Filosofi Pertahanan Diri

1 0 0
                                        

Malam itu, di pinggir jalanan sepi Pontianak, tiga bocah berseragam pramuka yang sudah kotor oleh debu tanah merah itu berdiri terengah-engah. Suara jangkrik terdengar nyaring, seolah mengejek napas mereka yang memburu.

Radit melangkah keluar dari balik tiang listrik beton. Wajah bocah laki-laki itu tampak tenang, terlalu tenang untuk anak kelas 6 SD yang baru saja melihat perkelahian. Ia menatap Clara yang sedang memegang lututnya, mencoba mengatur napas, lalu beralih ke Jochellya yang matanya masih basah.

"Tendanganmu lumayan untuk ukuran anak cewek," komentar Radit datar, gayanya meniru detektif di film-film. Ia menunjuk sepatu kets Clara yang kotor. "Tapi kuda-kudamu goyah waktu pendaratan tadi. Kalau preman itu nggak lari karena kaget, kamu bisa jatuh sendiri, Clar."

Clara mendengus, mengelap keringat di dahi dengan ujung lengan baju pramukanya. "Setidaknya mereka kabur, Dit! Teori momentummu berhasil. Badan mereka besar, tapi kalau ditendang pas lagi lari, jatuh juga."

Radit tersenyum tipis. Sangat tipis. Di balik sikap sok dewasanya, ia lega teman-temannya selamat. Ia teringat adiknya. Dulu, ia gagal melindungi adiknya. Tapi hari ini, melihat Clara yang berani melawan dan Jochellya yang masih berdiri meski ketakutan, rasanya ada beban berat yang sedikit terangkat dari pundak kecilnya.

"Dan kamu," Radit beralih menatap Jochellya. Gadis berkacamata itu membetulkan letak kacamatanya yang miring. Rok cokelatnya kotor terkena tanah.

"Aku serius, Radit," suara Jochellya bergetar, khas anak kecil yang menahan tangis, tapi matanya menatap tajam. "Aku nggak mau cuma jadi anak cengeng yang sembunyi di belakang punggung Clara terus. Kalau kita memang teman... aku harus bisa bantu."

Radit menghela napas panjang, menatap langit malam yang mulai mendung. "Bela diri itu sakit, Jo. Nanti badanmu biru-biru. Nanti dimarahin Mama kamu."

"Biarin," potong Jochellya tegas. "Ajari aku."

Radit menatap kedua temannya bergantian. "Besok. Pulang sekolah. Kita kumpul di markas Pojok Berpikir sama Pak Amar. Jangan lupa bawa baju ganti, jangan pakai seragam putih-merah, nanti kotor susah dicuci. Ibumu bisa ngamuk."

Radit berbalik, melambaikan tangan tanpa menoleh. "Dah. Pulang sana, dicariin orang tua kalian nanti."

Clara merangkul bahu Jochellya, menyeret sahabatnya itu berjalan pulang. "Dengar itu, Jo? Kita resmi jadi muridnya Si Jenius Aneh itu."

Keesokan harinya, gerbang hijau SDN 05 Pontianak Utara sudah ramai oleh siswa yang berdatangan. Suasana pagi itu riuh seperti pasar. Anak-anak berlarian di halaman sekolah yang luas, main kejar-kejaran sebelum bel masuk berbunyi. Aroma nasi kuning dan es teh manis menguar dari kantin Bu Kantin yang legendaris.

Namun, di kelas 6, suasananya sedikit berbeda bagi Clara dan Jochellya. Clara duduk di bangku kayunya sambil meringis pelan saat sikunya terbentur meja. Ia buru-buru menarik lengan baju seragam putihnya menutupi lebam biru itu.

Tapi, mata Deswita—si ketua geng pintar—terlalu jeli.

"Clar," panggil Deswita curiga, sambil meletakkan buku PR Matematika di meja. "Itu tangan kenapa? Kok biru gitu? Kamu berantem sama anak SD sebelah lagi?"

Siti dan Lia yang sedang main karet di belakang ikut menoleh. "Ih, iya! Clara kenapa?" tanya Siti polos.

"Jatuh dari sepeda," jawab Clara cepat. Alasan paling standar anak SD se-Indonesia.

"Sepeda apa yang bikin lukanya kayak bekas dipukul?" selidik Deswita, gayanya persis guru BP yang sedang menginterogasi murid nakal. Ia mau memegang tangan Clara, tapi Clara menghindar sambil nyengir.

"Sepeda abangku, Des. Tingginya nggak kira-kira. Udah ah, jangan bahas itu. Jo, rangkuman filsafat Pak Amar udah belum?" Clara mencoba mengalihkan topik.

The Little PhilosopherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang