Mereka jarang bisa seperti ini.
Atau barangkali, mereka seringkali memiliki kesempatan untuk berada dalam suasana seperti ini namun selalu hancur karena Dewa sendiri.
Barulah ketika ia benar-benar berada dalam nadir ia menyadari sebenarnya Aldy tidak akan melangkah jauh jika bukan Dewa yang mendorong.
Dan Dewa nyaris mendorongnya jatuh dari tepi jurang.
'Maaf' saja tidak akan pernah cukup.
Ia mengerti sekarang apa maksud kata-kata bocah tengik itu, dulu kala.
"Apa yang bikin lo nggak suka banget sama gue dulu di awal kita kenal, sebenernya?" Penasarannya muncul, "Sampai gue harus jungkir balik sedemikian rupa biar lo mau bahkan ngelirik ke arah gue?"
Pasang ratna cempaka tak terbaca itu perhatiannya kembali beralih padanya – sesuatu yang menjadi adiksi dan obsesi Dewa bahkan sampai sekarang.
Pemiliknya tak jua memberi jawab, hanya dalam diam menelanjangi Dewa dengan tatap yang seakan bisa menembus ke Dewa dibalik segala omong kosongnya dan segala jaring kebohongan yang dirajutnya.
"Gue tanya balik," gadis muda itu berucap singkat. "Kalau lo lihat ke cermin, yang lo lihat itu siapa?"
Dewa diam, itu jawaban sekaligus pertanyaan yang berhasil menskakmat dirinya.
Cowok itu tersenyum miring, "Gue nggak tau."
Aldy mengangguk, pandangannya kembali berpendar pergi dari Dewa. "Lo ngerti itu jawabannya, 'kan?"
Pertanyaan lagi, kali ini retoris. Aldy tidak suka pertanyaan retorisnya dijawab, jadi Dewa hanya bisa tertawa hambar.
"Am I pathetic?"
"Hopelessly so."
"Am I chasing for something that was never going to be there since the very beginning?"
Aldy diam.
"Not really," Aldy bergumam, kini tatapnya agak sayu. "Lo harusnya tau kalau dingin itu juga rasa awal ketika lo kebakar, bukan cuma hal yang bisa lo rasain kalau megang es."
"I built myself a burning castle, then?"
"Ego lo juga tambahan alasan, by the way."
"Gue orang berkelas," Dewa menepis sindiran Aldy itu dengan mudah, "A mansion is too small for my taste."
Aldy mendengus. Dewa tersenyum kaku, walau tipis.
Paling tidak ini berarti ia benar-benar melangkah, berbanding terbalik dari maju berjinjit yang ia lakukan selama ini.
Paling tidak.
Walaupun bisa saja ia di ambang putus asa esok hari.
Yah, siapa yang tau?
"Aldy."
Gadis itu menoleh, dan Dewa memberinya senyum tulus – senyum yang sampai sekarang ini hanya ia beri untuk adik kelas yang menjadi jangkarnya.
"It's not over."
Dewa tidak mengerti tatap Aldy, ia tidak akan pernah bisa mengerti jika Aldy tidak ingin ia mengerti.
Ia sudah tahu itu dari lama. Ia menerima itu sebagai fakta.
"It's not." Aldy mengakui, alisnya kini agak tertaut seakan ia tidak tahu harus senang atau tidak.
Dewa yakin Aldy benar-benar merasa aneh dengan sikap Dewa yang murni tanpa kedoknya, ini yang membuatnya tidak senang.
Namun Dewa mengakui kekalahannya, yang bisajadi membuat Aldy senang.
Senang?
Entahlah.
Dewa tidak pernah melihat Aldy benar-benar bahagia – suatu fakta miris yang membuatnya menghela nafas gusar. Ia tidak tahu kriterianya, ia dan tujuh milyar penduduk dunia lainnya.
Teman-teman Aldy tau, tentu. Namun tidak berarti mereka akan membeberkannya kepada yang tidak bersangkutan maupun yang tidak berurusan dan berkepentingan.
"Do you hate me?"
"Enggak juga. Your kind of people in general, sure. Not you in specific."
"Have you ever actually hate me?"
"Not really."
"Bagus. Gue nggak tau harus gimana kalau lo beneran benci sama gue."
"...Hah?"
Dewa hanya memberinya sebuah kekehan pelan, pertama untuk seumur hidupnya ia benar-benar tidak merasa dikekang realita.
"Gue berasa manusia, Dy."
"A living, breathing, human being? Congratulations. About time, really."
"Memang selama ini menurut lo, gue anggap diri gue sendiri itu apa?"
Aldy hanya meliriknya, menatapnya dalam diam.
Heningnya Aldy merupakan jawaban bagi Dewa. Jawaban yang membuat senyumnya makin lebar, sungguh.
"Gue nggak pernah memanusiakan diri gue sendiri, ya?"
"Nggak. Nggak pernah."
Jawaban itu cukup bagi Dewa. Bagi dunianya yang sudah lama hancur, bagi nuraninya yang merajut asa kembali menyusun kepingan kebahagiaan yang sudah pernah Dewa telantarkan dan Dewa buang.
Nuraninya yang sudah terlalu lama dipendam nestapa, sehingga pada akhirnya pun yang bersisa hanya monokrom bekas yang asal disatukan abstrak tanpa arah.
Dewa tidak pernah bisa mengerti apa isi pikiran Aldy.
Dewa tidak akan pernah mampu jadi Alan Turing untuk Enigma milik Aldy, ia sadar itu.
Namun disini ia sadari ia tidak perlu melakukan itu.
Aldy pun tidak memintanya untuk melakukan itu. Aldy tidak pernah meminta apa-apa, ia sadari. Gadis ini yang memaksakan dirinya sendiri mengutamakan kebahagiaan orang lain dengan caranya sendiri, tidak pernah benar-benar meminta sesuatu yang akan menguntungkan bagi dirinya seorang sementara ia menutup segala kebusukan hidupnya rapat-rapat.
Tentu dengan cara khas Aldy, yaitu dengan wajah non-ekspresif, nada dingin bin menusuk, jarak dan dinding es tebal yang selalu ada di antara dia dan dunia, juga dengan prestasi benderangnya yang membutakan.
Dewa mendengus, mengabaikan tatap heran Aldy yang menatapnya bagai orang aneh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Enigma
Teen FictionFirst Book from the 'Arcanum' Trilogy, Apriori. . Siegfried International Academy bukan sekolah sembarangan, kata orang lain. Isinya hanya para kaum elit, isinya hanya para jenius dengan latar belakang yang bukan main-main. Di mata kaum awam, yang m...