5 √ A Priori

375 56 4
                                    

Aldy dikenal luas sebagai troublemaker putri nomor satu Siegfried International divisi SMP.

Kepalanya Zona Merah, lah. Pawang anak-anak nakalnya divisi SMP, lah. Dan banyak hal-hal lain macam itu yang pada akhirnya hanya masuk telinga kanan Aldy lalu keluar di telinga kirinya karena ia anggap tak penting.

Yang tau nama Aldy juga pasti tau; Aldy tak pernah ikut peraturan orang lain kecuali peraturan dasar yang dibuat Damian. Dia tak akan segan melanggar bila situasi dan kondisi mengharuskannya untuk itu – hukum dasar negara sekalipun.

Jadi, sebenarnya berkata 'jangan' padanya akan berujung percuma.

Toh, Aldy akan seenaknya saja melakukan apapun itu yang kau larang padanya sesuka hatinya bagaimanapun resikonya.

'Kan dia yang menanggungnya?

Itu yang akan jadi alasannya nanti bila ditanya mengapa ia bolos kegiatan sekolah yang harusnya ia ikuti sampai akhir atas mandat Nyai Eleanor Cassandra Farrelzean dan Kanjeng Ndoro Karin Advaya Prameswari.

Alasan sebenarnya?

Karena urusan dengan ekskul basket saat ishoma kemarin menghancurkan mood-nya. Aldy sudah mulai bolos sejak siang kemarin.

Daripada harus bertemu makhluk-makhluk menyebalkan macam mereka itu, lebih baik ia bolos untuk tidur saja di kawasannya sampai *KBM berlangsung normal kembali.

*KBM – Kegiatan Belajar-Mengajar

Dan sekarang, Aldy tengah duduk di salahsatu dahan terkuat sebuah pohon tinggi di padang rumput pekarangan kosong di tengah hutan sekolahnya.

Secara singkat – di Zona Merah.

Menyender santai dengan salahsatu kakinya lurus dan yang satu lagi menggantung ke bawah. Matanya terpejam, seperti sedang tertidur.

– Namun kedua pemuda yang tengah berdiri di bawah pohon itu sambil memandangi sosok Aldy tau lebih baik dari yang akan dipikirkan orang lain untuk tak mengganggunya.

Yang lebih pendek menatap teman di sebelahnya, yang hanya menatapnya balik seakan berkata : 'Lo aja.'

Arkan menggeleng cepat berkali-kali, sebelum menatap Leon dengan raut memelas. 'Lo mau gue mati!?'

Sang calon Ketua OSIS hanya menggidik menjawab sohibnya itu.

Arkan mendecak sebal.

"Temen macam apa yang ngebiarin temennya dimakan singa" gumam Arkan yang menatapnya sinis.

Leon menggidik lagi sambil menjawab pelan untuk menjaga volume bicara, tidak ingin mengganggu tidur Aldy. "Memangnya kita temen?"

Anjir.

Perkataan menohok dari Leon seakan menampar Arkan yang langsung menatapnya melongo.

"Lo kalo dapet masalah lagi nggak gue bantu loh ya!" ancam Arkan, yang dijawab Leon dengan mendengus geli.

"Nggak apa. Gue anak kesayangan Aldy 'kan? Ngapain minta lo kalo Aldy bisa?"

Respon monoton bin acuh dari Leon langsung disambut raut Arkan yang lebih masam lagi.

"Lo berdua berisik."

Namun interaksi teatrikal Leon dan Arkan mendadak berhenti begitu saja ketika suara gadis yang tengah bersantai di atas pohon tiba-tiba terdengar mencekam mereka.

Keduanya mendongak, mendapati tatap tajam Aldy lurus memandangi mereka.

Yikes.

Arkan langsung tertawa canggung, Leon hanya menghela nafas pasrah.

EnigmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang