"Yang berlalu biarkanlah berlalu, yang merasa tersakiti, seiring berjalannya waktu biarkanlah ia yang mengobati, tugas mu hanyalah melupakan dan memaafkan walaupun itu berat." -Zaraalthanni06
Happy Reading|| Bandung, 31/Mei/2015
_____________________________________________

"Sayang, aku kesana bentar ya mau beli ice cream," ucap Adel sembari menepuk pelan bahu pemuda yang terkenal akan sorot mata elangnya namun meneduhkan di kala bersama wanita yang ia sangat cintai, siapa lagi kalau bukan Bumigora.
"Biar saya aja yang beliin, kamu tunggu di sini," ujar Bumi.
"Kamu pasti capek...dari kemarin loh kamu ngejagain dan ngemanjain aku terus. Pokoknya aku beli sendiri, kamu aja yang duduk di sini," tegas Adel sembari memayunkan bibirnya.
Awalnya Bumi melarang Adel untuk membeli ice cream yang terletak di sebuah gerai seberang jalan raya namun, melihat tingkah laku gemas dari sang kekasih akhirnya ia pun menyetujui nya walaupun ada rasa janggal di dalam hatinya.
"Yaudah...kamu boleh beli ice cream nya tapi aku yang sebrangin ya," ucap Bumi dengan tulus, terlihat sangat jelas pada sorot mata pemuda itu.
Adel pun meanggukan kepalanya pelan Bumi yang melihatnya lansung mengelus pucuk rambut cewek itu dengan penuh kasih sayang, ia pun segera meraih tangan kanan cewek di sampingnya itu lalu mulai menyebrang jalan raya yang tampak sudah sepi, hanya ada beberapa pedagang kaki lima yang berlalu lalang dan anak-anak kecil yang tengah bermain sepatu roda dengan lihainya.
Sorot mata pemuda itu tetap terjaga memandang cewek yang kini tengah membeli ice cream di gerai sebrang jalan itu, setelah selesai membayar kedua ice cream dengan varian rasa vanila dan coklat, gadis berambut sedikit ikal itu pun menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada satupun kendaraan yang melintas, di saat dirinya akan menyebrangi jalan raya tiba-tiba...
BRUK!!!
Bumi mematung di tempatnya, tak percaya dengan apa yang kini tengah di lihatnya, Adel...tubuh cewek itu terpelanting cukup keras pada aspal karena sebuah mobil sedan berwarna hitam yang melaju dari arah barat lalu menabrak Adel.
Bumi tak menghiraukan mobil yang kini sudah terlanjur kabur dari lokasi kejadian hanya menyisakan Adel yang terkapar di aspal, ia bisa saja membayar orang suruhan untuk mencari tahu siapa pelaku yang sudah menabrak kekasihnya itu, kini yang terpenting adalah Adel harus segera di beri perawatan intensitif di karenakan darah mulai mengalir dari kepala gadis itu.
"Sayang bertahan ya...kamu harus selamat," lirih pemuda itu sembari menggendong tubuh Adel yang terkapar lemah.
***
Bumi sejak tadi berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit. Tangannya sudah bergetar pasca kejadian tadi yang menimpa kekasihnya persis di hadapnya. Perasaan cowok itu tidak karuan seiring bergantinya arah jarum jam perasaan takut akan kehilangan, takut apabila kondisi Adel bertambah parah atau apapun itu.
Dering telfon tiba-tiba berbunyi membuat pemuda itu tersentak, Bumi terhenti lalu mulai menekan tombol hijau itu sehingga menimbulkan satu suara di sebrang sana.
"Bagaimana Bumi? Kejutan yang sudah aku berikan...apakah belum cukup?"
"Maksud lo apa...dan lo siapa?"
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, yang terpenting sekarang aku sudah tahu identitas cewek terkasihmu itu."
"Lo penyebab Adel kena tabrak lari tadi?" Bumi sedikit meninggikan intonasi bicaranya, ia merasa geram sekaligus kesal terhadap penelfon misterius itu.
Seketika gelak tawa terdengar memecah keheningan lorong rumah itu di balik telfon genggam milik Bumi yang kini ia dengarkan di samping telinga kanannya.
"Awas aja kalau terjadi sesuatu terhadap Adel, gue akan cari tahu identitas lo yang sebenarnya dan akan ngelaporin lo ke pihak berwajib...biar sekalian aja membusuk di dalam sel penjara!" Bumi sudah berada di luar batas kesabarannya, ia meremas ponsel genggamnya dengan tangan kekarnya itu.
"Silahkan...kamu pikir saya takut? Mendingan kamu jaga cewek terkasihmu itu, atau nggak---"
"Atau apa?" Bumi segera menyambar perkataan penelfon misterius itu bagaikan kilatan petir.
"Atau nggak, lo bakalan denger kabar tentang kematian Adel."
"Breng---" Belum saja Bumi mengeluarkan kalimat-kalimat siraman kalbu nya itu, si penelfon misterius lebih dulu mematikan panggilan telfon.
TUT...TUT...TUT...
***
"Ini sudah nggak bisa didiemin lagi! Adel sudah koma dua hari di rumah sakit dan pelaku penabrakannya belum juga di temukan, gue yakin orang itu bakalan ngelakuin hal yang lebih buruk lagi dari pada ini."
"Nah...apa yang di bilang Adit itu bener banget! Mungkin aja pelaku punya masalah pribadi sama Adel," ucap David menimpali.
"Gue nggak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi, tapi gue bakalan menangkap dalang di balik semua ini!" ucap Bumi, tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya di atas meja.
David, Adit, Aksa dan Reza. Keempat cowok itu melihat Bumi dengan raut wajah layaknya ingin menerkam mangsa, tanpa berfikir panjang keempat cowok itu lansung meredakan amarah Bumi dengan cara mengajaknya memesan sesuatu di kantin sekolah.
"Hmm...lo mau pesan apa? Biar gue pesenin," tanya Reza sembari menepuk bahu cowok itu pelan.
"Kalian aja yang pesen, gue cabut duluan."
Bumi meninggalkan teman-temannya yang masih duduk manis di kantin sembari menunggu pesanannya datang. Reza yang mendengar jawaban dengan intonasi dingin dari Bumi lansung menatap ke arah Bumi, lalu bergantian menatap ke tiga cowok di hadapannya.
"Bumi! Lo mau kemana?" tanya Aksa akhirnya ikut membuka suara, di karenakan sedari tadi dirinya hanya menyimak pebincangan keempat cowok itu.
Bumi meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan pertanyaan dari Aksa.
***
"Aksa, gue minta tolong banget sama lo, tolong jagain Adel di rumah sakit. Gue masih ada urusan di luar."
Aksa memutarkan bola matanya malas setelah membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Bumi, cowok dengan postur badan tegap dan memiliki lesung pipi di pipi kanannya ketika tersenyum itu pun beranjak dari tempat duduknya guna menuju rumah sakit, walaupun dengan langkah yang teramat berat. Namun, ia tetap akan melakukannya di karenakan Bumi dan juga keluarga besar Bumi sudah ia anggap layaknya keluarga sendiri.
"Lo mau kemana?" tanya Reza sembari menatap ke arah Aksa dengan sorot mata kebingungan.
"Gue ada urusan di luar, kalian semua izinin gue ke guru ya semisal ada yang absen, bilang aja lagi ada urusan OSIS."
"Bahaya nih! Salah dalam mempergunakan kekuasaan, gue kasih tahu ketos loh nanti," ancam Adit sembari menyeruput es sedot dua ribuan.
Aksa pergi meninggalkan ketiga temannya itu tanpa menghiraukan ancaman dari Adit. Cowok itu segera menuju parkiran lalu mengambil motor ninja nya yang terparkir dengan aman di sudut halaman sekolah tepatnya di bawah pohon yang begitu rindang.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, Aksa turun dari motor hijau ninjanya itu, segera menuju koridor rumah sakit lalu mencari ruangan di mana Adel di rawat. Di saat membuka engsel pintu kamar, tatapan cowok itu tertuju pada seorang wanita yang tengah duduk di samping tubuh Adel yang kini masih terkapar lemas di ranjangnya.
[Gimana untuk Chapter satu ini guys? Menurut kalian seru atau nggak?]⚘️💐
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMIGORA
Genç KurguBumi, seorang pria yang pernah mengalami patah hati ketika kekasihnya meninggal lalu bertemu dengan sesosok seorang wanita yang membuat hatinya berdebar kembali. Namun, dalam perjalanan mencari kebahagiaan, Bumi harus memutuskan apakah dia akan memb...
