Visualisasi Yuridica^^
Happy Reading Guys
~~~
"Halo"
Alexa tersenyum ramah pada teman-teman Siera. Dengan senang hati pula Siera mulai memperkenalkan teman-temannya satu persatu. Mendung yang menyelimuti Siera mendadak lenyap seketika.
"Yang berambut cokelat itu Royce." Dengan sopan Royce menganggukkan kepalanya.
"Di sebelahnya Yuridica, dia memang terlihat galak tapi sebenarnya dia sangat baik."
"Halo, jangan dengarkan Siera dia hanya mengada-ada."
"Sedangkan yang ada di sebelah ku Aragenta, dia seorang elf."
"Aku suka warna rambut dan matamu. Hitam pekat tanpa cela. Sangat cantik." Puji Aragenta.
"Terimakasih." Alexa balas tersenyum.
"Sedangkan yang duduk di seberang itu adalah Pheron dan Selene."
Selene hanya membalas sekenanya sedangkan Pheron terlihat menatap Alexa dengan tatapan yang tak biasa. Tatapan itu begitu dingin menusuk dan sedikit mengintimidasi namun berbeda dengan tatapan dingin orang-orang kepadanya.
"Ternyata kau di sini." Suara yang akrab dengan telinga Alexa terdengar dari belakang. Terlihat Leon berjalan ke arahnya.
"Kupikir kau masih sibuk?" Leon menggeleng.
"Mom sudah selesai dengan Alexa bukan kalau begitu aku akan membawanya sekarang." Tanpa aba-aba Leon langsung menggandeng tangan Alexa begitu saja.
Semua orang yang berada di dalam sana tampak terkejut. Leon yang merupakan Alpha dingin yang tidak pernah menunjukkan sisi lainnya pada orang lain kecuali keluarga kini memperlakukan seseorang dengan sangat lembut di depan khalayak umum.
"Begitulah jika sedang jatuh cinta." Sindir Siera.
"Segeralah memiliki mate jika iri." Sindir Leon yang langsung membuat sebuah buku tebal melayang ke arahnya. Namun dengan mudah Leon mampu menangkap buku yang di lemparkan Siera.
"Bagaimana bisa aku menemukan mate jika keluar lima langkah dari pack house saja tidak bisa!" Seru Siera geram.
"Siera jangan kasar."
"Tapi mom, bukan aku yang mulai."
Leon menampilkan ekspresi datar namun sebenarnya menahan senyum.
"Leon."
"Nikmati waktu kalian."
Leon beralih pada Alexa. Keduanya pergi sambil memulai obrolan ringan yang mampu beberapa kali memancing senyum Alexa. Leon sendiri tampak menikmati obrolan mereka.
Sedangkan Selene yang menyaksikan pemandangan itu hanya diam. Leon tidak pernah berbicara santai dengannya apa lagi menikmati obrolan. Entah mengapa panas di dada serasa semakin membuncah. Ada perih di dalamnya.
"Selene kau mau ikut belajar sihir?" Tanya Lalita. Selene masih bergeming. Raganya di sana tapi pikirannya entah di mana.
"Selene apa kau baik-baik saja?"
"Eh, iya. Maaf sebenarnya ada hal yang ingin ku tanyakan tapi bukan tentang sihir."
"Tanyakan saja di sini sekarang."
"Maaf bibi, pertanyaan ku agak sensitif jadi kuharap ada kesempatan lain agar aku bisa bertanya secara pribadi, jika tidak merepotkan." Selene tersenyum canggung kemudian pergi meninggalkan perpustakaan bahkan Lalita belum sempat menjawab.
KAMU SEDANG MEMBACA
Half Blood Mate
WerewolfAlexa Smith seorang shewolf malang dengan darah campuran yang mengalir dalam nadinya. Lebih menyedihkan lagi dia sering di siksa dan di perlakukan lebih buruk dari pada pelayan oleh para omega di pack yang menjadi satu-satunya rumah. Alexa tidak ber...
