalau Aghas sampai kena sanksi, bukan?"
"Dia bilang kan tidak mau perusahaan ini hancur karena banyak orang yang bergantung di sini," sahut Rani, mengulangi cerita keponakannya tadi.
"Tante percaya alasan itu?" Samudra tersenyum masam. Dalam hati kesal karena Lavi seolah menganggapnya anak kecil yang mudah diperdaya dengan alasan semacam itu.
"Yaaah, meskipun itu adalah alasan klise, tetapi kita juga tidak bisa serta merta menuduh Lavi tidak punya nurani." Rani mengulas senyum ke arah keponakannya. "Lebih baik kita fokus menyelidiki keterlibatan Aghas, tidak usah pikirkan alasan Lavi mengungkapkan ini. Itu masalah internal mereka berdua."
Samudra terpaksa menganggukkan kepala, walau masih sangat penasaran dengan alasan Lavi.
"Kamu cerita hal ini ke papamu?" tanya Rani.
Samudra menggeleng. "Aku khawatir Papa malah emosional dan tidak objektif. Dia sudah terlalu sering kesal dengan ulah Aghas."
Rani mengangguk-anggukkan kepala, menyetujui pendapat Samudra. Kakak sulungnya itu selalu kehilangan kesabaran tiap berhadapan dengan keponakan terbengalnya. "Bagus."
"Sebenarnya aku janji pada Lavi tidak akan cerita ke siapa pun, akan menyelidiki ini sendiri, tetapi Astri dan Aghas pasti akan curiga kalau aku banyak bertanya tentang divisi mereka. Aku cuma cerita samaTante dengan pertimbangan Tante yang memimpin investigasi kasus itu dulu, selain karena aku yakin Tante akan bersikap objektif," ungkap Samudra.
"Terima kasih sudah percaya sama Tante. Aku menghargai kamu membagi info ini padaku." Rani tersenyum, lalu mencondongkan tubuh mendekat ke arah Samudra. "Aku dulu berpikir kamu yang akan jadian sama si Lavi. Aku kaget begitu tahu ternyata dia malah nikah sama Aghas."
Samudra tertawa kecil. "Kenapa berpikir gitu?"
"Karena aku jarang lihat kamu makan siang berdua sama perempuan," jawab Rani tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Meneroka Jiwa 2
RomanceKetika lara akhirnya mempertemukan pada cinta yang dinanti. Kala akhirnya terkuak sang tabir misteri. Apakah hidup akan memberikan kebahagiaan yang hakiki atau hanya kembali menorehkan luka di hati? Kisah ini masih tentang Wangi, anak dari penderita...
