Bab 12: School Tour

187 86 20
                                        

"Jadilah seperti air yang tidak memiliki batas ambang kesabaran, rela di gunakan untuk hal apapun." -Zaraalthanni06

Happy Reading
____________________________

Alunan musik dangdut bergema di dalam bus,  menghidupkan suasana  tour kali ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Alunan musik dangdut bergema di dalam bus, menghidupkan suasana tour kali ini. Namun, Adel merasa sedikit kesepian. Bumi tak berada satu bus dengannya, kelas mereka berbeda. Ia menatap ke luar jendela, menikmati pemandangan yang berlalu dengan sedikit sedih.

Hawa, dengan mimik wajah jahilnya, mendekati Adel. "Cie--- dikasih bekal sama mamah mertua," godanya, sembari menepuk pelan pundak Adel. Adel merasa pipinya bersemu merah, ia menundukkan kepalanya, menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Apaan sih lo, nggak lucu tauk ah," decak Adel, suaranya bercampur dengan rasa malu.

"Sini Gue kasih tahu," bisik Hawa, mendekatkan tubuhnya ke telinga Adel.

"Lo kan dikasih bekal sama mamahnya Bumi, itu berarti dia sudah restuin lo untuk jadi mantunya ... nggak wajar kan semisalnya lo dikasih sesuatu begitu aja tanpa ada alasan."

Adel mendengarkan dengan seksama, menanggapi perkataan Hawa dengan anggukan kepala. "Hmm ... ada benarnya juga sih," gumamnya.

Perbincangan keduanya terhenti, saat ponsel Adel bergetar di dalam ranselnya. Notifikasi pesan dari seseorang berbunyi. Ia merogoh ponselnya dengan cepat.

Bumi: Sudah di makan belum, titipan dari mamah? Kalau memang belum, jangan lupa di makan ya ... nanti aku yang kena semprot ibu negara.

Adel tersenyum simpul membaca pesan yang dikirimkan oleh Bumi. Lalu ia mulai mengetikkan sebuah pesan sebagai balasan.

Adel: Iya, nanti bakalan aku makan kok. Oh iya bilangin sama mamah, makasih ya untuk makanannya.

Bumi mengirimkan sebuah nomor telepon kepada Adel. "Ini nomor Mama," tulisnya.
Gadis itu mengerutkan keningnya melihat nomor yang dikirimkan oleh Bumi.

Adel: Kok tiba-tiba ngasih nomor Mama?
Bumi: Masa menantu nggak punya nomor mertua.

Adel tersipu malu mendengar jawaban Bumi. Pipinya kembali bersemu merah, seperti tertimpa mentari sore yang terik.

"Oh, oke," jawabnya, suaranya berbisik sambil menunduk. Ia merasa hatinya berdebar cepat.

Adel: Yaudah, aku mau makan dulu."
bumi mengirimkan emot jempol sebagai balasan.

BUMIGORATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang