Matahari terik menyengat jalanan kota yang sibuk. Di balik gedung-gedung megah dan mobil-mobil mewah, tersembunyi lorong-lorong sempit tempat anak-anak jalanan seperti Clara mencari sesuap nasi. Rambutnya kusut, baju lusuh, tapi matanya tajam—seperti elang yang selalu waspada. Clara bukanlah anak yang mudah percaya. Kehidupan keras di jalanan mengajarkannya untuk bertahan dengan caranya sendiri: gesit, kompetitif, dan tak kenal kompromi.
Sementara itu, di sisi lain kota, Jochellya duduk di bangku belakang mobil mewahnya, menatap keluar jendela dengan wajah datar. Kehidupannya serba teratur: sekolah elit, les piano, pesta ulang tahun mewah. Tapi di balik itu, ia merasa terkungkung. Orang tuanya sibuk dengan bisnis, meninggalkannya dengan segudang materi tapi kosong rasa. Satu-satunya pelariannya adalah buku-buku filsafat yang ia sembunyikan di bawah kasur.
Suatu sore, Jochellya memberanikan diri kabur dari sopirnya yang selalu mengawasi. Ia ingin merasakan kebebasan, sekadar berjalan di pasar tradisional yang ramai. Tanpa sadar, ia tersesat ke lorong gelap—tempat Clara dan teman-temannya biasa berkumpul.
"Hei, anak gedongan! Ini bukan tempatmu!" teriak salah seorang anak jalanan sambil mendorong Jochellya. Tasnya direbut, perhiasan di lehernya dicongkel. Jochellya panik, berlari tanpa arah. Di tengah pelarian, ia tak melihat truk bermuatan berat melaju kencang dari tikungan.
"AWAS!"
Suara itu melengking seperti pisau. Sebelum Jochellya menyadarinya, tubuh Clara menyambar, menariknya dengan kasar ke tepi jalan. Truk itu nyaris menggilas mereka berdua. Napas Jochellya tersengal, jantungnya berdegup kencang. Ia memandang Clara yang masih menggenggam lengannya erat—tangan yang penuh luka, tapi hangat.
"Kamu gila? Jalan sini bahaya buat orang sok pemberani kayak kamu!" hardik Clara, tapi matanya khawatir.
Jochellya gemetar. "Aku... aku cuma ingin lihat dunia nyata."
Clara mengerutkan kening. "Dunia nyata? Ini bukan taman bermain. Pulanglah sebelum kau celaka beneran."
Tapi Jochellya tak bergerak. Ia melihat sekeliling: anak-anak seusianya mengais sampah, berkelahi untuk sepotong roti. Sesuatu di hatinya teriris. "Aku... bisa ikut bantu kalian?"
Clara tertawa getir. "Bantu? Dengan apa? Uangmu? Kami butuh makan, bukan belas kasihan!"
Tapi Jochellya tak menyerah. Hari berikutnya, ia kembali dengan nasi bungkus dan pakaian bekas. Clara awalnya menolak, tapi melihat teman-temannya lahap menyantap makanan, ia akhirnya menghela napas. "Kau bandel juga. Namaku Clara."
"Jochellya," balasnya sambil tersenyum kecil.
Seiring waktu, Jochellya jadi tamu tetap di lorong itu. Clara mengajarinya bertahan: cara nawarin koran, menghindar dari preman, bahkan berkelahi. Jochellya, yang awalnya canggung, mulai paham arti "perjuangan". Tapi suatu malam, segalanya berubah.
"Jochel! Ayo cepat, kita harus pergi!" Clara menariknya masuk ke gubuk reyot saat hujan deras mengguyur. Badai membuat atap bocor, air merembes ke lantai. Jochellya menggigil, tapi Clara malah melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh Jochellya. "Kau nggak biasa kedinginan kayak gini. Pakai ini."
"Tapi kamu—"
"Diam! Aku kuat," potong Clara. Tapi di kegelapan, Jochellya melihat bibir Clara membiru.
Keesokan pagi, Jochellya pulang dengan demam tinggi. Orang tuanya marah besar. "Kau main dengan sampah masyarakat? Tidak boleh lagi!" ayahnya menghardik. Tapi Jochellya memberontak. "Clara bukan sampah! Dia lebih keluarga daripada kalian!"
Malam itu, ia kabur lagi—kali ini dengan tekad bulat. Ia menemukan Clara yang sedang menggigil di sudut lorong, batuk-batuk parah. "Aku bawa kamu ke rumah sakit," desak Jochellya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Little Philosopher
De TodoTerkadang pengetahuan anak SD hanya terbatas untuk mencari teman, makan-minum dan hiburan bersama dengan teman-temannya. Tetapi berbeda dengan Deswita yang memiliki cara pandang sendiri yang tidak biasa dengan anak SD lainnya. Petualangan pemikirann...
