Jakarta, 11 Februari 2020
Bandara Internasional Soekarno Hatta
Pukul 20.50 WIB
Terdengar suara pemberitahuan yang biasanya menandakan yang akan pergi menggunakan pesawat. Kali ini Pak Amar baru sampai di Jakarta dari Transit Luar Negeri, dan mesti berangkat lagi ke Pontianak untuk sampai di rumahnya. Kemudian, ia mendapat telpon dari Fahri dan Amar pun langsung mengangkatnya
"Halo" ucap Pak Amar,
"Hei, Amar. Apakah kamu sudah sampai di Indonesia?" tanya Fahri,
"Iya, aku sudah sampai di Jakarta lebih tepatnya"
"Jakarta? Syukurlah. Berarti saat ini lagi menunggu pesawat ke Pontianak?"
"Iya benar, tapi ngomong-ngomong aku duluan ya, karena mau check in boarding pass dulu nih"
"Oke, semoga sehat selalu"
"Aamiinn..."
Suara tanda pemberitahuan pun berbunyi kembali
"Penumpang yang terhormat, Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 152 Tujuan Pontianak dipersilahkan untuk naik ke pesawat udara, terima kasih"
"Oke, sekarang giliran kita untuk berangkat lagi ke Pontianak"
Dengan sedikit berlari, Pak Amar mulai mengejar pesawat yang sudah memulai masa boarding pass padahal waktunya hanya tinggal 15 menit lagi untuk menuju ke Pesawat. Tak sampai delapan menit, Pak Amar sudah sampai di depan gerbang boarding pass dan langsung pengecekan tiket pesawat yang ia punya. Namun uniknya, hanya tinggal dirinya saja yang belum masuk ke pesawat, dan langsung bergegas pergi ke pesawat. Untungnya, Pak Amar telah sampai di pesawat dan tinggal menikmati perjalanan yang ada.
Pukul 22.15 WIB
Di Pontianak
Akhirnya, pesawat yang ditumpangi oleh Pak Amar telah sampai di Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya. Pak Amar seketika melepas rindu saat sudah sampai di Pontianak. Tapi dirinya lupa, kalau ia juga tidak memiliki orang tua yang sudah meninggal. Tapi ia hanya bisa melepas rindu dengan mengenang kembali masa-masa dirinya saat masih kecil bersama dengan orang tuanya. Ia membayangkan ketika ia bermain bersama dengan Ayah dan Ibunya saat itu, belajar bersama dengan mereka dan bertamasya bersama. Namun, ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya sudah menjadi Yatim Piatu dan berusaha untuk hidup tidak hanya sebagai Guru juga sebagai Pembina dari Ekstrakurikuler yang baru yaitu Pojok Berpikir. Pak Amar pun sudah sampai di rumah dan langsung mengemasi barang-barangnya. Dia pun membawa oleh-oleh dari Belanda untuk beberapa anak-anak muridnya di Pojok Berpikir.
"Setidaknya, ini sudah menjadi bagian kehebohan di Ekstrakurikuler" ucap Pak Amar sambil menaruh barang-barang yang ia akan berikan kepada anak-anak binaannya
Pontianak, 12 Februari 2020
Pukul 06.00 WIB
Di Sekolah
Pak Amar pun disambut oleh Anggota Pojok Berpikir yang saat ini sudah mencapai lebih dari dua puluh. Ia pun terkejut bahkan tidak menyangka bahwa Komunitas yang ia bangun menjadi Ekstrakurikuler. Pak Amar tanpa basa basi memberikan hadiah oleh-oleh kepada anak-anak binaannya. Deswita mendapatkan Baju Tradisional Belanda yang unik, sedangkan Siti mendapatkan Miniatur Kincir Angin yang menjadi khas dari Belanda. Adapun Lia yang mendapat Bunga Tulip yang membuatnya sangat senang, karena dahulu yang ia inginkan akhirnya tercapai juga, meskipun lewat Pak.
"Selamat Datang kembali, Pak Amar" ucap Deswita
"Terima kasih, tapi ramai banget ya.." ujar Pak Amar yang agak terkejut
"Sekarang ini, Pojok Berpikir sudah menjadi Ekstrakurikuler, dan kami selalu berharap ada yang bergabung lagi"
"Begitukah? Baiklah. Kalian sudah bekerja keras sebulan ini. Maka dari itu, mari kita makan Kue dan minum Teh Tradisional Belanda"
"Yeah!"
Pak Amar mengajak mereka untuk Makan dan Minum terlebih dahulu di tempat Pojok Berpikir yang diikuti oleh anggota lainnya. Tapi, ia tidak melihat Radit dan ia pun menanyakan kepada Deswita. Adapun Deswita tidak mengetahui sama sekali keberadaan Radit selama tiga hari ini, bahkan Siti dan Lia juga tidak mengetahui. Tapi, Pak Amar selalu berharap ia dalam keadaan baik-baik saja.
Acara makan dan minum pun di mulai, mereka mulai antusias dalam menikmati Kue dan Teh dari Belanda tersebut, bahkan mereka hanya memakan sedikit demi sedikit kue tersebut karena tidak ingin kehilangan kue tersebut, dan juga ia meminum teh yang unik dari Belanda dan sama seperti sebelumnya, mereka tidak ingin menghabiskan, tapi ia minum perlahan sedikit demi sedikit. Mereka pun menikmati Euforia dari acara tersebut dan mereka tidak ingin berpindah ke kelas sebelum ia menikmati oleh-oleh dari Pak Amar.
"Pak Amar, kenapa selama sebulan ini, bapak tidak hadir?"
"Bapak ke Belanda terlebih dahulu untuk mengurus sekolah di sana"
"Hah? Bapak bakal sekolah ke Belanda? tanya seorang murid,
"Iya, nanti setelah kalian lulus, dan bapak akan berangkat ke Belanda"
"Yaah... gak bisa ngajar adik saya dong?"
"Hahaha, dasar kalian. Paling tidak, kita nikmati terlebih dahulu sebelum akhirnya kita perpisahan nantinya" ucap Pak Amar tertawa mendengar kata-kata muridnya,
"Kapan, bapak bakal berangkat lagi ke sana?" tanya Lia,
"Kira-kira bulan September, tapi saat itu masih belum kuliah karena masih ada yang mesti diurus seperti izin tinggal dan lain sebagainya"
"Berarti, setelah kami lulus baru bapak pergi ya?"
"Begitulah, kalian melanjutkan sekolah kalian pada jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan saya akan berkuliah di Luar Negeri"
"Yaah, sepertinya kita tidak akan bertemu lagi dengan Bapak..." ucap Siti yang sedikit sedih tentang keberangkatan Pak Amar,
"Mari kita buat janji, kita akan bertemu kembali dalam waktu 10 tahun lagi, bagaimana?" tanya Pak Amar,
"Aku setuju, Pak. Setidaknya, aku minta bapak untuk datang ke Pernikahanku nanti" ucap Lia,
"Hahaha, Semoga Tuhan memberikan saya umur yang panjang, agar saya bisa datang menghadiri pernikahanmu nanti"
"Amin"[]
KAMU SEDANG MEMBACA
The Little Philosopher
RastgeleTerkadang pengetahuan anak SD hanya terbatas untuk mencari teman, makan-minum dan hiburan bersama dengan teman-temannya. Tetapi berbeda dengan Deswita yang memiliki cara pandang sendiri yang tidak biasa dengan anak SD lainnya. Petualangan pemikirann...
