33. Angel Heart

925 70 6
                                        

Happy Reading Guys...

*

*

*

*

Perlahan, Sharan membantu Alexa berjalan menuju ruang tamu tempat dimana Leon berada. Setelah makan, Alexa memutuskan untuk segera berganti pakaian yang lebih kasual namun tetap ringan dan mudah untuk bergerak. Perubahan pada Sharan memang membuat Alexa sedikit terkejut pada mulanya. Namun seiring berjalannya waktu Alexa yakin ia akan terbiasa.

Sharan memang tak banyak tersenyum maupun bicara. Bahkan hanya untuk sekedar berekspresi saja nyaris tidak pernah. Namun Alexa dapat merasakan ketulusan dari apa yang Sharan lakukan untuknya.

Ketika sudah mendekati ruang tamu, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dengan sangat terburu-buru. Leon membukanya dengan raut wajah panik bercampur khawatir. Namun hal itu tak berlangsung lama karena begitu melihat Alexa, Leon langsung menyekapnya erat-erat, mengistirahatkan kepalanya yang lelah di bahu mungil Alexa dan menghirup aroma Cherry segar memabukkan milik mate~nya.

"Kau sudah bangun, putri tidur?" Bisik Leon lirih.

"Putri tidur adalah julukan yang berlebihan." Kata Alexa sambil membalas pelukan Leon.

Leon menoleh ke arah Sharan yang berdiri diam di tempatnya. Seperti biasa, gadis itu selalu tanpa ekspresi atau mungkin belum bisa bebas berekspresi. Tapi itu tidak penting. Leon menggerakkan bibirnya membentuk kata 'terimakasih' dan Sharan membalasnya dengan anggukan.

"Seseorang datang berkunjung. Dia menjelaskan kalau tidur panjang bukanlah hal baru bagimu. Meskipun begitu aku tetap khawatir." Leon menyibak rambut Alexa ke belakang telinga. Sungguh, dirinya sangat merindukan gadisnya.

"Siapa?" Tanya Alexa penasaran.

"Kau akan tau." Leon merangkul pinggang Alexa kemudian mengajaknya masuk ke ruang tamu.

Ada beberapa sosok yang Alexa kenali. Jarvis yang duduk di salah satu sofa panjang. Seorang gadis bersurai putih yang di biarkan tergerai, kalau tidak salah namanya Yuridica. Seorang Wizard. Lalu ada seorang pria bersurai coklat di sebelahnya namun Alexa melupakan namanya. Terakhir, seorang pria bermata hazel kehijauan yang sangat familiar bagi Alexa. Tentu saja, Alex.

"Kakak."

Seketika Alex berdiri kemudian menghampiri adik kesayangannya. Kedua kakak beradik itu saling berpelukan. Bukan rahasia umum kalau Alex yang dikenal sebagai Beta sadis asal Blood Moon Pack sangat menyayangi Alexa adiknya yang hanya seorang half dan berasal dari ayah biologis yang berbeda.

"Kebiasaan lamamu masih terbawa hingga kesini, Ale. Benar-benar membuat semua orang khawatir. Tapi tak apa karena aku melihatmu lebih gemuk dari sebelumnya. Berarti mate~mu telah merawatmu dengan baik." Alex menatap Leon ketika mengucapkan kalimat terakhir. Entah memuji atau menyindir.

"Sebaiknya kita duduk, Alexa pasti lemas karena baru bangun." Leon berujar dengan wajah berubah masam. Sedangkan Alex menyembunyikan senyum misterius.

Jarvis terpaksa harus pindah tempat duduk ke kursi yang lebih pendek, sedangkan tiga orang yang menggusur Jarvis duduk di sofa panjang yang tadinya ia duduki dengan posisi Alexa di tengah, terhimpit pria-pria kekar yang amat mencintainya.

"Bagaimana kabar kakak?" Tanya Alexa ketika mereka duduk.

Tentu saja dengan posesif Leon lebih mendekatkan tubuhnya pada Alexa. Tak peduli baik keluarga maupun bukan Leon tidak suka ada pria lain yang lebih dekat dengan Alexa selain dirinya. Keterlaluan memang, namun sepertinya Alexa sama sekali tidak keberatan.

Half Blood MateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang