"Diri mu lah yang akan menjadi tokoh utama dalam hidup mu sendiri." -Bumigora Prameswara🌷
Happy Reading
_________________
Fajar memancarkan sinarnya, menerpa wajah tampan Bumi yang terlelap. Membuat sang empu sedikit terusik, namun tak berlansung lama kedua netra pemuda itu perlahan terbuka.
"HOAM!" Bumi merenggangkan otot-otot tubuh nya, sudut mata cowok itu melirik ke arah jendela kamar. Ia tersenyum tipis ketika membayangkan sesuatu yang jahil terlintas di benaknya.
Hari ini Ia akan pergi menuju pantai karena janji yang telah ia berikan kepada Ceza tempo lalu. "Siapa pun yang berani berurusan dengan gue, akan menerima akibatnya," monolog cowok itu dengan suara penuh penekanan. Cowok itu pun bergegas menuju toilet untuk membersihkan diri.
***
Anggi menatap sang putra heran dengan penampilannya yang sudah rapi dan bersih di pagi hari seperti ini, tak seperti biasanya. "Mau kemana nak? Tumben sudah rapi." Anggi melirik penampilan Bumi dari bawah sampai atas.
"Mau keluar bentar mah, ada urusan."
"Urusan apa sayang? Nggak kayak biasanya kamu masih molor jam segini apalagi sekarang hari libur, " kekeh Anggi sembari tersenyum.
Bibir Bumi perlahan mengulas senyum sembari menatap lekat netra coklat milik sang Bunda. Anggi yang melihat senyuman yang kembali terpancar dari wajah sang anak merasa bahagia. "Sayang," panggil Anggi mulai mendekat sembari mengelus lembut pipi sang putra.
Bumi meraih tangan wanita yang sudah melahirkan nya itu. "Maafin Bumi ya," tutur Bumi sambil mengenggam erat tangan sang ibunda.
Anggi menggelengkan kepalanya pelan, nampak begitu jelas dari sorot mata wanita itu ada rasa haru sekaligus senang.
"Nggak sayang ... Mamah yang seharusnya minta maaf sama kamu." Anggi semakin mengenggam erat tangan Bumi. "Maafin Bumi selama ini sudah buat mamah sedih, seharusnya Bumi sadar bahwa semua mahluk di dunia ini adalah titipan Tuhan termasuk ... Adel," tutur Bumi, jujur saja ia sama sekali belum bisa menerima takdir maupun fakta bahwa Adel telah meninggalkan dirinya untuk selamanya di dunia ini. Tetapi, karena ia tak ingin melihat sang ibunda berlarut dalam kesedihan akan sikapnya, Bumi pun rela berpura-pura terlihat baik-baik di hadapan sang bunda.
"Sayang ... jangan pernah menyalahkan diri sendiri akan sesuatu yang sudah terjadi, itu bukan salah kamu nak --- mungkin itu adalah jalan takdir yang terbaik untuk Adel, mamah yakin kalau Adel sudah tenang dialam sana." Bumi meanggukan kepalanya lalu memeluk tubuh gempa sang ibunda sambil menahan air matanya yang sebentar lagi akan keluar.
Perlahan pelukan itu terlepas. "Yaudah, Mamah sekarang istirahat aja di kamar."
"Iya sayang, kamu hati-hati ya di jalan." Bumi berlalu dari hadapan Anggi bergegas untuk pergi.
***
"Kak Barsha lamat banget ih!" decak Ceza merasa kesal dengan Barsha yang sedari tadi lama sekali berjalan.
"Sabar, bentar juga nyampe kok."
Ceza mengembuskan napas pasrah, gadis itu celingukan kesana-kemari mencari keberadaan Bumi apakah sudah sampai di sana. "Kak, kok kak Bumi belum nyampe ya?" tanya Ceza, kedua netra gadis itu mencari sekeliling.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMIGORA
Teen FictionBumi, seorang pria yang pernah mengalami patah hati ketika kekasihnya meninggal lalu bertemu dengan sesosok seorang wanita yang membuat hatinya berdebar kembali. Namun, dalam perjalanan mencari kebahagiaan, Bumi harus memutuskan apakah dia akan memb...
