29 √ A Little 'Birdie'

222 32 5
                                    

Kamis sore adalah jadwal latihan ekstrakurikuler basket—Divisi SMP dapat jadwal di lapangan outdoor sementara Divisi SMA di lapangan indoor.

Lapangan basket outdoor Siegfried yang letaknya di area gedung olahraga ada dua, jadi untuk latihan basket putra dan putri dipisah.

Seperti beberapa minggu sebelumnya, Dewa tengah duduk manis di salahsatu kursi taman yang terletak di luar lapangan. Tidak berbeda jauh dari beberapa kali ia menempati meja dan kursi taman yang jadi langganannya ini, ia kelihatan sibuk mengurus sesuatu di laptop hitam berlogo 'Z' miliknya.

Sebetulnya Dewa bukan non-anggota basket satu-satunya di sekitar tempat itu—ada beberapa kelompok siswa yang datang untuk menonton teman mereka latihan, ada beberapa juga yang datang bukan untuk mereka yang dari Divisi SMP namun untuk curi pandang pada Dewa.

Dewantara itu tidak narsis, kok. Hanya saja, dirinya yang agak sensitif kalau sedang diperhatikan tidak mungkin tidak merasa tatap curi-curi dari beberapa kelompok gadis yang sok tengah menonton latihan. Apalagi jika beberapa dari mereka bisa-bisanya mengambil foto Dewa secara diam-diam.

Untungnya, skill 'bodo amat' Dewa sudah dilatihnya sampai max.

Bunyi peluit terdengar nyaring, Dewa melirik ke arah lapangan mendapati Aldy tengah berdiri di samping Coach Zoya dengan papan jalan warna merah kesayangannya.

"Reza, come here! Untuk yang lain, 10 minutes break." Wakil kapten Aldy itu berjalan menurut atas panggilan Coach mereka, anggota ekskul basket putri Divisi SMP yang lain langsung berjalan menuju sisi lain lapangan untuk mengambil minum.

Aldy kelihatan sekali serius, tangan kanannya yang memegangi pulpen menunjuk-nunjuk ke arah lapangan. Ia, Coach Zoya, dan Reza tampak sedang berbincang dengan satu sama lain mengenai latihan tadi. Dewa menopang dagu, menoleh sepenuhnya ke arah lapangan hanya untuk menonton sekilas mumpung pandangannya tidak terhalang pebasket yang berlalu-lalang.

"Excuse me?"

You're excused.

Excused for bothering his me-time, that is. Now, leave.

"Gue boleh duduk di sini?"

Tsk.

Dewa samar-samar menarik nafas, menahannya lalu menghembuskannya singkat. Ia menoleh ke gadis yang berdiri di seberangnya, tersenyum simpul.

"Silahkan." Dewa menegakkan punggungnya lagi, tatapnya beralih ke laptop di hadapannya. Ia melanjutkan kerjanya merevisi juklak Duta Sekolah yang akan diadakan dua minggu lagi.

"You're Dewantara Arjuna, oui*? Anak baru? Gue Éliane d'Orléans, tapi most calls me Eli."

Seseorang yang berkebangsaan luar Indonesia adalah pemandangan biasa di Siegfried, mengingat reputasi sekolah ini yang tenarnya sampai mancanegara. Tapi terkadang ada satu-dua orang yang memiliki... kedudukan yang lumayan mencengangkan.

Termasuk Éliane d'Orléans yang tiba-tiba mengakrabkan diri kepada Dewa ini.

Bagian dari keluarga d'Orléans—keluarga bangsawan Prancis, keturunan Louise-Philipe I d'Orléans yang merupakan raja terakhir Prancis sebelum diambil alih oleh Charles Louis Napoléon Bonaparte.

"Just call me Dewa then, Eli. Salam kenal." Dewa tidak memberinya perhatian lebih dari itu, sibuk sendiri dengan dokumen yang tengah dibacanya ulang.

Éliane d'Orléans itu rupawan, bisa termasuk deret perempuan paling jelita di Divisi SMA walau dirinya baru masuk sebagai anak elevasi. Suaranya merdu dan memikat, Eli juga terkenal sebagai salahsatu penyanyi Soprano utama di Choir sekolah.

EnigmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang