23 √ Kedok Tanpa Nyawa

304 39 9
                                    

Aldy tidak hadir di sidang hari itu, but she might as well be there.

Penuntut sidangnya memang Koordinator Eksekutif B, Andrew Nicholas – putera salahsatu aktivis sekaligus politikus demokrat terkenal dari Amerika, Harvey Nicholas.

Semua data yang ia berikan beserta jawaban dan kalimatnya sebagai penuntut tersusun begitu rinci dan begitu rapi, dengan penuturan yang sempurna dan penempatan beberapa penekanan dengan strategis. Bukti-bukti yang dipaparkan menutup segala celah protes alasan 'terdakwa'.

Dewa agak terkejut.

Ia tau Aldy adalah pribadi yang akan, kata kuncinya akan bisa membuat orang lain takluk sampai bertekuk lutut di hadapannya, ia tau gadis itu akan tumbuh menjadi seorang pemimpin alami – sadar akan potensi raksasa dalam caranya membawa diri.

Akan bisa. Nanti, kiranya. Bukan sekarang. Tidak ada alasan bagi Andrew untuk menuruti apa kata Aldy, untuk menyampaikan berdasarkan apa yang disediakan Aldy. Untuk ukuran mereka yang haus akan 'pencapaian', menurut Dewa agak aneh ada seseorang yang mau menurut begitu saja.

"Dia anak SMP." Dewa berucap setelah mereka keluar ruangan, "Anak Kelas A yang gue yakin tugas sekolahnya kayak setan, nggak jauh banget sama yang divisi SMA. Gimana ceritanya dia bisa dapet semua alibi itu dalam sehari?"

Yang menjadi jawabannya adalah gerak Ale yang memutar kepalanya memastikan hanya ada mereka berdua di jalan mereka kembali ke divisi SMA, sebelum lurus menatap Dewa.

"Sebenernya itu jadi kontradiksi, jujur aja. Tapi keberadaan dia itu memang dari sananya jadi enigma berjalan di Siegfried – walaupun ini bisa digambarkan sebagai ketidakseimbangan sepihak, keberadaan dia absolut dan mereka nggak bisa ngapa-ngapain untuk 'ikut campur' karena udah pernah kalah." Aleco menggidik bahu, sementara Dewa masih memandangnya tidak mengerti.

Ale menghela nafas.

"Mereka beberapa memang banyak yang enggak terima. Banyak kok anak-anak divisi SMA yang udah... ah, 'berpengalaman' sama keorganisasian di Siegfried dan nggak terima kenyataan bahwa mereka kalah sama anak SMP kayak Aldy – mana latar belakang Aldy itu rasanya nggak 'sebanding' sama yang diketahui publik."

Pemuda berdarah Indonesia itu menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangan kanannya. Ale tampak tengah memikirkan kata-katanya selanjutnya.

"Gara-gara ada 'Aldy'," ia memainkan kedua tangannya di depan dada untuk membuat tanda kutip imajiner, "Pernah ada konflik besar-besaran di Siegfried, alias pernah ada coup d'état."

Alis Dewa naik tinggi atas pernyataan itu. "Coup? Di masanya Damian?"

Aleco mendengus, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Lucu, kan? Sang Kaisar mau digulingin gara-gara dia milih junior itu lompat generasi. Banyak yang nggak terima. Rata-rata yang punya 'kursi' di Siegfried itu yang lulus ujian masuk dengan nilai cemerlang, mereka yang udah 'booking' sejak anaknya lahir atau bahkan sebelum anaknya lahir dengan 'kekayaan' mereka, atau kasus yang agak jarang – 'booking' kuota ujian masuk untuk nggak perlu ikut tes registrasi dan lain-lain, terus lulus dengan usaha mereka sendiri. You can roughly imagine what happens after."

Ale menyeringai ke arahnya, mengedipkan mata. "Andrew Nicholas masuk kategori ketiga. He's old money, keluarganya politisi dari generasi ke generasi dan mereka punya akar kuat di US but he's brilliant. Dia salahsatu 'jaringan' yang dipunya Aldy. Cunning with a silver tongue, jago baca situasi dan retorikanya flawless."

Dewa mengerti apa yang ingin digambarkan oleh Aleco.

Kekuasan, harta, relasi. Semua itu bisa kau dapat dengan begitu mudah hanya dengan menyatakan kau bagian dari Siegfried. Asal kau mampu bersaing, menggeret nama Siegfried International Academy saja sudah cukup untuk menghasilkan curriculum vitae yang cemerlang.

EnigmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang