👙Part 37👙

2.6K 43 6
                                        

sorry kelamaan wkwk

walau dikit, happy reading ya👙

"Maaf." Sudah berkali-kali kata itu keluar dari mulut Zavier. Lelaki itu tak berhenti mengatakan maaf setibanya mereka di rumah.

"Udah, Zav. Ini bukan salah kamu. Aku yang minta maaf karena bikin kamu kesulitan selama ini."

"Enggak, By." Zavier memeluk erat tubuh ringkih istrinya.

"Udah ya maaf-maafannya? Aku cape mau istirahat," ucap Gabby seraya melepaskan pelukan suaminya, lantas membaringkan tubuhnya di atas ranjang.

Zavier pun ikut berbaring seraya memeluk Gabby. Tangannya mengelus lembut perut datar istrinya.

"Besok kita ke dokter kandungan, ya?" ajak Zavier.

"Nggak bisa, besok aku ada orderan."

"Ya udah. Nanti kalo kamu check up, sama aku ya?" Gabby hanya bergumam.

👙👙👙

Suara sepatu yang menyentuh lantai itu begitu terdengar jelas karena kekosongan di tempat itu. Langkahnya perlahan mendekati seseorang yang sudah ia cari selama ini. Tubuh itu membalik dan menatapnya bingung, namun ia balas dengan senyuman tulus nan sumringahnya.

"Ada perlu apa ya, Om?" tanyanya bingung.

"Ayah sudah mencari kalian selama ini, Riel."

Mendengar ucapan lelaki itu, ia semakin dibuat bingung.

"Om, saya tidak tahu maksud Om apa. Dan Ayah, siapa yang Om maksud?"

"Gabriel, ini Ayah. Ayah kandung kamu."

Gabby diam; membatu di tempatnya.

"Jangan bercanda, Om. Ayah saya sudah meninggal dari saya kecil. Bahkan saya tidak tahu wajah Ayah saya seperti apa. Dan tidak mungkin Bunda saya menghianati Ayah saya begitu saja."

Lelaki itu berjalan mendekati Gabby, meraih tangan perempuan itu untuknya genggam.

"Ini Ayah, Riel."

Perempuan itu menggeleng keras, menolak kenyataan yang baru ia dengar. Dengan kasar, Gabby menghempaskan genggaman lelaki yang katanya Ayahnya itu.

"Om itu orang tua Elea, bukan saya."

Rasel; lelaki itu mengangguk. Ia paham dengan keadaan yang membingunkan bagi putrinya itu.

"Ayo kita tes DNA, Riel. Ijinkan Ayah membuktikan keraguan kamu ini."

Gabby terdiam. Ia bingung dengan semuanya. Terlalu banyak masalah yang mendatanginya akhir-akhir ini.

"Maaf karena kedatangan Ayah membuatmu bingung. Ayah akan pulang. Kalau kamu sudah bersedia untuk tes DNA, hubungi Ayah," ucapnya seraya memberikan kartu nama miliknya.

"Yang harus kamu tahu, Ayah senang bertemu kamu. Kamu tumbuh menjadi perempuan cantik seperti Bunda kamu." Setelah mengatakan itu, Rasel melangkahkan kakinya menjauhi Gabby. Jauh dalam lubuk hatinya, ia ingin memeluk tubuh putrinya itu.

Sepeninggal Rasel, Gabby hanya terdiam mencerna semuanya. Ia bingung. Tiba-tiba saja datang lelaki yang mengaku ayahnya. Sedangkan yang ia tahu ayahnya sudah meninggal sejak ia kecil, ia sendiri pun tidak mengingatnya. Sedari dulu ia tak pernah mempertanyakan keberadaan ayah kandungnya itu, bahkan untuk menanyakan dimana makamnya pun ia tak berani bertanya pada sang bunda. Ia takut, takut bundanya itu akan bersedih. Gabby tumbuh tanpa pernah mengenal sosok ayahnya seperti apa.

"Mbak, Mbak?" panggil seseorang seraya menepuk bahu Gabby pelan.

Gabby terkejut. "Eh?"

"Mbak kenapa? Dari tadi saya panggil nggak jawab-jawab. Lagi nggak enak badan ya, Mbak?"

"Enggak kok. Tadi emang melamun aja dikit," Gabby meringis.

"Pulang aja ya, Mbak? Takutnya Mbak malah ambruk di sini. Biar di sini saya nanti yang handle."

"Beneran nggak apa-apa nih?"

"Iya, Mbak. Mending Mbak istirahat aja. Dari kemarin Mbak kurang istirahat, kan?"

Gabby tersenyum. "Ya udah kalo gitu gue pulang ya. Maaf karena bikin repot."

"Nggak apa-apa, Mbak. Sudah tugas saya bantu meringankan Mbak."

tbc👙

sorry dah kalo aneh, soale emg iya. ntar aku ngetik lagi klo mood

Deapest Fall [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang