34 √ The Wild Card

225 36 18
                                    

Kalau kau tanya Aldy, ia akan menjawab 'tidak tahu' saat ditanya kenapa ia mau-mau saja secara dadakan menemani seorang Dewantara Arjuna Prasetya mencari gelato jam delapan malam.

Sejujur-jujurnya, barangkali Aldy akan jawab ia mengiyakan karena bagaimana Dewa menelfon Aldy dan bicara tanpa ba-bi-bu, langsung to the point ke keinginannya apa—bertanya Aldy free atau tidak.

Setengah semester lebih berurusan dengan Dewantara Arjuna Prasetya yang kerap kali mengganggu kehidupannya tanpa tau yang namanya rasa malu, Aldy sadari kalau misalkan Dewa itu adalah seseorang yang saat sedang serius berarti suasana hatinya sedang sangat buruk.

Aldy terlalu terbiasa dengan Dewa yang berisik walau tak digubris, jadi melihatnya diam saja sambil menikmanti sebuah gelato mint-chocolate chips adalah hal aneh.

Bukannya Aldy protes.

Kalau interaksinya dengan Dewa begini terus, dengan Dewa yang hanya minta ditemani, mungkin mereka bisa lebih akur.

Garisbawahi kata mungkin.

"Dy?"

Ah, gadis itu terlalu cepat bicara ternyata.

Seperti biasa, Aldy tidak menjawab.

"Reksarawa Dhanukarna Haling itu orang yang kayak gimana?"

Dan datang pertanyaan yang tidak Aldy duga.

Gadis yang tengah menikmati gelato rasa dark cocoa miliknya mengerjap, lalu menyipitkan matanya penuh dengki ke arah Dewa—bisa-bisanya ia menyebutkan nama orang itu di hadapan Aldy. Seharusnya dari lingkungan mereka saja ia tau lampu merah yang datang menyertai nama sialan itu.

Dewa hanya tersenyum simpul atas tatap membunuh Aldy, "Too soon? Okay."

Lihat?

Ia bahkan tidak mencoba untuk membuat Aldy bicara saking jeleknya suasana hatinya. Mood-nya begitu buruk, sampai ia tidak memiliki keinginan untuk memulai omong kosongnya yang seperti biasa.

Aldy mengedarkan pandang dan menyendok gelatonya, memasukkannya ke mulutnya, "Kenapa?"

Kenapa lo tanya?

Kenapa Reksarawa Dhanukarna Haling?

Kenapa yang ditanya Aldy?

Ada banyak sekali pertanyaan yang bisa diutarakan hanya dengan satu kata itu—Aldy tidak mengerti bagaimana Dewa bisa cukup kenal Aldy untuk tau yang mana yang ditanyakannya.

"You seem to hate him, now." Dewa berucap tenang, menyendok gelatonya juga, "That means you at least know his updates. You hold grudges. For life. If you're Damian Zhegraive's protégé, that means you don't let go of your prey. You just let them play before you end their life miserably."

...Harus Aldy akui, dia tidak salah.

Caesar tidak pernah mengajari Aldy untuk melepas orang yang membuatnya dendam. Aldy hanya merasa ini belum waktunya—ia tidak merasa 'Haling' adalah dinding tinggi yang tidak bisa ia taklukan, maka ia ulur waktunya 'mengurusi' pemuda yang dipanggil Anya dengan nama 'Duryudana' itu.

"Dia masuk kandang lo." Aldy pada akhirnya mau menjawab, dan satu-satunya justifikasi yang akan ia gunakan adalah kenyataan bahwa ia tidak ingin membuat suasana hati Dewa yang jelek jadi tambah parah untuk mencari aman. Aldy pernah bilang, bahkan dia tidak mau bertemu Dewa yang suasana hatinya buruk, "Dan ngobrak-abrik hasil jeri payah lo, the way he almost did Caesar's."

Dewa berdehem, tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah kudapan dingin di tangannya sambil sesekali menyendokinya untuk dimasukkan ke mulutnya.

Setelah jeda agak lama, Dewa kembali buka suara; "If I ruin him there, will he go back here?"

EnigmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang