Barsha bersandar pada kursi besi lapangan basket sekolah, matanya tertuju pada langit yang diselimuti awan kelabu. Hujan sepertinya akan segera turun. Ia menggigit bibir bawah, pikirannya melayang pada kejadian di kantin tadi. Mengapa reaksi Bumi begitu berbeda dari biasanya? Apakah ada kesalahan yang telah ia perbuat terhadap cowok tengil itu? Pertanyaan yang sama berputar-putar di kepalanya.
Tatapannya yang tertuju pada langit perlahan menunduk, kini terarah pada tanah. Kaki Barsha bergerak, memainkan kerikil kecil yang berserakan di bawah kursi. Keheningan yang menyelimuti sejenak, kemudian terpecah oleh suara seseorang.
"Boleh gue duduk di samping lo?" tanya Aksa, senyum tipis terukir di bibirnya. Barsha mengangkat wajahnya yang tadinya menunduk, kemudian mengangguk tanpa ragu.
"Ngapain sendiri di sini?" tanya Aksa lagi.
"Nggak papa kak," jawab Barsha.
Hening menyelimuti mereka berdua kembali. Aksa tampak kebingungan mencari kata-kata, sementara Barsha masih terbawa suasana oleh kejadian di kantin. Suasana hati gadis itu terusik, membuat dirinya enggan untuk basa-basi.
"Hampir lupa, Tiara bilang... lo nyariin gue tadi?" tanya Aksa.
Barsha menoleh, senyum tipis mengembang di wajahnya. Ia mengangguk pelan.
"Ini buat Kakak, dari gue, Tiara, Riko, dan Akmal. Sebagai tanda ucapan terima kasih kami," ujar Barsha, seraya menyodorkan brownies cokelat kepada Aksa.
Aksa menerima brownies cokelat itu. "Thanks, tapi kalian nggak perlu repot-repot."
Barsha menggeleng pelan. "Nggak papa Kak. Justru kami senang kok bisa berbagi sama Kakak, meskipun hanya brownies," jawab Barsha, tawa kecil terdengar di akhir kalimatnya.
"Ya sudah kalau gitu, gue mau masuk ke kelas," ucap Aksa, "Oh ya, kalau lo butuh bantuan lagi, bisa cari gue di perpustakaan pas jam istirahat pertama." Barsha mengangguk sebagai balasan.
Aksa pun beranjak dari hadapan Barsha, melangkah masuk ke dalam gedung sekolah.
***
Barsha bersikap aneh hari ini. Ada keheningan yang tak biasa menyelimuti dirinya, senyumnya yang biasanya ceria pun tak terlihat. Ali, yang merasakan hal itu, menatap putrinya kemudian menegur anaknya yang sedang mengaduk adonan kue di dalam loyang, gerakan tangannya pun terasa lambat.
"Gimana sekolahnya tadi, Nak?" tanya Ali. Lelaki paruh baya itu kini berdiri di samping Barsha.
Baraha, yang sedari tadi melamun, terhanyut dalam lautan pikirannya sendiri. Tak menyadari pertanyaan yang terlontar oleh ayahnya seeakan tak tersentuh oleh kesadarannya.
"Ayah, ngapain sih mukul kepala Barsha? Dikira beton kali ya?" gerutu Barsha, sambil mengusap kepalanya yang terasa nyeri.
Ali tersenyum tipis, kerutan halus menghiasi sudut matanya. "Ayah nanyain kamu dari tadi."
"Nanyain apa, Yah?" tanya Barsha. Keningnya sedikit berkerut.
Ali menggeleng pelan, tatapannya lembut saat ia menatap kedua netra anak gadisnya itu dalam-dalam. "Lagi mikirin apaan sih anak, Ayah?"
"Nggak mikirin apa-apa kok, Yah," ujarnya singkat, sambil tersenyum yang sedikit dipaksakan.
"Yasudah, kalau ada sesuatu yang putri ayah mau omongin, pintu kamar ayah akan selalu terbuka dua puluh empat jam," tutur Ali, tangan kanannya menunjuk ke arah letak kamarnya.
"Iya Yah, siap!" balas Barsha, sambil memperagakan hormat seperti seorang prajurit yang sedang menghormati petinggi negara. Walaupun gerakannya sedikit berlebihan.
***
Setelah membawa kue terakhir, Barsha berjalan kembali ke rumahnya. Kue yang telah ia buat barusan, sengaja ia bagi-bagikan kepada tetangga sekitar. Langkahnya yang semula ringan, tiba-tiba terhenti di jalan setapak yang berujung pada jalanan lolos menuju pantai, tempat yang sering ia kunjungi.
Gadis itu menatap sekilas ke arah pantai, hembusan angin laut membawa aroma asin yang familiar. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang kusut. Kejadian di sekolah pagi tadi benar-benar membuatnya kehilangan fokus hari ini. Entah apa yang membuatnya terus memikirkan cowok tengil itu, bayangannya seolah tak bisa lepas dari benaknya.
Detik berikutnya, Barsha terpikirkan untuk berdiam diri di pesisir pantai sejenak. Mungkin menghirup udara pantai sore hari bisa menenangkan pikirannya. Namun, tak seperti harapannya barusan, sore ini angin mendesis bagai ujung pisau yang menusuk kulit. Tubuh Barsha meremang, giginya bergemeletuk sebagai bukti bahwa udara sore ini sangatlah jauh dari kata bersahabat.
Buru-buru Barsha beranjak pergi, kembali ke rumah. Namun, saat sudut matanya menangkap pohon tua yang menjulang tinggi di sana, sebuah rumah pohon miliknya terbayang. Rumah pohon yang menjadi tempat persembunyiannya, tempat di mana ia bisa melupakan sejenak hiruk pikuk dunia. Seketika, niatnya untuk kembali ke rumah sirna. Ia berlari menuju rumah pohon itu, mencari ketenangan yang tak bisa ia temukan di tempat lain.
Baru saja melangkah masuk, Barsha terdiam. Pandangannya tertuju lurus ke depan, terpaku pada sosok yang sedari tadi menghuni pikirannya. Di sudut ruangan terdapat Bumi.
Seolah merasakan tatapan yang tertuju padanya, Bumi perlahan menoleh ke belakang. Di sana, terlihat Barsha berdiri terpaku, matanya tertuju padanya dengan tatapan yang sedikit terkejut. Bumi sama sekali tak menyapa Barsha. Ia hanya meliriknya sekilas sebelum kembali menatap ke arah luar jendela, seolah tak peduli dengan kehadiran Barsha. Sikapnya yang dingin membuat Barsha tersadar. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin, kemudian berjalan maju ke arah rak buku, seolah-olah hanya dirinya yang berada di ruangan itu.
Keheningan yang menyelimuti ruangan itu terasa begitu lama, membuat Barsha merasa tidak nyaman. Biasanya, ia selalu mengomeli Bumi jika datang seenaknya ke rumah pohon tanpa izin. Namun, kali ini, ia tak berani memarahinya, bahkan untuk sekedar bertegur sapa pun, ia merasa ragu.
Sampai satu suara cempreng seseorang membuat Barsha tersentak kaget. Ia menoleh ke arah pintu masuk rumah pohon, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di sana, terlihat Ceza berdiri dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Terlihat gitar kesayangannya tergantung di pundaknya, Ceza melangkah mendekat, lalu berdiri di hadapan Barsha.
"Di cariin kemana-mana, ternyata di sini."
Barsha mengerutkan kening, "Maksudnya?"
"Kakak lupa ya... kalau hari ini jadwal latihan gitar sama Kak Bumi?"
"Oh, iya," jawab Barsha, sedikit tergagap. "Gue lupa." Ia berusaha mengalihkan pandangan.
Ceza menggelengkan kepalanya, sambil menepuk jidatnya dengan pelan. Ia melirik ke arah Bumi yang duduk di dekat jendela. Kemudian berjalan mendekati cowok itu.
***
"Kamu semakin ada peningkatan setiap pertemuan, Cez," ujar Bumi dengan sungguh-sungguh.
Ceza nampak menggulum senyum, "Makasih kak," balas gadis itu.
Barsha hanya mengamati keduanya dari jarak beberapa senti, terdiam dan tak berkutik, seolah tak terlihat. Ceza pun beranjak dari kursinya, melempar senyum hangat sebelum pamit pulang.
"Kak Barsha, Ceza balik duluan ya. Makasih Kak Bumi," ucap Ceza, lalu melangkah pergi.
Barsha menatap Ceza yang perlahan menghilang di balik daun-daun yang menutupi rumah pohon. Merasa Ceza sudah jauh, Bumi segera mengambil jaket varsity hitam yang tergeletak di atas nakas. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia melewati Barsha yang jelas-jelas berada di sampingnya.
Baraha ingin menanyakan apa yang terjadi pada Barsha, tapi lidahnya terasa kelu. Ia hanya bisa menatap punggung Bumi yang perlahan pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMIGORA
Novela JuvenilBumi, seorang pria yang pernah mengalami patah hati ketika kekasihnya meninggal lalu bertemu dengan sesosok seorang wanita yang membuat hatinya berdebar kembali. Namun, dalam perjalanan mencari kebahagiaan, Bumi harus memutuskan apakah dia akan memb...
