Pontianak, 10 Januari 2020
Saatnya Keberangkatan
Mereka sudah berada di sekolah, dan sekaligus ingin mengantarkan Pak Amar ke Bandara. Saat ini, Deswita, Radit, Siti dan Lia berkumpul di Pojok Berpikir dan sekaligus mengantarkan Pak Amar bareng ke Bandara Internasional Supadio, Pontianak. Suasana di dalam ruangan bawah tanah tersebut sangat sedih, meskipun mereka hanya ditinggal selama satu bulan saja.
"Selamat Pagi, semuanya" sapa Pak Amar,
"Pagi Pak..." ucap semuanya,
"Loh, kenapa kalian pada sedih di sini?" tanya Pak Amar,
"Sepertinya gak akan seru kalau tidak ada bapak.." ucap Siti,
"Saya hanya satu bulan saja ke luar negeri, Siti. Lagipula, bapak belum sepenuhnya keluar. Satu hal lagi, ada yang ingin bapak minta tolong kepada kalian"
"Apa itu Pak?" tanya Lia,
"Tolong jaga tempat ini dengan baik, karena ruangan ini adalah tempat kita bisa memikirkan banyak hal, dan belajar banyak hal." ucap Pak Amar
"Mungkin pada saat bapak sudah selesai sebulan di sana, kita mungkin akan menambah personil untuk Pojok Berpikir ini" ucap Deswita,
"Iya Pak, aku akan membantu" ucap Lia yang sedikit bersemangat,
"Sebelum itu, saya akan melantik Ketua Pojok Berpikir. Bapak akan melantik Deswita sebagai Ketua, Radit sebagai Wakil Ketua, Lia sebagai Sekretaris dan Siti sebagai Bendahara"
"Baik Pak" ucap semuanya
Pojok Berpikir akhirnya memiliki Ketua yang dipimpin oleh Deswita dan teman-teman nya juga berada di dalamnya. Akhirnya, Taksi pun datang menjemput Pak Amar dan kebetulan guru-guru yang ada melambaikan tangan. Deswita, Radit, Siti dan Lia mulai membuat sebuah rencana untuk recruitment untuk anggota Pojok Berpikir. Untuk saat ini, Radit mengajak beberapa teman-temannya untuk bergabung. Di saat yang sama, Pak Amar yang masih berada di taksi mulai memikirkan apa-apa yang ingin diberikan kepada murid-muridnya. Di saat yang sama, Deswita, Siti dan Lia justru hanya mendapatkan tiga orang saja yaitu Khairan, Rizqy dan Carlos.
"Jadi, kalian mau ikutan dengan kami?" tanya Deswita,
"Baik" ucap Khairan, Carlos dan Rizqy
Walaupun mereka hanya mendapatkan tiga orang saja. Namun berbeda dengan Radit yang memiliki kira-kira dua puluh orang yang mau bergabung kepada Pojok Berpikir. Deswita, Siti dan Lia pun terkejut melihat Radit yang membawa dua puluhan orang.
"Radit, beneran nih?" tanya Deswita,
"Yaa, mereka pada tunduk, jadinya aku recruit aja mereka" jawab Radit,
"Pak Amar pasti akan senang melihatnya" ucap Lia,
"Mari kita ke ruangan bawah tanah dulu"
"Oke"
Semuanya langsung berkumpul untuk memperkenalkan diri mereka di hadapan pengurus Pojok Berpikir. Anggota baru pun memperkenalkan dirinya masing-masing meskipun ada beberapa yang diantaranya yang telah hafal. Di saat mereka masih sibuk untuk memperkenalkan diri, tiba-tiba ada dua orang yang salah masuk ruangan dan ia mengira berada di kelas.
"Permisi, apakah ini kelas 6 ?" tanya seseorang perempuan,
"Kamu siapa?" tanya Lia,
"Namaku Cheryl, dan aku baru pindah dari Jakarta"
"Dan kamu?" tanya Radit,
"Aku Keyta, sama juga dengan Cheryl, aku juga pindahan dari Jakarta"
Mereka pun langsung mengenal satu sama lain, dan tidak ada canggung sedikitpun, begitu juga dengan Radit, yang awalnya begitu serius tetapi ia bisa dibawa santai. Deswita pun langsung memberikan arahan kepada Lia untuk membentuk Struktur Pojok Berpikir. Dua jam kemudian, Lia pun sudah selesai membuat Struktur Kepengurusan Pojok Berpikir.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Little Philosopher
AléatoireTerkadang pengetahuan anak SD hanya terbatas untuk mencari teman, makan-minum dan hiburan bersama dengan teman-temannya. Tetapi berbeda dengan Deswita yang memiliki cara pandang sendiri yang tidak biasa dengan anak SD lainnya. Petualangan pemikirann...
