👙Part 36👙

3K 52 5
                                        

kalo aneh, maafin sihhhhhh. udh lama gak ngetik, jdinya bingung hehe

happy reading👙

Fenly memapah Gabby untuk duduk di sofa ruang tamu.

"Beneran nggak mau ke rumah sakit aja, Ans?" tanya Fenly yang khawatir melihat keadaan Gabby. Bahkan wajah perempuan yang ia cintai itu sudah pucat.

"Gue nggak apa-apa, Fenlyyyy. Demi Tuhan, gue baik-baik aja kok," ucap Gabby meyakinkan Fenly.

"Tapi muka lo udah kayak mayat hidup gitu. Gue telepon laki lo, ya?"

Gabby menatap tak suka. "Nggak perlu."

"Tapi-"

"Lo pulang aja. Urusan ini biar gue yang tangani sendiri. Thanks udah anterin gue."

Mendapat pengusiran halus dari Gabby membuat Fenly sadar akan posisinya. Bukan hak dirinya untuk mengkhawatirkan kondisi perempuan itu, sekalipun Gabby adalah orang yang ia cintai.

"Ya udah, gue pulang. Kalo lo butuh apa-apa, jangan pernah ragu buat hubungi gue."

Gabby mengangguk. "Thanks."

Setelah kepergian Fenly, Gabby menghela napasnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa. Kepalanya sedikit pusing. Bahkan perutnya bergolak.

Sejenak ia memejamkan matanya. Semoga keadaannya sedikit membaik setelah beristirahat.

Ketika akan memejamkan matanya, Gabby merasakan ponselnya bergetar sejenak, menandakan adanya pesan masuk. Setelah melihat nama si pengirim, tubuhnya membeku apalagi melihat isi pesan tersebut.

 Setelah melihat nama si pengirim, tubuhnya membeku apalagi melihat isi pesan tersebut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Untuk pertama kalinya Wiza menghubungi Gabby. Namun, mengapa pria itu malah mengirim pesan seperti itu?

Yang membuatnya lebih tertegun adalah, ternyata suaminya itu mengalami kesulitan hanya karena dirinya. Zavier menutupi semuanya. Apa memang lelaki itu tidak menganggapnya?

Tanpa disadari, Gabby menitikkan air matanya. Di saat seperti ini ia merindukan bundanya. Satu-satunya orang yang selalu ada di sampingnya.

Gabby meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang, mengabaikan rasa sakit di perutnya.

"Kenapa, Ans?"

"Lo ada nomor Lugi?" tanya Gabby dengan suara parau.

"Lo nangis? Kenapa?" Terdengar nada khawatir di seberang sana.

"Gue cuma butuh nomor Lugi doang, bisa lo kirim tanpa banyak tanya?"

"Wait, gue puter balik."

Bukannya memberikan yang Gabby mau, Fenly malah berkata akan kembali ke rumah Gabby.

Tak lama dari itu terdengar suara deru mesin mobil. Suara langkah kaki berlari terdengar mendekat.

"Lo kenapa, Ans? Kenapa nangis gini?" tanya Fenly memegang pundak perempuan yang ia cintai itu.

"Elea bakal nikah sama suami gue."

"Siapa yang bilang ke lo?"

"Om Wiza. Gue salah apa sampai Om Wiza benci banget sama gue?"

"Nggak usah mikir macem-macem, Ans. Kita samperin mereka, ya? Gue anter." Fenly membantu Gabby berdiri. "Jangan nangis lagi." Ia mengusap sisa air mata Gabby.

Fenly membawa Gabby ke mobilnya. Bukan tanpa alasan ia mengajak Gabby untuk menemui Wiza. Tadi ia dihubungi Elea tentang keberadaan gadis itu; gadis gila yang akan melakukan segalanya agar semua yang ia inginkan terpenuhi.

Tak membutuhkan waktu lama bagi Fenly membelah jalanan. Mobilnya sudah terparkir di tempat yang Elea katakan.

Ia langsung membawa Gabby masuk. Netranya mencari keberadaan dua keluarga itu. Lambaian tangan seseorang membuatnya teralih.

"Zav?" panggil Gabby ketika sudah berada di depan meja mereka.

Mendengar suara yang sangat dikenalnya, Zavier menolehkan kepalanya. "Gab? Kamu kok di sini?" tanya Zavier kaget sampai bangkit dari duduknya.

Gabby bisa melihat Wiza menatapnya tak suka. Dua orang lainnya; yang Gabby yakini orang tua Elea pun menatapnya bingung, berbeda dengan Elea yang mengulas senyumnya lebar.

"Elia?" Tiba-tiba saja suara yang berasal dari ayah Elea itu membuat Gabby menatapnya.

Gabby menatap heran pada pria baya itu. Dia menyebutkan nama bundanya, kan? Atau ia salah dengar?

Pria itu bangkit dan menghampiri Gabby.

"Elia?" Lagi, pria itu memanggil nama bundanya.

"Om kenal Bunda saya?"

Gabby benar-benar bingung, termasuk semua orang yang ada di sana. Niatnya datang ke sini itu untuk menghampiri suaminya, tapi kenapa ia malah bertemu dengan pria tak dikenal yang memanggil bundanya?

"Wiza, siapa gadis ini?" tanya pria itu.

Wiza terdiam. Ia merasa emosi karena kedatangan Gabby yang pasti akan menghancurkan rencananya.

"Istri saya, Om. Seperti yang tadi saya bilang, saya tidak bisa menikahi Elea karena saya sudah menikah." Bukannya Wiza, Zavier lah yang menjawab pertanyaan itu. Ia menggenggam jemari pucat istrinya.

Pria itu menatap tajam putrinya. "Elea!" Ia tidak tahu jika lelaki yang diinginkan putrinya itu sudah berkeluarga. Dan lagi, bisa-bisanya Wiza menyetujuinya.

Bukannya takut atau merasa bersalah atas kelakuannya, Elea hanya mengendikkan bahunya tak peduli.

"Kita batalkan perjodohan ini. Dan Wiza ... kita batalkan juga kerja sama kita. Saya tidak habis pikir sama kamu. Kenapa kamu keukeuh menjodohkan anak kita di saat putramu sendiri sudah menikah?" Setelah itu Rasel; ayah dari Elea, pergi dari sana seraya menarik tangan putrinya. Fenly pun ikut pergi dari sana karena tidak ada urusan, ia hanya mengantarkan Gabby saja.

Sepeninggal keluarga Elea, Wiza menatap nyalang Gabby. Gara-gara gadis tidak tahu diri itu, ia kehilangan ratusan juta.

"Om, tolong jangan paksa saya pergi dari Zavier," mohon Gabby.

Mendengar hal itu tentu saja membuat Zavier marah. "Pi!"

"Saya mencintainya, Om. Hanya Zavier yang saya miliki sekarang. Saya mohon, ijinkan Zavier bersama saya. Saya minta maaf karena sudah merusak hubungan keluarga kalian, saya tidak tahu kalau Zavier sampai bersikap seperti itu.

Dan ... tolong jangan pisahkan anak saya dengan ayahnya." Terdengar nada putus asa di akhir ucapan Gabby.

Zavier langsung menatap Gabby tak percaya. Ia tidak salah mendengar, kan?

"Saya hamil. Jadi, saya mohon biarkan Zavier bersama saya."

tbc👙

Deapest Fall [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang