"Terkadang Manusia lupa akan seribu kebaikan dan lebih mengingat satu kelasahan layaknya sebanyak sebuih lautan." -Zaraalthanni06
𝐻𝑎𝑝𝑝𝑦 𝑅𝑒𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔࿐
______________________________________
"Eh nak Aksa, dari kapan berdiri di situ? Ayo masuk," ucap Anjeli, ibu dari Bumigora.
Aksa menanggukan kepalanya pelan lalu berjalan ke arah wanita paruh baya itu, yang kini tengah duduk.
"Loh, Bumi nya mana sayang?" tanya Anjeli sembari celingukan kesana-kemari mencari keberadaan anak semata wayang nya itu.
"Bumi masih ada di sekolah Tan, masih ada tugas piket. Jadinya, Aksa yang datang kesini duluan buat jagain Adel," jawab Aksa terpaksa berbohong.
"Tante mendingan pulang aja, pasti kecapean nungguin Adel di rumah sakit," usul Aksa, ia tak tega melihat wanita yang sudah ia anggap keluarga sekaligus ibu nya itu tetap berada di rumah sakit semalaman untuk menjaga Adel yang masih terkapar lemas di rumah sakit.
"Nggak sayang, tante nggak kecapean kok. Kasihan kalau nak Adel di tinggal sendirian di sini," tutur Anjeli.
"Siapa yang bilang kalau Adel nggak ada yang jagain? Kan ada Aksa di sini, nanti Aksa yang bakalan nungguin Adel, lebih baik tante pulang aja sekarang...istirahat," ucap Aksa, sudah terlihat sangat jelas dari sorot kedua mata wanita paruh baya itu tengah letih dan tak dapat beristirahat secara maksimal di karenakan harus tetap terjaga, sewaktu-waktu Adel mulai siuman.
"Yaudah kalau gitu, Tante balik duluan ya nak...maaf jadi merepotkan."
"Nggak ngerepotin sama sekali kok, Tante mau Aksa anterin pulang?" tawar Azka.
"Nggak papa sayang, kasihan Adel nggak ada yang tungguin," tolak Anjeli halus.
"Yasudah Tan, hati-hati ya di jalan."
"Iya sayang, makasih ya sebelumnya. Kalau gitu tante pamit dulu, Assalamu'alaikum,"
"Walaikumsalam."
Setelah Anjeli keluar dari ruangan itu, Aksa mendaratkan bongkongnya di atas sofa yang terdapat pada sudut ruangan bernuansa putih itu, kini pandangannya tertuju pada gadis yang tekujur lemah di atas bangkar rumah sakit.
***
Bumi menghela nafasnya gusar di saat mengamati rekaman CCTV pasca kejadian Adel yang sudah di tabrak oleh sosok misterius. Kedua matanya membulat sempurna di kala melihat cuplikan video di saat Adel terpelanting cukup keras pada aspal. Pemuda itu bermata elang itu seketika, kini tersulut emosi.
"Tunggu pembalasan gue!" geram Bumi.
Bumi tersenyum semrik setelah menemukan plat mobil pelaku penabrakan tersebut, dirinya pun menyuruh beberapa orang suruhannya untuk melacak plat mobil sekaligus mengecek seluruh rekaman kamera CCTV di setiap sudut kota.
Hampir menunggu waktu 20 menit, cowok itu tersentak di kala ponselnya berdering, ia pun merogoh saku celana kanannya lalu mengeluarkan benda pipih itu.
[Halo Bos, Kami sudah menemukan mobil pelaku, sesuai dengan nomor platnya.]
[Bagus, sekarang kalian ada di mana?"] tanya Bumi.
[Kami ada di jalan merpati gang 117 bos.]
[Baiklah, saya kesana sekarang.]
Dirinya pun lansung melajukan mobil sedan putihnya menuju keberadaan pelaku penabrakan itu, setelah menempuh perjalanan hampir 40 menit, akhirnya ia pun sampai ke tempat tujuan dengan selamat.
Baru saja Bumi membuka kaca mobilnya terlihat seseorang yang sangat mencurigakan, bagaimana tidak dari penampilan nya saja sudah patut di curigai. Memakai jaket hitam, celana jeans lengkap dengan topi dan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
Bumi memperhatikan gerak-gerik sosok itu sampai akhirnya, sosok itu masuk kedalam mobil dengan plat yang sama, mobil yang sudah menabrak Adel tadi.
Cowok itu segera turun dari mobilnya lalu memberikan beberapa sedikit bekas lebam pada wajah pelaku penabrakan, walaupun terhalang oleh masker. Begitupun sebaliknya, sosok itu memberikan serangan yang sangat tak di duga oleh Bumi.
Ia menyerempotkan, cairan gas air mata yang membuat penglihatan pemuda itu sedikit buram dan kedua bola matanya terasa sedikit perih. Melihat Bumi yang meringis kesakitan akibat terkena cairan gas air mata itu, dengan cepat sosok itu melayangkan beberapa tijunya tepat pada sasaran wajah Bumi namun, dengan cepat Bumi menangkis semua serangan yang di berikan oleh orang itu. Walaupun kondisi kedua matanya yang masih terasa perih.
"Sial! Awas aja," decak sosok itu, ia memilih untuk meninggalkan Bumi di karenakan anak buah Bumi datang menghampiri.
"Bos, nggak papa?" tanya salah satu anak buahnya.
"Nggak usah urusin gue, mendingan kalian kejar pelaku nya. Jangan sampai lolos!" perintah Bumi, seketika orang-orang suruhan nya yang beranggotakan 5 orang itu mengejar pelaku penabrakan.
***
"Adel."
Cewek yang masih terkapar lemas di bangkar rumah sakit itu, kini menoleh di saat seseorang menyerukan namanya. Aksa, cowok itu membawakan nampan berisikan bubur dan segelas air mineral.
"Lo sudah siuman ternyata," ujar Aksa sembari menaruh nampan berisi makanan khas rumah sakit itu di atas nakas.
Adel mengulum senyum sembari melirik sekilas nampan yang berada di atas nakas. Aksa yang melihat Adel menatap makanan rumah sakit itu dengan tatapan tak suka Ia pun lansung mengambil makanan itu lalu memberikannya pada Adel.
"Lo kan sudah dua hari koma, mendingan lo makan aja sekarang. Hitung-hitung isi energi," ucap Aksa.
Adel menggelengkan kepala nya pelan, menolak nampan berisikan makanan yang di suguhi oleh Aksa padanya. "Nggak, gue nggak selera makan. Mendingan lo taruh aja makanannya di sana."
Aksa menghembuskan nafas berat, sembari menaruh makanan itu kembali di atas nakas. "Lo tahu nggak Del...Tante Anjeli itu sudah nungguin lo koma dua hari di rumah sakit. Beliau rela-relain nginep di sini buat ngejagain lo," tutur Aksa, kini duduk pada kursi yang terletak di sebelah bangkar Adel.
"Lo tega sama mamahnya Bumi, semisal nungguin lo setiap saat di sini?" tanya Aksa.
"Nggak mungkin lah gue tega sama tante Anjeli yang sudah gue anggap nyokap sendiri," jawab Adel sembari mengerutkan kening di karenakan pertanyaan Aksa yang terdengar menyebalkan pada pendengarannya.
"Nah kalau gitu, mendingan lo sekarang makan-makanan yang di sediain rumah sakit. Ya...walaupun rasanya hambar tapi kan demi kesehatan lo biar bisa kembali pulih." Aksa mengambil kembali nampan berisikan makanan itu lalu menyunguhkannya kembali pada Adel.
Cewek itu pun memilih untuk memakan makanan rumah sakit yang terasa hambar itu, setelah beberapa menit mengunyah dan mencerna, kini Adel merasa sangat kenyang di karenakan makanan yang di konsumsi nya terbilang cukup banyak.
"Hmm...Bumi kemana?" tanya Adel memecahkan keheningan.
"Ada urusan katanya," balas Aksa, sembari memainkan ponsel genggam miliknya.
"Makasih ya sudah nungguin gue di sini."
"Ck! Lo bisa, nggak usah berisik sebentar aja," decak Aksa, ia merasa sedikit kesal di karenaka Adel terus saja mengajaknya berbincang.
"Sorry," kata Adel sembari menundukkan pandangannya ke arah selimut. Cewek itu pun memilih untuk menonton televisi untuk menghilangakan rasa bosannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMIGORA
Teen FictionBumi, seorang pria yang pernah mengalami patah hati ketika kekasihnya meninggal lalu bertemu dengan sesosok seorang wanita yang membuat hatinya berdebar kembali. Namun, dalam perjalanan mencari kebahagiaan, Bumi harus memutuskan apakah dia akan memb...
