Pontianak, 14 Februari 2020
Di Sekolah
"Ngomong- ngomong, kenapa sekolah tiba-tiba berubah?" tanya Deswita yang baru sadar ketika sekolahnya sudah ada balon-balon hati yang berwarna putih dan merah muda,
"Hah? Kamu benar-benar ngantuk?" tanya Cheryl,
"Sepertinya, Iya deh. Apalagi kemarin aku mengalami mimpi buruk" ucap Deswita yang menjawabnya masih terlihat ngantuk,
"Hari ini kan Hari Valentine, dan kebetulan kita di Sekolah ada merayakan sebuah acara untuk memperingati hari tersebut"
"Begitukah? Terakhir kali kapan ya sekolah kita merayakan hari tersebut?" tanya Deswita,
"Ha?" ucap Lia yang juga terkejut dengan sekolahnya yang berubah drastis,
"Jangan-jangan kamu juga tidak tahu, Lia" ucap Cheryl,
"Beneran, aku nggak tahu soal ini" jawab Lia,
"Sepertinya, ini dilakukan pada saat Sore atau Malam hari" ucap Cheryl,
"Sepertinya kita harus masuk ke kelas kita terlebih dahulu"
Deswita, Cheryl dan Lia pun memutuskan untuk pergi ke kelas terlebih dahulu karena khawatir mereka akan terlambat karena terkejut melihat sekolahnya yang berubah drastis. Meskipun Deswita sudah berada di kelas, ia masih mempertanyakan mimpinya yang membuatnya tidak bisa tidur dan kelihatannya ia benar-benar takut bahwa kejadian tersebut terjadi di hadapannya sendiri. Lia pun mengajak Deswita untuk pergi ke depan kelasnya sebentar karena Lia ingin berbicara empat mata dengan Deswita.
"Deswita, kamu kenapa?" tanya Lia yang sedikit aneh dengan muka Deswita yang sedikit murung,
"....." Deswita yang hanya bisa terdiam termenung,
"Kamu kenapa, Deswita?" tanya Lia yang sedikit khawatir dengan Deswita,
"Aku tidak apa-apa, Lia" ucap Deswita,
"Tidak mungkin, apakah kamu memiliki masalah?"
"Sebenarnya... Iya" ucap Deswita yang penuh berat hati untuk menyampaikan sesuatu,
"Ada apa, Ayo cerita ke Lia" ucap Lia,
"Entah kenapa aku tidak bisa tidur kemarin, dan kebetulan juga aku bermimpi melihat dirimu yang menunjukkan jalan yang tidak lain adalah kematianmu..." ucap Deswita sambil menangis,
"Des... Kamu tidak perlu khawatir" ucap Lia yang memeluk Deswita dan mencoba memberikan semangat,
"Aku takut jika itu terjadi..."
"Jika itu memang terjadi, perlu kamu harus ketahui bahwa aku akan selalu berada disampingmu, meskipun aku sudah tidak ada" ucap Lia yang membuat Deswita menangis dan selanjutnya ia memeluk Lia dengan erat.
"Sudah, jangan bersedih lagi"
"Tapi—" ucap Deswita tapi terlanjur dipotong Lia
"Apapun yang terjadi kita adalah Saudara meskipun bukan Sedarah" ucap Lia,
"Terima kasih, Lia."
Meskipun Pak Amar sebenarnya ada di belakang mereka, tetapi Pak Amar mengurungkan diri untuk memanggil mereka dan ia pun langsung pergi.
"Kalau itu yang terjadi, maka aku bersiap-siap untuk menggantikan posisinya, aku tidak boleh membiarkan daun yang hijau jatuh terlebih dahulu sebelum waktunya" ucap Pak Amar di dalam hatinya sambil berjalan ke ruangan bawah tanah.
Pak Amar pun masuk ke ruangannya yang ada di bawah tanah, dan sambil membaca buku Psikologi Kematian : Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme. Ia pun teringat kembali kepada Ayah, Ibu dan teman-teman yang telah rela mengorbankan dirinya agar supaya Pak Amar bisa hidup. Bahkan jika memang Lia akan mati dibunuh oleh seseorang, maka Pak Amar sudah bersiap untuk mati untuk melindungi muridnya, bahkan tidak hanya Lia, tapi juga Deswita, Siti dan siapapun yang diteror. Kemudian, Pak Amar langsung mencoba untuk memejamkan mata di tempat duduk sofanya. Lima belas menit kemudian, Pak Amar pun bermimpi bertemu dengan Ayah, Ibu dan teman-teman yang melindunginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Little Philosopher
RandomTerkadang pengetahuan anak SD hanya terbatas untuk mencari teman, makan-minum dan hiburan bersama dengan teman-temannya. Tetapi berbeda dengan Deswita yang memiliki cara pandang sendiri yang tidak biasa dengan anak SD lainnya. Petualangan pemikirann...
