~1. Leonil Anderson~

4.4K 267 5
                                        

Visualisasi Leonil Anderson^^

.

.

.

.

Kemeja hitam polos tampak menempel sempurna di atas tubuh atletis hasil pelatihan seorang Alpha yang akan memulai tugasnya. Mata biru sedalam samudranya tampak begitu tajam berpadu dengan rahang kokoh dan surai hitam yang di sisir rapi.

Tiba-tiba seseorang memasuki kamarnya tanpa permisi membuat fokusnya beralih dari cermin ke arah seorang pria seusianya. Sama-sama memiliki rahang kokoh dan wajah setampan Sang Alpha, Jarvis nampak terengah menghadapi kelakuan adik bungsu Sang Alpha yang membuatnya kalap setengah mati. Bukan hanya rambutnya, bahkan kemejanya nyaris tak berbentuk dengan noda dan kerutan di mana-mana.

"Jangan bilang kau kalah lagi dengan Siera?" Leon melipat tangan di dada dengan tatapan mengejek yang di tujukan pada Betanya.

Jarvis mendengus dengan wajah masam. "Saudara kembar yang di tugaskan untuk menjaga adikmu sedang kalang kabut mencarinya, apalagi aku yang masih belum terbiasa dengan tipu muslihatnya."

Leon tersenyum. Jenis senyuman sinis yang biasanya ia tujukan pada lawannya.

"Tipuan klasik mampu mengecohmu Jarvis. Sekarang duduk dan amati." sambil menggulung kemejanya hingga ke siku, Leon beralih pada jendela yang menampilkan rimbunya hutan lebat di kejauhan. Senyum tipisnya selalu tersembunyi di balik ekspresi datar setiap mendengar adik kecilnya berulah.

Sementara itu, seorang gadis tampak berlari menembus hutan. Rambut pirang pudarnya di biarkan tergerai tertiup angin. Dengan gesit gadis itu melompat menghindari jebakan demi jebakan yang selalu di siapkan untuk menghadangnya. Satu jebakan tersembunyi telah menunggu di depan mata. Dengan sangat santai gadis itu mengambil busur dan anak panah dari punggungnya yang juga tersampir sebuah pedang perak. Dalam sekali bidik dua jebakan langsung menunjukkan wujud aslinya.

"Keledai pun tak akan jatuh pada lubang yang sama." gumamnya dengan senyum riang di wajahnya yang manis.

Berikutnya lebih banyak lagi anak panah yang melesat. Semuanya tepat mengenai jebakan. Yang di persiapkan untuk dirinya.

"Fiuh, ini gila. Mereka membuat jebakan-jebakan ini agar aku tidak bisa keluar pack tapi kenyataannya jebakan-jebakan ini malah lebih sering menjaring Rogue dari pada menangkap ku."

'Selanjutnya apa?' mindlik seekor serigala putih dengan iris hitam kelam bak obsidian.

'Kau benar-benar wolf yang membosankan, Cler.'

'Benarkah? Tapi setidaknya aku tidak kekanak-kanakan.'

'Terserah kau sajalah." Sungut Siera merasa tersindir.

Cler, wolf putih Siera tertawa mengejek. Sifat mereka benar-benar berbeda. Jika Siera adalah tipe orang yang bersemangat dan antusias pada hal-hal baru maka berbeda dengan Cler yang jarang tertarik pada apa pun. Meskipun demikian Cler tetap memiliki kesamaan dengan Siera. Sama-sama ceria dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Usai menyimpan busurnya Siera berjalan lurus menjelajahi hutan yang masih dalam wilayah teritorial Eclipse Pack. Tak ada apa pun selain pohon dan semak belukar. Terkadang terdengar suara burung berkicau atau daun yang bergesekan tertiup angin. Setidaknya jalan-jalan di hutan jauh lebih baik dari pada berada di pack dengan puluhan buku setebal kitab suci yang wajib di baca, pelajari, dan hafalkan. Jika tidak berurusan dengan buku, mungkin kakaknya akan menghajarnya habis-habisan di arena pelatihan. Jika saja Siera tidak memiliki sihir seperti ibunya kemungkinan baik dirinya maupun wolf nya akan jauh lebih sengsara.

Half Blood MateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang