Quantum Entanglement : Quantum Love ! (Bagian 2)

23 0 0
                                        

Keesokan Harinya

Pada saat istirahat, Lia langsung mengunjungi tempat di mana ia bisa bertanya apapun mengenai permasalahannya. Sementara itu, ia mengunjungi tempat di Perpustakaan yang menyediakan segala macam pengetahuan yang ada, mulai dari Sekolah Dasar, Menengah maupun Tingkat Lanjut.

"Oh, Lia mau ke mana?" tanya penjaga perpustakaan,

"Mau bertemu dengan Pak Amar, Bu" jawab Lia,

"Dia ada di Pojok Berpikir"

"Di mana ya bu?"

"Masuk ke Perpustakaan dan ada pintu masuk, dan kamu lurus saja. Kemudian, kamu akan bertemu Pak Amar di sana"

"Memangnya Pak Amar selalu ke sana jika selesai mengajar?"

"Iya, jangan heran jika di lorong ada sebuah gambar-gambar bernuansa zaman dulu"

"Baik bu, terima kasih banyak Bu Dewi"

"Iya, sama-sama Lia..."

Lia pun masuk ke Perpustakaan dan kelihatannya anak-anak seumurannya pada belajar biasa-biasa saja, dan mereka pun tidak mengetahui adanya ruangan rahasia dari balik Perpustakaan tersebut. Lia pun memasuki ruangan tersebut dan melihat foto-foto di sepanjang lorong. Kemudian, ia melihat pintu dengan lambang yang paling sederhana.

"Permisi, apakah ada orang di luar?" tanya Lia sambil memegang gagang pintu, dan akhirnya terbuka, ia pun melihat kertas-kertas yang ada dan mereka melihat tulisan-tulisan yang sepenuhnya quotes

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Permisi, apakah ada orang di luar?" tanya Lia sambil memegang gagang pintu, dan akhirnya terbuka, ia pun melihat kertas-kertas yang ada dan mereka melihat tulisan-tulisan yang sepenuhnya quotes. Lia memperhatikan kertas tersebut dengan penuh penasaran dan ia mengambil satu-satu kertas tersebut. Tak lama kemudian, datanglah seseorang dari pintu di hadapan Lia, dan benar saja yang keluar adalah Pak Amar.

"Ada apa Lia?" tanya Pak Amar,

"Tunggu sebentar Pak, apakah ini ruangan bapak?" tanya balik Lia,

"Aku mencintai hutan. Tidak enak tinggal di keramaian: di sana terlalu banyak mereka yang bernafsu." ucap Pak Amar yang melihat salah satu kertas yang di pegang oleh Lia merupakan quotes nya Nietzsche,

"Maksudnya Pak?"

"Saya tidak terbiasa untuk keramaian"

"Jadi selama ini bapak ada di ruangan ini?"

"Iya, dan Selamat Datang di Pojok Berpikir"

"Saya baru paham kenapa bapak lebih sering tidak ada di ruangan guru"

"Apakah kamu tahu dari Bu Dewi?"

"Iyaa"

"Untuk saat ini, kamu menjadi orang yang kedua untuk memasuki ruangan tersembunyi ini"

"Oh iya Pak, Lia baru ingat, apakah bisa bapak menjelaskan kejadian ini. Ketika saya menelpon Radit dan pada saat itu memang tidak memintanya untuk membawa alat-alat untuk membuat maket. Tapi ia datang membawanya padahal aku tidak memintanya"

The Little PhilosopherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang