Keesokan harinya, suasana di SDN 05 Pontianak Utara terasa lebih mencekam bagi Clara dan Jochellya. Bukan karena ancaman preman luar, melainkan karena selembar amplop putih yang tergeletak di meja kelas mereka pagi itu.
Di amplop itu terdapat stempel lilin merah bergambar "Otak dan Lampu"—lambang resmi Pojok Berpikir.
"Surat Panggilan," bisik Jochellya, tangannya sedikit gemetar. "Dari Sekretaris Lia."
Clara menelan ludah. "Gara-gara kejadian kemarin sore?"
"Pasti. Deswita punya mata-mata di mana-mana. Ingat kan kata Radit? Dia Wakil Ketua, tapi Deswita tetaplah Ratunya."
Saat jam istirahat berbunyi, mereka tidak ke kantin. Dengan langkah berat, mereka menuju perpustakaan, menyelinap ke balik rak sejarah, dan menekan tuas rahasia menuju markas bawah tanah.
Suasana di dalam markas Pojok Berpikir berbeda seratus delapan puluh derajat dari saat latihan. Tidak ada matras, tidak ada suara tawa.
Di ujung ruangan, di balik meja besar kayu jati, duduklah Deswita. Ia mengenakan kacamata bacanya, tatapannya tajam menatap dokumen di depannya. Di sebelah kanannya, Lia (Sekretaris) berdiri siap dengan pena dan buku catatan. Di sebelah kirinya, Siti (Bendahara) sedang menghitung uang kas, tapi matanya melirik sinis ke arah pintu.
Radit berdiri bersandar di tembok gelap di sisi kanan ruangan, melipat tangan di dada. Wajahnya datar, tidak bisa ditebak.
Dan Pak Amar? Sang guru honorer itu duduk santai di kursi goyangnya di sudut ruangan, agak jauh dari meja sidang. Ia sedang membaca koran sambil menyeruput kopi hitam, seolah-olah ia hanyalah ornamen ruangan yang tidak terlibat. Namun, Clara tahu, Pak Amar sedang mengawasi ujian kepemimpinan murid-muridnya.
"Duduk," perintah Deswita. Suaranya tenang, tapi memiliki aura otoritas yang membuat lutut Clara lemas.
Clara dan Jochellya duduk di dua kursi kayu kecil di tengah ruangan, persis seperti kursi terdakwa.
"Sekretaris Lia, bacakan laporannya," kata Deswita tanpa mengangkat wajah dari dokumennya.
Lia membuka buku catatannya. "Laporan Insiden Nomor 045. Tanggal: Kemarin sore. Lokasi: Gang Sempit Jln. Khatulistiwa. Terlapor: Radit (Wakil Ketua), Clara (Calon Anggota), Jochellya (Calon Anggota). Kronologi: Terlibat perkelahian fisik dengan tiga siswa SMP. Metode penyelesaian: Tendangan lutut, teknik gulingan, dan... serangan pasir ke mata."
Lia menutup bukunya. Hening sejenak.
"Radit," panggil Deswita dingin.
Radit menegakkan badannya. "Hadir, Ketua."
"Kamu Wakil Ketua. Pak Amar mendirikan tempat ini untuk melatih otak, bukan otot. Kenapa kamu menyeret dua calon anggota baru ke dalam tawuran jalanan?"
"Koreksi, Ketua," potong Radit tenang. "Itu bukan tawuran. Itu Self-Defense. Pertahanan diri. Mereka dihadang. Kalau aku nggak ngajarin mereka jatuh kemarin, Jochellya mungkin masuk rumah sakit hari ini."
"Kenapa tidak lapor guru? Kenapa tidak lari?" cecar Deswita, suaranya mulai meninggi. "Kita ini filsuf muda, Radit! Senjata kita dialektika, bukan batu bata! Kalau sekolah tahu anggota Pojok Berpikir berantem di jalan, markas ini bisa ditutup!"
Deswita melirik ke arah Pak Amar, berharap gurunya itu mendukungnya. Tapi Pak Amar hanya membalik halaman korannya dengan tenang, srek, tidak berkomentar apa-apa. Deswita sadar, ini ujiannya. Ia harus menyelesaikan ini sendiri.
Radit berjalan maju selangkah. "Di atas kertas, kamu benar, Des. Tapi di jalanan, logika Aristoteles nggak laku kalau ada kayu singkong melayang ke kepalamu. Aku cuma ngasih mereka bekal bertahan hidup. Itu Realisme."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Little Philosopher
AcakTerkadang pengetahuan anak SD hanya terbatas untuk mencari teman, makan-minum dan hiburan bersama dengan teman-temannya. Tetapi berbeda dengan Deswita yang memiliki cara pandang sendiri yang tidak biasa dengan anak SD lainnya. Petualangan pemikirann...
