Happy Reading!
Sekolah Tk Mandala.
Setelah Sandrinna mengantar kedua putrinya sampai gerbang sekolah, Sandrinna pun berhenti tepat di depan pohon besar yang Nafira maksud kemarin. Sandrinna menjaga-jaga hanya ingin mengetahui siapa di balik laki-laki tersebut yang telah di ceritakan kemarin saat di kantor.
Sudah hampir 1 jam Sandrinna menunggu, tetapi nihil orang tersebut tidak ada, apa orang itu tahu bahwa Sandrinna sedang menunggu?
"Ck! Kau tidak akan bisa melihatku Sandrinna." Gumam laki-laki itu yang sekarang di dalam mobil bersama seorang wanita cantik, siapa lagi jika bukan Alice, ketua iblis yang jahat. Itulah sebutan yang pantas untuk dirinya.
"Dirinya memang bodoh!" Kata Alice memasang wajah yang tidak enak untuk di lihat.
Laki-laki itu hanya bergumam. "Jadi, kapan kita akan menghancurkan Sandrinna dan Reybong suaminya yang sangat aku benci itu!"
"No, kau tidak boleh menyakiti Reybong, kau hanya boleh menyakiti Sandrinna dan kedua putrinya itu." Ujar Alice tak terima jika Reybong juga akan di sakiti, sebenarnya Alice hanya membenci Sandrinna saja karena Sandrinna telah berani merebut cinta pertamanya, dan sekarang Alice membenci kedua putri Sandrinna, karena kedua putrinya lahir dari rahim Sandrinna.
"Hm ya."
"Oke jadi bagaimana rencana selanjutnya?" Tanya laki-laki itu masih memperhatikan Sandrinna yang menunggu di dekat pohon besar tersebut. Laki-laki itu sudah tak sabar untuk menemui gadisnya yang dulu hampir dirinya perkosa. Semoga kali ini rencana berhasil dan berjalan dengan baik dan lancar.
"Simple, kau terror saja dia." Kata Alice seadanya.
"Baiklah."
Laki-laki itu pun kembali menancapkan gasnya menuju ke markas mereka berdua untuk melanjutkan membicarakan rencananya secara matang.
Sandrinna mendengus sebal saat orang yang Sandrinna tunggu tidak datang-datang juga, padahal Sandrinna ingin sekali bertemu dengannya. Dengan kesal Sandrinna pun kembali ke mansion untuk melanjutkan pekerjaannya di rumah yang sempat tertunda.
Saat Sandrinna di jalan menuju pulang, ponsel Sandrinna berdering dan menampilkan nama Aqeela.
"Tumben nelpon." Gumam Sandrinna mengambil ponselnya dan segera menekan tombol berwarna hijau itu.
"Ada apa Qeel? Tumben sekali kau meneleponku."
"Aku kangen sama kamu dan yang lain, mau tidak nanti malam kita kumpul-kumpul di cafe milik kita di dekat sekolah dulu, pikir-pikir untuk hiling."
"Sepertinya tidak bisa--"
"Aku tidak mau mendengar penolakan darimu, ayolah sekali-kali, kita sudah jarang loh kumpul-kumpul bersama, aku pastikan Reybong pasti memberimu ijin."
"Baiklah, nanti aku akan datang, kira-kira jam berapa?"
"Jam 7 malam ya."
"Oke, aku tutup dulu ya teleponnya."
"Ingat datang, kalau kau tidak datang aku akan mengabaikanmu!"
Sandrinna pun kembali menelepon sang suami untuk meminta ijin malam ini keluar dengan teman-temannya, siapa lagi kalau bukan Aqeela, Saskia dan Ratu.
"Sayang..."
"Ada apa hm?"
"Aku boleh keluar tidak malam nanti?"
"Kemana? Sama siapa?"
Sandrinna bisa mendengar nada posesif dari suaminya itu.
"Sayang, kau tenang saja, aku pergi ke cafe dekat sekolah bersama teman-temanku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan S2 (On Going)
Roman pour AdolescentsIni adalah kisah kelanjutan dari Perjodohan S1 Bagaimana kisah cinta Reybong dan Sandrinna setelah beberapa tahun yang lalu? Apakah Alice akan kembali seperti beberapa tahun yang lalu, atau sudah berubah menjadi orang yang lebih baik? Sedikit inform...
