Story of Gabby & Zavier
***
Hidup bertahun-tahun sebagai sahabat Zavier membuat Gabby tidak bisa merasa bebas. Lelaki itu terlalu mencampuri urusan asmaranya.
Hingga suatu hari, perlakuan yang Zavier lakukan membuat Gabby menjauhinya.
Di mata Gabby;...
Seseorang bergerak gelisah dalam tidurnya. Keringat pun sudah membanjiri seluruh tubuhnya yang membuat dirinya semakin merasa tak nyaman.
Tangannya tanpa sadar memegang erat sprai tempat tidurnya. Dengan napas yang memburu, ia terbangun dari tidurnya. Mata cantiknya memandang lurus langit-langit kamarnya.
Tok tok tok
"Gab, wake up! Sudah hampir jam tujuh." Suara teriakan dari luar menyadarkan lamunannya.
"Iya, Bunda. Aku udah bangun," balasnya lantas bangun dari posisinya itu.
Duduk di pinggir ranjang, Gabby memijat pelan dahinya. Ia sedikit merasa pusing. Tubuhnya juga terasa demam. Apa karena ia menangis setiap malam?
Sudah dua hari berlalu, tapi pikirannya masih stuck di kejadian itu. Gabby ingin melupakannya, tapi tidak bisa. Ia terlalu kecewa dengan Zavier.
Menghela napasnya dalam, Gabby meraih ponselnya yang disimpan di atas nakas. Ia mengecek ponselnya ketika terdengar ada notifikasi pesan masuk.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ternyata dari Zavier. Semalam memang ia sengaja memblokir whatsApp lelaki itu. Lagipula hubungan mereka sudah renggang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Zavier benar-benar keras kepala. Yang Gabby tak habis pikir, apa Zavier tidak merasa bersalah atas sikapnya itu? Bagaimana bisa lelaki itu bersikap biasa saja setelah apa yang terjadi.
Dengan perasaan yang campur aduk, Gabby melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Ia butuh air dingin untuk mendinginkan kepala dan pikirannya saat ini.
Tanpa butuh waktu lama untuk bersiap-siap, Gabby langsung keluar kamar dengan pakaiannya yang saat ini sangat tertutup. Ia sengaja memakai sweaternya untuk menutupi jejak yang Zavier tinggalkan waktu itu. Masih ada sedikit tanda yang belum kunjung hilang.
Gabby mengenakan sweater hijau bertuliskan 'Hawaii' yang dipadu padankan dengan jeans berwarna coklat. Tak lupa shoes favoritnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ia berjalan menuruni undakkan tangga.
Benar saja, lelaki itu sudah ada di rumahnya. Ia tengah menyantap sarapannya bersama Elia.
"Morning, Bunda," sapanya seraya mengecup pipi Elia lantas bergabung dan duduk di samping Zavier.
Baiklah, Gabby. Mari bersikap biasa saja seolah hal itu tidak pernah terjadi, rapalnya dalam hati.
Gabby meraih roti yang sudah diolesi selai coklat oleh Bundanya.
"Udah sarapannya, Zav? Langsung berangkat, yuk! Gue masuk kelas lebih awal soalnya," ucap Gabby dengan mulut yang masih mengunyah.
Lalu mereka berdua berdiri. Gabby meminum susu coklatnya terlebih dahulu.
"Makasih sarapannya, Bunda," ucap Zavier seraya mengaitkan tasnya ke pundak sebelah kanannya.
"Kita berangkat dulu ya, Bunda. Bye-bye," pamit Gabby.
Zavier berjalan mengikuti langkah Gabby. Perempuan itu sudah berjalan lebih dulu.
"Hari ini gue pake motor, nggak apa-apa kan?" Zavier sudah duduk di atas kuda besinya. Ia menyodorkan helm miliknya yang biasa Gabby kenakan.
Gabby hanya mengangguk singkat. Setelah selesai memakai helm, ia langsung naik dan duduk di belakang Zavier.
Tanpa banyak bicara, Zavier melajukan motor kesayangannya itu.
Selama dalam perjalanan pun mereka tidak terlibat perbincangan. Selain karena situasi yang masih terasa canggung, Zavier pun sengaja mengebut agar segera sampai di kampus.
Sesampainya di parkiran kampus, Gabby turun dari motor Zavier diikuti lelaki itu. Ia melepaskan helm yang ia kenakan lalu memberikannya pada sang pemilik.
"Thanks, ya." Zavier mengangguk.
Ketika akan pergi dari sana, tangan Gabby dicekal oleh Zavier.
Dahi Gabby mengernyit. "Kenapa?"
"Tentang waktu itu, gue-"
"Ah ... nggak apa-apa. Anggap semua nggak pernah terjadi. Seperti yang lo bilang, toh itu bukan pertama kalinya bagi gue, kan?" Kalimat yang Gabby utarakan itu membungkam mulut Zavier hingga membuat cekalannya melonggar.
Tangannya terjuntai lemas seraya menatap kepergian Gabby yang berjalan menjauhinya.
Tbc👙
Mampus lo zavier, sp sruh lo socaks heol~
Btw, sgitu aj dlu yh. Nnti update lg klo udh ad ide dan mood hhhhhh