Variabel X

1 0 0
                                        

Matahari pagi bersinar terik menyinari SDN 05 Pontianak Utara, namun suasana di dalam gerbang sekolah terasa mendung. Bukan mendung karena awan, melainkan mendung karena ketakutan yang merambat pelan.

Desas-desus sudah menyebar cepat seperti api di padang rumput kering.

"Eh, kamu dengar nggak? Nilai ulangan Matematika kelas 6 hilang semua di komputer Pak TU!" bisik seorang siswa di koridor. "Iya! Katanya kena virus. Jangan-jangan kita nggak lulus?"

Di tengah keriuhan panik itu, lima orang siswa berjalan beriringan dengan formasi yang tidak biasa. Deswita berjalan paling depan, langkahnya tegas, kacamata-nya memantulkan cahaya matahari. Di sisi kanannya ada Radit, yang hari ini tidak terlihat mengantuk, matanya tajam menyapu setiap sudut sekolah. Di sisi kirinya ada Siti yang mendekap laptopnya erat-erat, dan Lia yang membawa buku catatan.

Di barisan belakang, Clara dan Jochellya—anggota terbaru yang baru saja dilantik semalam—berjalan bersisian. Di kerah baju seragam putih mereka, tersemat pin kecil bergambar lampu dan otak yang berkilau samar.

"Jam berapa sekarang?" tanya Deswita tanpa menoleh.

"Sebelas lewat empat puluh lima," jawab Radit sigap. "Lima belas menit menuju deadline X."

"Ruang Guru pasti sepi sekarang. Semua guru sedang rapat di Aula Utama untuk membahas masalah nilai yang hilang itu," analisis Deswita. "Ini bukan kebetulan. X sengaja mengatur waktu ini agar Ruang Guru kosong. Dia ingin arena bermain yang privat."

Mereka berbelok ke lorong sayap kiri, area yang jarang dilewati siswa saat jam istirahat karena dekat dengan gudang tua dan toilet yang konon angker.

"Jantungku mau copot," bisik Jochellya pelan, tangannya meremas rok merahnya. "Kak Clara, gimana kalau X itu bukan murid? Gimana kalau dia orang jahat beneran?"

Clara menepuk punggung tangan adiknya. "Tenang, Jo. Ingat latihan kita. Kalau dia macem-macem, aku punya teknik bantingan baru. Lagian ada Radit. Preman pasar aja takut sama dia, masa hacker kurus berani?"

Radit yang mendengar itu hanya mendengus pelan. "Jangan remehkan orang pintar, Clar. Orang pintar bisa membunuhmu tanpa menyentuhmu."

Mereka tiba di persimpangan lorong. Di ujung sana, pintu Ruang Guru yang terbuat dari kayu jati tua tampak tertutup rapat. Di sebelahnya, ada pintu gudang arsip yang sedikit terbuka, menampakkan kegelapan di dalamnya.

"Siti, cek sinyal," perintah Deswita. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti.

Siti membuka laptopnya di atas lutut, mengetik cepat. Layar menampilkan grafik gelombang hijau.

"Sinyal Wi-Fi di sini kuat banget, Des," lapor Siti dengan dahi berkerut. "Ada traffic data yang besar. Seseorang sedang mengunduh sesuatu dari server sekolah. Lokasinya..."

Siti menunjuk lurus ke depan.

"...di dalam Ruang Guru."

Deswita mengangguk. Wajahnya keras. "Radit, kamu dan Clara ambil pintu belakang Ruang Guru. Kunci semua akses keluar. Lia, kamu jaga di sini, kalau ada guru yang datang, kasih kode batuk tiga kali."

"Siap," jawab Lia gugup.

"Aku, Siti, dan Jochellya akan masuk lewat pintu depan," lanjut Deswita. Ia menatap Jochellya. "Jo, kamu siap? Kamu adalah 'Jangkar' kami. Kalau negosiasi gagal, kamu yang harus menengahi."

Jochellya menarik napas panjang, mengingat ajaran Stoikisme Pak Amar. Kendali diri. Fokus.

"Siap, Ketua," jawab Jochellya mantap.

Mereka pun bergerak. Radit dan Clara mengendap-endap menuju halaman belakang sekolah, melompati parit kecil untuk mencapai pintu belakang. Sementara itu, Deswita memimpin tim utama menuju pintu depan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 16 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Little PhilosopherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang