Pria berjubah tersebut pada akhirnya memulai pertarungan dan Radit memulai dengan gerakan bertahan. Pria jubah tersebut mulai mengeluarkan tendangan yang membuat Radit sedikit terpental ke belakang. Radit pun memulai serangan, dan pria berjubah tersebut bisa menghindari serangan-serangan yang dilancarkan oleh Radit. Meskipun demikian, pria berjubah hitam tersebut terkena tendangan dari Radit yang membuatnya kewalahan saat topengnya hampir terlepas.
"Ternyata lumayan juga ya untuk seorang anak SD?" ucap pria berjubah hitam sambil sedikit memuji
"Memang kamu pikir aku siapa?"
"Ini akan sangat menarik, wahai anak muda"
"Suara itu –" ucap Radit yang barusan tersadar dan ia sudah ditendang oleh orang tersebut,
Radit pun terlempar jauh dan ia sendiri tidak pernah menyangka bahwa ia akan berhadapan dengan orang yang lebih hebat daripada dirinya. Walaupun demikian, Radit tidak memiliki cukup waktu untuk meladeni. Dikarenakan pria berjubah hitam tersebut menghajarnya habis-habisan yang membuat Radit hanya bisa bertahan.
"Tch, jika seperti ini. Aku mungkin akan kehabisan tenaga hanya untuk melawan dia seorang. Aku harus perlu cara lain untuk melawannya" ucap Radit yang keluar dari bawah kaki pria berjubah hitam.
Radit pun mulai memikirkan kembali bagaimana cara melawannya, ia pun menggunakan taktik melempar batu yang membuatnya harus menghindar. Tetapi, Radit memanfaatkan hal tersebut untuk menyerang balik dan akhirnya ia pun bisa mengenai pria berjubah tersebut. Radit pun harus memikirkan kembali bagaimana cara bisa membuka topeng tersebut, tetapi ia pun terlambat karena ia dicekik dan dilemparkan yang selanjutnya Radit mendapat jurus tendangan dari si pria berjubah hitam.
Adapun Radit, harus mengeluarkan darah di mulutnya, yang membuatnya merasa kesakitan. Adapun tembok sekolah tersebut langsung retak dan mengeluarkan suara yang begitu keras hingga membuat terdengar di sebagian tempat. Hal ini juga membuat Siti dan Cheryl langsung bergegas melihat kejadian tersebut.
"Kamu masih belum ada apa-apanya denganku, Radit"
"Darimana kau tahu nama–" ucap Radit yang terpotong saat pria berjubah hitam mengeluarkan bom asap yang sontak membuat area tersebut diselimuti asap.
"Tch, dia kabur, bagaimanapun aku harus mengejarnya" ucap Radit,
"Tak perlu bodoh!" ucap Siti yang sudah berada di sisi kiri Radit,
"Sial... aku hanya perlu bertarung dengan orang itu"
"Sudah Radit, kamu masih dalam keadaan yang kacau, apalagi ini adalah area sekolah" ucap Cheryl yang mengingatkan Radit,
"Betul juga, kalau di luar mungkin aku akan kejar sampai dapat" jawab Radit yang memilih untuk menyusun kembali rencana untuk mengejar pria berjubah tersebut.
Di saat yang sama, Deswita dan Lia menyadari adanya asap yang ada di sisi sekolah. Mereka pun langsung pergi mencari tahu apa penyebabnya. Akhirnya, Deswita dan Lia bertemu dengan Siti, Cheryl dan Radit, kemudian mereka melihat tembok kelas 6 yang retak. Mereka pun langsung panik dengan Radit yang keadaannya sudah berantakan.
"Radit, kamu berantem?" tanya Lia,
"Aku sepertinya menemukan seseorang yang kita cari" ucap Radit,
"Maksudmu? dalang dari tulisan itu?" tanya Deswita,
"Iya, tidak salah lagi. Dia memakai jubah hitam dan menggunakan topeng" jawab Radit,
"Kamu tidak apa-apa Radit?" tanya Lia yang agak khawatir,
"Kamu tidak perlu khawatir, Lia" jawab Radit,
"Bagaimana dengan bagian belakangmu, pasti sakit ya"
"Ini masih lebih mendingan daripada yang sebelumnya. Aku yakin ia memiliki rencana yang tidak bisa kita kira sebelumnya"
Tak lama kemudian, ada yang datang membantu pengobatan Radit. Tak disangka, Elicia pun datang menghampirinya dengan membawa peralatan kesehatan yang terbilang lengkap untuk anak sekolah dasar.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Elicia,
"Seperti yang anda lihat" jawab Radit,
"Kalau begitu, aku akan memeriksakan bagian belakangmu" ucap Elicia seraya memeriksa keadaan tubuh belakangnya Radit,
"Elicia..." ucap Lia yang sedikit gemetaran,
"Radit, dibagian belakangmu sedikit tergeser, ini perlu dibenarkan lagi tulangnya"
"Tergeser...!" ucap semua yang ada di sekeliling Radit,
"Sepertinya aku perlu bantuan kepada orang yang lebih gede untuk melakukan sedikit kretek di bagian belakangnya. Apa ada di antara kelasmu yang memiliki postur tubuh yang besar?" tanya Elicia kepada Lia,
"Sepertinya, aku mengenali sosok itu" ucap Lia yang teringat,
"Pasti yang kamu ingin sebut adalah Sulistyo kan?" ucap Cheryl
"Benar sekali"
Cheryl pun segera untuk memanggil Sulistyo yang kebetulan sedang berada di kelas. Sedangkan Radit, ia pun akhirnya menyadari ada yang tidak beres dari badan belakangnya. Ia pun merasa tidak berdaya untuk berdiri bahkan untuk duduk sekalipun. Cheryl pun sudah memanggil Sulistyo dan mereka pun langsung melakukan pertolongan pertama untuk dilakukan kretek.
"Sulistyo, apa kamu pernah melakukan gerakan kretek-kretek? tanya Elicia,
"Aku pernah melakukan itu sih, tapi aku masih belum mengerti" jawab Sulistyo,
"Baiklah kalau begitu, apa kamu bisa mengurutkan badan belakangnya Radit?"
"Sepertinya bisa"
"Ini dilakukan agar Radit bisa mendapatkan posisi yang sangat rileks dan pada saat melakukan kretek ia tidak akan merasakan sakit yang parah"
"Tumben banget kalau kamu mau membantu orang seperti ini, Sulistyo?" tanya Radit,
"Lagipula, aku di sini hanya untuk membantu saja"
"Baiklah..."
Elicia membantu Sulistyo untuk memberikan petunjuk terkait tulang apa saja yang perlu disembuhkan. Meskipun Radit berteriak kesakitan, ia masih bisa mempertahankan nafasnya yang begitu besar untuk mengeluarkan suara kesakitannya. Tak lama kemudian, datanglah seorang perempuan yang sepertinya ingin melihat orang yang diberi pertolongan tersebut.
"Ternyata, yang katanya orang nomor satu berkelahi bisa modar juga ya" ujar anak perempuan yang mengejek Radit,
"Tch, kau hanya bisa mengejek saja." ucap Radit,
"Apakah masih sakit?" tanya Elicia,
"Lumayan..." jawab Radit yang sedikit loyo,
"Rupa-rupanya kelasku menjadi rusak karena ini orang"
"Kalau seperti itu, aku minta maaf atas kelasmu"
"Tidak ada kata maaf untukmu. Kalau kau memang benar-benar petarung tangguh, ayo kita selesaikan di sini"
"Baiklah... Elicia, terima kasih atas bantuanmu. Aku tidak akan pernah melupakan bantuanmu ini"
"Clara, berhenti" ucap seorang perempuan yang memanggil,
"Dia perlu diberi pelajaran Jochellya, katanya petarung andal. Mari kita buktikan di sini" ucap seseorang bernama Clara,
"Kamu tidak pernah tahu, kalau dia sangat berbahaya" ucap Jochellya yang memperingatkan Clara betapa berbahayanya Radit,
"Jochellya, tolong beri aku kesempatan untuk menghajar orang ini" ucap permohonan Clara,
"Kamu sungguh-sungguh menghadapi Clara, Radit? Dia itu adalah Juara Nasional Karate" tanya Lia,
"Mau beladiri apapun, akan aku ladeni" jawab Radit,
"Menarik, ini akan menjadi pemanasan untuk turnamen Internasional ku" ucap Clara,
"Baiklah, ayo kita mulai"
Clara pun memulai terlebih dahulu dan mengeluarkan tendangan yang membuat Radit mesti menangkis tendangan tersebut. Meskipun demikian, Radit tetap terpukul mundur dari tendangan tersebut yang membuat Radit sedikit tersenyum.
"Boleh juga" ucap Radit sambil mengeluarkan tendangan yang kurang lebih sama seperti Clara,
"Hmmm... tendangan itu mirip dengan tendangan khas karate, tapi apa itu adalah tendangannya yang sebenarnya" ucap Clara di dalam hatinya yang tidak sadar tendangan tersebut adalah tipuan yang mengarahkan ke arah kepalanya,
"Kena kau!" ucap Radit saat mengarahkan tendangan ke kepala Clara,
"Tch, hampir saja aku tertipu dengan tendangan itu" ucap Clara yang berhasil menangkis tendangan Radit dengan satu tangan yang membuat Clara juga ikut terpukul mundur,
"Ternyata, kamu bisa menangkis tendangan tipuanku rupanya. Aku akui kamu memang hebat" ucap Radit yang memuji ketahanan tangan Clara,
"Padahal, kamu baru saja merasakan kesakitan. Tetapi kamu benar-benar monster ya, Radit" ucap Clara yang membuat Radit lebih berfokus untuk menghadapi Clara.
Pertarungan antara Radit dan Clara baru saja dimulai, setelah Radit mendapatkan pertolongan pertama dan langsung bertarung melawan Clara. Suasana anggota kelas berubah menjadi tegang karena Clara mewakili kelas A sedangkan Radit mewakili kelas B. Siapakah yang akan menjadi pemenangnya? Apakah Radit atau mungkin Clara?[]
KAMU SEDANG MEMBACA
The Little Philosopher
RandomTerkadang pengetahuan anak SD hanya terbatas untuk mencari teman, makan-minum dan hiburan bersama dengan teman-temannya. Tetapi berbeda dengan Deswita yang memiliki cara pandang sendiri yang tidak biasa dengan anak SD lainnya. Petualangan pemikirann...
