Story of Gabby & Zavier
***
Hidup bertahun-tahun sebagai sahabat Zavier membuat Gabby tidak bisa merasa bebas. Lelaki itu terlalu mencampuri urusan asmaranya.
Hingga suatu hari, perlakuan yang Zavier lakukan membuat Gabby menjauhinya.
Di mata Gabby;...
"Ansel, turut berduka cita ya atas kepergian nyokap lo."
Begitulah kalimat yang Gabby dengar sejak ia tiba di kampus. Yang Gabby lakukan hanya tersenyum kecil dan mengucapkan terima kasih.
Ia terpaksa masuk hari ini karena ada ujian yang tidak bisa ia tinggalkan. Jika saja tak ada ujian, Gabby memilih diam saja di rumah. Ia terlalu malas bertemu dengan orang lain yang ikut mengucap duka cita padanya. Hal itu semakin membuat Gabby sedih atas kenyataan yang ada.
Sembari menunggu dosen, Gabby membuka ponselnya. Ternyata ada pesan dari Zavier.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sejauh ini, Zavier memang memperlakukan Gabby dengan baik. Bahkan tadi pagi saja lelaki itu membuatkannya sarapan. Sekarang Zavier tidak lagi menggunakan panggilan lo-gue.
Gabby masih tidak menyangka jika sekarang ia menikah dengan sahabatnya itu. Yang ada di pikirannya adalah, apa Zavier akan tetap bersama Elea?
Dalam diam Gabby tersenyum miris. Sadar, Gab ... dia nikahin lo cuma keinginan Bunda lo aja, ucapnya pada diri sendiri. Gabby berusaha untuk sadar diri. Meski ia tidak ingin Zavier meninggalkannya, tapi ia tahu jika waktu itu akan tiba.
Karena larut dalam pikirannya sendiri, Gabby sampai tidak sadar jika dosennya sudah tiba di kelas diikuti oleh Aleeza yang berlari kecil menuju tempatnya.
"Ansellll," panggil Aleeza dengan suara sedikit kencang hingga sukses membuat semua orang di sana memperhatikannya.
Aleeza menyengir seraya menundukkan kepalanya meminta maaf sudah membuat bising.
"Kok lo masuk si? Harusnya lo gak usah masuk dulu."
"Gak bisa, Ley. Ada ujian."
"Ujian?" tanya Aleeza bingung sebelum menepuk jidatnya pelan. "Lah iya anjir ada ujian."
Gabby hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya ini. Aleeza memang sering kali mengabaikan apapun seputar kuliahnya. Jadi Gabby sudah tidak aneh lagi dengan Aleeza yang seperti sekarang ini.
"Btw, Ans," panggil Aleeza.
"Kenapa?"
Aleeza menggelengkan kepalanya. "Nggak jadi deh."
"Nggak jelas lo." Aleeza menunjukkan deretan gigi rapinya.
👙👙👙
Baru saja Gabby keluar kelas, ponselnya bergetar di saku celananya. Ada sebuah telepon masuk yang Gabby tahu siapa pelakunya.
"Iya, Zav?"
"Udah beres?" tanya Zavier di seberang sana.
"Baru beres, ini baru keluar."
"Aku jemput bentar lagi, ya? Ini lagi ada perlu dulu bentar."
"Nggak perlu, aku balik sendiri aja. Nanti-"
"Gab, tunggu bentar aja. Aku jemput, balik sama aku."
"Aku bisa balik-"
"Ansel?" Suara seseorang di belakang yang memanggil nama Gabby itu menghentikan kalimat Gabby.
"Aku jemput sekarang." Setelah berkata sedikit dingin, Zavier menutup sambungan teleponnya.
Gabby hanya mengerutkan dahinya, lalu menolehkan kepalanya melihat siapa yang memanggilnya.
Senyumnya terukir setelah melihat ternyata kekasihnyalah yang memanggil dirinya tadi.
"Kok ngampus? Bukannya istirahat," ucap Fenly seraya merapikan rambut Gabby yang sedikit menghalangi wajah Gabby yang bengkak, namun masih terlihat cantik.
"Ada ujian."
Fenly menganggukkan kepalanya. "Langsung balik? atau ada kelas lagi?"
"Ada sih, tapi gue mau langsung balik. Gue datang cuma buat ujian aja."
"Gue anterin ya?"
"Nggak usah, gue balik sendiri aja."
Lagi, Fenly menganggukkan kepalanya mengerti. Ia mengusap lembut pipi Gabby. Namun ketika ia akan mengecup kening gadis itu, Gabby memalingkan wajahnya membuat Fenly mengernyitkan dahinya.
"Kenapa?"
"Ada yang mau gue omongin," ucap Gabby serius. Ia ingin mengatakan semuanya pada Fenly jika ia sudah menikah dengan Zavier. Dirinya tidak mau menyakiti Fenly nantinya.
"Apa?"
Belum sempat Gabby mengatakan yang sebenarnya, seseorang sudah menarik lengan untuk pergi dari sana.