👙Part 15👙

4.1K 63 2
                                        

happy reading👙

"Makasih ya, Gab sudah mau Mami repotkan malam-malam begini. Kalau tidak ada kamu, Mami-"

"It's okay, Mam. Aku pasti bantu selagi aku bisa. Jadi Mami kalo butuh bantuan, aku pasti bantu kok."

Herma tersenyum. Tangannya bergerak mengusap rambut Gabby yang dibiarkan tergerai itu.

"Beruntungnya Zav memiliki istri seperti kamu." Mendengar kata 'istri' membuat Gabby hanya bisa tersenyum kecil. Ia masih belum terbiasa mendengar kata-kata tersebut, apalagi diperuntukkan padanya.

Wanita itu melirik arloji di pergelangan tangannya. "Sudah hampir tengah malam, Gab. Kamu pulang atau mau menginap di sini saja?"

"Gab pulang aja, Mam."

"Bahaya loh, Gab. Enggak telepon Zav saja biar jemput kamu di sini? Tadi hp nya kamu tinggalin kan?" Gabby mengangguk.

Ponsel Zavier memang sengaja ia simpan kembali di tempat asalnya. Namun masalahnya, memang Zavier bersedia untuk datang menjemputnya di rumah sakit? Bahkan lelaki itu sudah berkata akan mengabaikannya.

"Nggak apa-apa deh kayaknya, Mam. Aku pamit dulu."

"Ya sudah. hati-hati ya, Gab. Kabarin Mami kalo kamu sudah sampai." Gabby mengangguk lantas melangkahkan kakinya menjauhi keberadaan Herma.

Matanya melirik kesana-kemari. Banyak orang di sana meskipun sudah hampir tengah malam. Bahkan beberapa kali brankar bolak-balik membawa pasien kecelakaan yang bersimbah darah. Sesekali Gabby bergidig ngeri.

Tak lama setelah kepergian Gabby, seseorang dengan langkah besar berjalan mendekati Herma.

"Gabby mana, Mam?" tanyanya setelah berdiri di hadapan Herma.

Ibu dua anak itu berdecak seraya menggelengkan kepalanya. "Kamu baru pulang jam segini? Gila ya kamu tinggalin istri kamu sampe tengah malam. Kayaknya kalo Mami nggak kirim pesan, kamu nggak akan datang ke sini. Untung saja Mami simpan hp kamu di kamar," cerocos Herma yang kesal melihat perilaku putra sulungnya.

"Maaf, Mam."

"Jangan minta maaf sama Mami. Minta maaf ke istri kamu tuh." Zavier terdiam. "Udah sana susul istri kamu. Palingan masih di parkiran."

"Ya sudah, Mam. Aku susul Gabby, ya."

Di sisi lain, Gabby menghela napasnya panjang. Sesampainya di parkiran, ia dikejutkan oleh ban mobilnya yang mengempes. Pantas ketika di perjalanan tadi, ia merasa tidak nyaman dengan mobilnya. Ternyata memang kempes. Beruntunglah ia sudah mengantarkan Herma dan Zira.

Namun sekarang bagaimana nasibnya? Bengkel langganannya pun tidak bisa dihubungi karena sudah tengah malam.

Tiba-tiba ia merasakan sebuah tepukan kecil di pundaknya yang membuat dirinya tersentak kaget.

"Beneran lo ternyata," ucapnya setelah Gabby membalikkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.

"Fenly? Lo ngapain malem-malem di rumah sakit?"

"Dugem."

Gabby menepuk kencang lengan Fenly. "Lo yang bener aja."

"Ya lagian. Menurut lo aja deh kalo kita ke rumah sakit, kira-kira ngapain?"

Terdengar Gabby berdecak. "Lo jenguk temen, atau ...?"

"Nganterin baju gantinya Kakak gue."

"Ohhhh, Kak Sisy udah lahiran?" tanya Gabby antusias. Walau belum lama menjalin hubungan dengan Fenly, tapi ia sedikit tahu tentang keluarga lelaki itu.

Fenly tersenyum. "Tadi siang si lahirannya."

"Anaknya cewek or cowok?"

"Cowok. Ganteng kayak Om nya," ucap Fenly dengan percaya dirinya.

Gabby berekspresi seakan ingin muntah yang membuat Fenly tertawa.

"Lo mau liat?"

"Liat apa?"

"Anaknya Kak Sisy lah, masa liat gue."

Wajah Gabby langsung sumringah. "Ih mauuuuuu. Sekarang?"

"Gila lo."

"Besok?"

"Terserah lo mau kapan."

"Besok sore, ya?"

Fenly mengangguk. "Boleh. Apa si yang enggak buat lo." Mendengarnya, Gabby mencibir yang membuat Fenly terkekeh.

"Omong-omong, lo ngapain dah di sini tengah malem gini?"

Gabby menepuk dahinya. "Abis anter mertua. Pas mau balik, eh ban mobil gue bocor kayaknya."

"Udah kontek bengkel langganan lo?"

"Nggak bisa dihubungi."

"Iya si, udah tengah malem gini." Fenly melihat ke sekitarnya. "Mau gue anter balik aja? Biar mobilnya besok aja dibawanya."

"Nggak repotin lo?"

"Kagak lah. Ini sekalian gue balik juga kan."

Gabby tersenyum. "Boleh deh kalo gitu."

Tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar. "Wait, Fen. Ada yang telepon." Ternyata dari Zavier.

"Dimana?" tanya Zavier langsung tanpa menyapa terlebih dahulu.

"Rumah sakit."

"Nggak akan balik? Seru banget ngobrolnya, ya?"

"Apa sih? Nggak jelas banget."

"Ya lo mau balik nggak? Betah banget kayaknya lo di sana."

"Ini mau balik."

"Ya udah sini cepetan."

"Hah?"

"Balik sama gue."

Mendengar itu, Gabby menggerakkan kepalanya ke segala arah mencari keberadaan Zavier untuk memastikannya. Benar saja, lelaki itu berdiri sedikit jauh darinya.

"Udah liat, kan? Cepet nggak usah keganjenan jadi cewek." Setelah itu Zavier mematikan teleponnya.

"Kenapa, Ans?" tanya Fenly melihat Gabby yang seperti tengah mencari seseorang.

"Gue nggak jadi nebeng dah, Fen. Sorry dan thanks ya sebelumnya."

"Laki lo jemput?" Gabby mengangguk.

Terlihat raut wajah kecewa Fenly yang tidak Gabby sadari.

"Besok kabarin gue kalo mau jenguk Kak Sisy." Setelah itu Gabby melangkahkan kakinya menjauhi Fenly dengan tergesa.

Seharusnya ia bisa menolak Zavier. Namun lagi-lagi egonya kalah jika itu menyangkut Zavier.

tbc👙

Deapest Fall [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang