26. Cokro Manggilingan

10.6K 1.7K 321
                                        

"Mau lari pagi, Le?" tanya Sudarmi saat melihat Banyu yang baru saja keluar kamar.

"Iya, Mbah, mumpung di sini udara paginya segar."

"Minum teh hangat dulu sini." Sudarmi yang sudah duduk di kursi ruang makan menunjuk teh tubruk hangat yang telah tersedia.

Banyu memenuhi permintaan, menarik kursi di samping simbah putrinya.

"Piye kondisine Sri?" Sudarmi menanyakan kondisi Sri.

"Dirawat di bangsal kejiwaan untuk sementara waktu," jawab Banyu lantas meniup teh hangat yang masih mengepulkan uap.

"Sri gila, ya, Nyu?" Ginem yang sedang menyapu ruang makan ikut nimbrung, ingin memastikan informasi dari Bu RT yang sudah merebak luas.

"Hush! Ojo ngomong koyo ngono, Nem!" tegur Darmi, tak mau Ginem bicara seperti itu. Ia kembali bertanya kepada Banyu, "Siapa yang nunggu?" 

"Wangi, tapi semalam dia tidur di losmen dekat rumah sakit supaya tidak terlalu kelelahan karena hari ini harus balik ke Jakarta."

"Horok, to! Kok, Wangi yang nunggu? Anaknya ke mana?" tanya Ginem penasaran.

"Mungkin Linda masih syok dan Rini nemanin kakaknya," jawab Banyu menduga-duga.

"Halaaah! Sandiworo kabeh! Simboke pura-pura kesurupan, anake pura-pura syok!" cibir Ginem, mencurigai bahwa ibu dan anak itu keduanya hanya bersandiwara.

"Neeem!" tegur Darmi.

"Saestu, Bude!" Ginem tetap yakin akan pendapatnya. "Sri pura-pura kesurupan pasti biar tidak ditagih bayaran. Si Linda sendiri yang cari masalah. Mau nikah, kok, malah tidur sama Dimas! Harusnya kan mikir kalau bisa ketahuan. Lah, kok, pakai syok segala? Dasar wedokan gatel!" Ia mengatai Linda yang seperti perempuan nakal.

Sudarmi hanya bisa geleng-geleng kepala. Ginem sering tak bisa dibendung kenyinyirannya.

Ginem kian semangat. "Dulu Wangi yang anak orang gila tidak diurusi oleh Sri. Uang dari Gatot juga pasti dimakan sendiri, tidak untuk mengurus Wangi dengan baik. Eh ... sekarang Sri malah jadi gila dan Wangi yang ngurus! Dengar-dengar, Wangi juga yang bayarin utang hajatan, yo, Nyu?" 

Banyu mengernyitkan dahi. Dari mana Ginem tahu tentang itu? Seingatnya saat Wangi mengatakan pada Wiryo niatnya untuk membantu, hanya dia yang mendengarnya. Sungguh sebuah berita sangat cepat tersebar.

"Urip kuwi ibarate cokro manggilingan. Hidup itu seperti roda berputar, ada saatnya kita di atas, ada saatnya di bawah sehingga kalau sedang ada di atas tidak boleh lupa diri dan semena-mena. Bisa jadi orang yang kita anggap rendah, yang kita remehkan ternyata sangat kita butuhkan pertolongannya di kemudian hari," sahut Sudarmi menyikapi komentar Ginem.

Sudarmi lalu mengelus kepala cucu lelakinya. "Ingat itu, ya, Le. Ojo adigang, adigung, adiguna! Jangan merasa paling kuat, paling berkuasa, paling pandai! Sangat mudah bagi Gusti Allah untuk menjatuhkan kita kapan pun dengan cara yang paling tidak disangka."

"Ojo kementhus!" timpal Ginem menegaskan maksud Sudarmi agar jangan bersikap sombong. "Kemarin-kemarin Sri dan Linda sombongnya tidak kira-kira, gayanya seperti penguasa desa mentang-mentang Wiryo bekas kepala dusun dan Wisnu calon kades. Sekarang rasakan sendiri. Sri jadi gila, Linda jadi gunjingan se-desa! Mana ada lelaki yang mau sama Linda sekarang, kecuali lelaki tidak benar!" Ia bergidik membayangkan penderitaan keluarga Wiryo, tetapi disertai senyum gembira.

Meneroka Jiwa 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang