19. Special Girl

1.2K 103 1
                                        

Happy Reading Guys...

Camp pelatihan Eclipse Pack. Tempat ketiga yang paling sering Siera kunjungi setelah kamar dan perpustakaan. Juga salah satu tempat paling menyengsarakan karena Leon sering melatihnya tanpa ampun maupun belas kasihan.

Seperti saat ini. Sudah kelima kalinya Siera terjengkang oleh pukulan kakaknya yang sekuat monster. Pedangnya terlempar jauh keluar arena dengan luka lebam baru yang berhasil di torehan Leon di bahunya. Tapi Siera tidak menyerah, dengan kaki sedikit bergetar dia berjalan mengambil pedangnya sebelum kembali ke posisi semula.

"Sudah cukup untuk hari ini. Kita sudahi saja." Putus Leon melihat adik bungsunya sudah sangat kelelahan.

"Ini masih belum cukup!" Siera bersikeras.

"Apa kegilaan teman Vampirmu menular padamu?" Leon melipat tangan di dada sambil menatap heran.

"Maksud kakak Pheron?"

"Siapa lagi. Si gila yang membasmi pemberontakan dalam semalam. Dia berlatih seperti kuda kerasukan. Bahkan Mom sampai kewalahan membantunya berlatih."

"Itu sebabnya aku harus berlatih lebih keras. Pheron adalah rival sumur hidupku. Jika dia bisa berguna untuk bangsanya maka aku..." Siera tak melanjutkan kata-katanya karena saat itu juga Leon memeluknya dengan lembut.

"Sudah-sudah tidak perlu sampai seperti itu. Kau tidak perlu melakukan apa pun. Jaga dirimu dan bantu aku menjaga orang-orang yang kita sayangi. Itu saja sudah lebih dari cukup." Leon mengusap kepala adiknya tulus. Siera diam dan tidak membantah. Alangkah baiknya memiliki kakak yang perhatian dan pengertian seperti Leon.

"Aku harus pergi ada urusan mendesak dari Jarvis. Minta Alexa untuk mengobatimu sebelum kembali ke Pack House."

Alexa yang menonton dari pinggir arena melambaikan tangannya. Terdapat kotak obat di samping tempat duduknya. Leon yang memintanya untuk membawa itu karena Siera tidak pernah tidak terluka jika berlatih bersamanya.

"Apa kau selalu seperti ini?" Tanya Alexa khawatir saat mulai membersihkan tangan Siera yang tergores. Belum lagi lebam kebiruan di bahu Siera yang tampak menyakitkan.

"Aku baik-baik saja kakak ipar. Jangan mengkhawatirkan aku." Ucap Siera seraya tersenyum manis dengan plaster di dagunya.

"Bisakah panggil aku Alexa saja. Panggilan kakak ipar itu aku kurang terbiasa."

Siera menyemburkan tawa seketika begitu melihat ekspresi Alexa yang lucu. Pipinya sedikit bersemu dengan kata-kata yang agak ragu-ragu.

"Bagaimana kalau kakak?" Siera membalas dengan ceria.

"Itu lebih baik. Nah, sudah selesai."

"Wah, kakak jago sekali memakaikan perban dan mengoleskan salep." Siera takjub melihat tanggannya di perban dengan sangat rapi dan bersih.

"Dulu aku sering melakukannya." Alexa tersenyum sambil merapikan kotak obat yang barusan digunakan.

"Melakukannya untuk siapa?"

"Aku memiliki kakak laki-laki. Dia gigih dan pekerja keras, sama sepertimu. Itu sebabnya dia juga sering terluka."

Alexa sedikit mengingat Alex. Ada perasaan senang saat mengingatnya. Juga perasaan rindu ingin bertemu mengingat hanya dialah satu-satunya keluarganya sebelum bertemu Leon.

"Biar aku bawa kotak obatnya. Kakak mau kembali ke pack house?"

"Aku mau jalan-jalan sebentar."

"Baiklah. Oh iya, jika kakak melihat seorang vampir perempuan berambut panjang tergerai. Abaikan saja."

Alexa mengerutkan kening tidak mengerti. Namun pernah beberapa kali ia melihat seorang gadis berkulit pucat sama persis dengan yang di deskripsi Siera. Mungkin gadis itu yang Siera maksud.

Half Blood MateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang