29. Funfair

918 75 12
                                        

Happy Reading Guys^^

*

*

*

*

"Aku lelah." Keluh Siera parau sambil meletakkan kepalanya di atas meja kerja tambahan yang di tempatkan di ruangan Leon. Meskipun Siera bekerja keras namun kertas-kertas yang selalu datang dan menumpuk seakan tiada habisnya.

Sejak Jarvis mengambil waktu cuti untuk memulihkan diri juga memperbaiki hubungan dengan Sharan, semua pekerjaan di alihkan pada Siera. Leon sudah mengerjakan lebih dari tiga perempat sedangkan Siera mengurus sisanya tapi tetap saja pekerjaan itu cukup berat untuk dirinya yang lebih terbiasa praktek di lapangan.

"Nona Siera ada laporan dari beberapa pack di utara yang perlu di periksa, tinjauan ketersediaan bahan makanan, obat-obatan, komoditi musim dingin, dan laporan mengenai serangan rogue." Kata seorang petugas administrasi yang biasa mengantarkan dokumen. Kini pekerjaan yang tadinya sudah hampir selesai kembali menumpuk."

"Letakkan saja di atas meja." Balas Siera lesu.

Namun diam-diam Siera merasa bersyukur bahwa Jarvis tak akan kehilangan posisinya sebagai Beta juga ikut senang karena Rogue yang merupakan mate dari Jarvis bisa di luluhkan. Sekarang masalahnya adalah sekumpulan berkas ini. Setiap kertas harus di baca dan di teliti sedangkan tiap lembarnya berisi empat sampai tujuh paragraf dengan font yang kecil. Ingin rasanya Siera membenturkan kepalanya ke pintu dan terluka hingga dirinya tak perlu mengerjakan tugas-tugas yang seharusnya di kerjakan kakaknya.

BRUK...

Leon datang dengan setumpuk dokumen yang jauh lebih tinggi dan tebal dari pada yang di bawakan petugas sebelumnya. Wajahnya tersenyum seperti biasa ketika melihat Siera yang menatapnya dengan aura membunuh yang kental. Bahkan pena yang berada di tangan Siera telah patah menjadi dua akibatnya eratnya genggaman karena Siera menahan kesal.

"Kenapa harus aku yang menyelesaikan semua kertas-kertas sialan yang sudah seperti air bah ini? Kenapa bukan Kak Leona, Jarvis, kakak sendiri atau siapapun." Teriak Siera nyaris terdengar histeris.

"Leona sedang sibuk mengurus galeri seninya sedangkan Jarvis sedang memulihkan diri, kau tau itu dengan baik. Ayolah Siera adikku yang manis. Bantulah kakakmu ini." Ucap Leon berusaha meminta pengertian dari adik kesayangannya.

Siera hanya mengangguk muram. Bukannya tidak suka membantu kakaknya namun Siera hanya merasa lelah. Bangun tidur kemudian mempersiapkan diri untuk menghadiri sarapan pagi, ritual wajib di pack house. Usai sarapan pedang, busur, beserta samsak telah tersedia di ruang latihan. Istirahat makan siang kemudian berlanjut jam kosong yang Siera habiskan dengan melanjutkan latihan atau terkurung dan bosan di pack house sebelum waktu makan malam. Setelah itu aktifitasnya berlanjut di perpustakaan untuk melatih pengetahuan dasar yang umum dan khusus seperti ekonomi, strategi, hingga sihir. Tak jarang Siera di temani Lalita, ibunya saat mengembangkan kemampuan dan bakat sihir yang dimilikinya.

Segalanya terus berulang seperti itu dan akan terus seperti itu. Siera merasa bosan dan jengah dengan rutinitasnya yang begitu membosankan di saat kakak-kakaknya malah tak memiliki waktu untuk di habiskan bersamanya di waktu kosong yang terasa sangat membosankan.

"Ini yang terakhir. Kakak janji. Untuk selanjutnya kakak yang akan mengerjakannya." Bujuk Leon.

"Baiklah." Balas Siera tanpa semangat sambil memeriksa dokumen baru di hadapannya.

"Tunggu kakak senggang, kakak pasti akan mengajakmu keluar bersenang-senang." Leon tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Siera.

"Tidak perlu." Balas Siera dingin.

Half Blood MateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang