happy reading👙
Gabby melangkahkan kakinya dengan tergesa. Napasnya pun memburu seiring dengan kecepatan langkahnya. Bahkan beberapa kali Gabby hampir tersungkur karena tidak sengaja menginjak dress yang ia kenakan.
"Pelan-pelan, Gab," ucap Zavier yang sedari tadi mengikuti langkah Gabby.
Namun Gabby tidak mengindahkan ucapan Zavier, yang ada di pikirannya saat ini hanya keadaan Alea.
Mata Gabby menangkap keberadaan Herma yang tengah duduk di kursi tunggu.
Gadis itu langsung menghampiri Herma. "Bunda kenapa, Mam?"
Wajah Herma sudah berlinang air mata. Bahkan hidungnya pun sudah memerah. Sepertinya ia sudah menangis sedari tadi.
"Pas ke rumah, Mami temuin Bunda kamu udah pingsan, Gab."
Bahu Gabby terkulai lemas. Napasnya masih tak beraturan. Ia takut terjadi apa-apa dengan Alea. Hanya Alea yang ia miliki saat ini.
Di sebelahnya; Zavier merangkul bahu Gabby. Mengusap lembut lengan gadis itu. Bukannya tenang, Gabby dibuat semakin sedih. Akhirnya ia menumpahkan tangisannya lagi di pelukan Zavier.
"Udah, Gab. Bunda nggak akan kenapa-kenapa," ucap Zavier menenangkan.
"Bunda nggak pernah kayak gini, Zav."
Tidak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan yang berisikan Alea. Melihat itu, Gabby langsung menghampiri dokter tersebut.
"Gimana keadaan Bunda, Dok?"
"Silahkan masuk, Mbak. Pasien ingin bertemu dengan keluarganya," ucap sang Dokter mempersilahkan mereka untuk masuk.
Gabby melangkahkan kakinya tidak sabar ingin melihat keadaan sang Bunda. Air matanya kembali keluar setelah melihat keadaan Alea yang berbaring tak berdaya di atas ranjang.
"Bunda ...," lirih Gabby seraya menggenggam jemari Alea.
Dengan keadaan yang lemah, wanita satu anak itu menarik sudut bibirnya; tersenyum ke arah putri semata wayangnya.
"Gab?" panggilnya.
"Iya, Bunda. Ini Gabby." Gadis itu berusaha membalas senyuman Bundanya.
"Ada yang ingin Bunda bicarakan sama kamu, sama Zav." Mata Alea menatap Zavier agar menghampirinya juga.
Wanita itu menggenggam tangan Zavier erat. "Zav ... boleh Bunda minta satu hal sama kamu?"
Zavier mengangguk pelan. "Apapun itu."
Alea tersenyum lemah. "Nikah sama Gabby ya, Zav?"
Itulah permintaan terakhir Alea yang Zavier sanggupi sebelum kepergian Alea untuk selama-lamanya.
Zavier melirik Gabby yang sudah resmi menjadi istrinya pagi tadi. Gadis itu menatap ke luar jendela. Hujan rintik membasahi bumi, memberi efek dingin untuk mereka yang baru saja kehilangan.
"Gab ... makan dulu," ucap Zavier menghampiri Gabby dengan semangkuk bubur di tangannya.
Gabby hanya diam saja tidak merespon. Bibirnya kelu. Suaranya seakan hilang; bersamaan dengan hilangnya sosok yang ia cintai.
"Lo harus makan, jangan bikin Bunda lo sedih karena keadaan lo sekarang ini."
Melihat Gabby yang tak bergeming dari posisinya, Zavier menyimpan bubur itu di atas meja dan berjalan menghampiri Gabby yang berdiri di samping jendela terbuka. Ia menutup jendela tersebut.
Percikan air hujan mengenai tubuhnya. Gabby sengaja membuka jendela kamarnya.
"Kenapa jendelanya dibiarin kebuka? Lo jadi kena air hujan. See? Lo kedinginan," ucapnya seraya memakaikan jaket miliknya ke tubuh mungil Gabby.
"Jangan keras kepala kayak gini, Gab. Bunda lo pasti sedih."
Gabby memejamkan matanya sejenak lalu menarik napasnya dalam.
"Lo pulang aja," titahnya dengan suara parau.
"Gue suami lo sekarang."
Malas berdebat, Gabby memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya. Ia tak ada tenaga untuk saat ini. Biarlah terserah Zavier ingin seperti apa.
"Gab?" panggil Zavier yang ikut merebahkan dirinya di samping Gabby. Ia menyentuh pundak Gabby yang bergetar, mengelusnya lembut.
Tubuh Gabby semakin bergetar bersamaan dengan tangisnya yang pecah. Isak tangis memenuhi ruang kamar. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya meluap. Selama pemakaman pun Gabby hanya diam dan meneteskan air matanya sesekali. Dadanya begitu sesak.
"Keluarin semuanya, Gab. Jangan tahan diri lo."
Setelah hampir setengah jam Gabby menangis kencang, kini tangisnya perlahan reda. Napasnya pun sudah teratur.
Zavier tidak berhenti mengelus pundak Gabby. Bahkan ia memeluk istrinya erat.
"Don't leave me, Vie." Suara lirih yang hampir tidak terdengar itu masuk ke telinga Zavier. Tubuhnya membeku sesaat sebelum ia semakin mengeratkan pelukannya dan menggenggam tangan Gabby.
tbc👙
memang tdk jlas, soalnya gbut ㅋㅋ
KAMU SEDANG MEMBACA
Deapest Fall [END]
RomanceStory of Gabby & Zavier *** Hidup bertahun-tahun sebagai sahabat Zavier membuat Gabby tidak bisa merasa bebas. Lelaki itu terlalu mencampuri urusan asmaranya. Hingga suatu hari, perlakuan yang Zavier lakukan membuat Gabby menjauhinya. Di mata Gabby;...
![Deapest Fall [END]](https://img.wattpad.com/cover/309159927-64-k936421.jpg)