"Semisalnya lo sungkan, nanya sama Riko tentang sekolah... lo bisa tanya gue kok, bila perlu lo bisa tanyain seputar Bandung ke gue."
"Idih, emangnya lo Ensiklopedia apa! Tahu segalanya," sosor Akmal sembari menatap Tiara dengan sinis.
"Bilang aja lo iri kan sama gue? Karena tahu segalanya!"
"Ogah banget gue iri sama lo!" ucap Akmal, "maha tahu lo bilang? Yang ada lo itu sok tahu."
Mendengar perkataan Akmal, Tiara sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya yang sedari tadi kian memuncak, disaat ia akan bersiap-siap menjambak rambut keriting Akmal tiba-tiba Barsha mengajak gadis itu keluar.
"Sha, temenin Gue keluar bentar yuk." Barsha yang sudah memahami situasi yang kian memanas sontak gadis itu pun beralasan mengajak Tiara untuk menemaninya keluar kelas.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, bersamaan dengan itu terdengar suara bel berbunyi menandakan jam istirahat. Bersetatus sebagai murid pindahan, Barsha sama sekali belum mengetahui tempat-tempat apa saja yang ada di sekolah maupun berbagai jenis ekstrakulikuler yang dapat diikuti oleh siswa-siswi yang berminat.
Sebagai ketua kelas Riko pun menawarkan bantuan kepada gadis itu untuk mengajaknya berkeliling hari ini.
Barsha yang masih sibuk mengajarkan tugas yang diberikan oleh Bu Tina tadi pagi terpaksa terhenti sejenak disaat Riko mengetuk bangkunya.
"Sorry gue ganggu," kata Riko.
"Nggak ganggu sama sekali kok, ada apa?" tanya Barsha.
"Lo kan belum terlalu beradaptasi di sekolah, gimana kalau jam istirahat ini dipakai untuk keliling dan beradaptasi di sekolah?"
"Tapi..."
"Lo sama sekali nggak ganggu waktu istirahat gue, mendingan sekarang kita keliling sebelum
Jam istirahat usai."
"Tapi bukan itu.." Belum saja Ia melanjutkan perkataannya, Riko terlebih dahulu keluar kelas.
Barsha hanya bisa mengebuskan nafasnya gusar, "Bukan itu maksud gue, tapi tugas gue belum selesai malah diajak keliling," ujar gadis itu pelan agar suaranya tak terdengar oleh Riko.
Sepanjang berkeliling sekolah, Riko menjelaskan tempat-tempat maupun ekstrakulikuler apa saja yang terpadat disekolah maupun lomba-lomba apa saja yang kini sedang diadakan oleh pengurus OSIS untuk memperingati hari Pahlawan Nasional.
"Semisalnya lo mau daftar eskul, lo bisa hubungi nomor yang di poster ini," kata Riko dibalas anggukan oleh Barsha.
"Kalau lo butuh bantuan hubungi aja nomor Gue, jangan sungkan." Riko menyodorkan secarcik kertas lengkap dengan alamat dan nomor telfonnya.
Barsha meraih kertas itu lalu menyimpannya pada saku rok abunya, "Hmm, Riko makasih ya hari ini lo udah ajak gue keliling sekolah, maaf kalau ganggu makan siang lo." Barsha merasa tidak enak terlebih lagi dirinya sudah menganggu waktu yang paling berharga bagi sebagian siswa yaitu jam istirahat.
"Gue kan udah bilang, sama sekali nggak ganggu kok."
"Yaudah, makasih ya... kapan-kapan gue traktir, kalau gitu gue pamit duluan mau ke toilet."
"Lo inget kan jalannya?"
"Inget kok, kalau gitu gue duluan ya," pamit Barsha.
Gadis itu pergi berlalu dari hadapan Riko melewati lorong demi lorong kelas, berusaha menginggat arah toilet yang sudah di beritahukan oleh Riko saat mereka berdua berkeliling tadi. Hingga sudut mata gadis itu menangkap papan hitam bertuliskan "Toilet Wanita." Setelah selesai dengan urusannya di toilet disaat hendak meninggalkan toilet tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengar ringisan seseorang dari dalam salah satu toilet membuat gadis itu menoleh ke arah suara tersebut berasal.
"Tolong gue," ringis seseorang dari dalam sana semakin membuat rasa penasaran Barsha menyeruak.
Barsha menyerngitkan dahinya saat melihat salah satu pintu toilet yang tertutup rapat dan terkunci, namun anehnya terdapat alat-alat kebersihan yang tergeletak begitu saja didepan toilet itu sehingga kesannya seperti toilet yang tak terpakai.
Tanpa berfikir panjang Barsha menyingkirkan alat-alat kebersihan tersebut ke tepi, lalu membuka pintu yang terkunci itu. Namun, betapa terkejutnya ia disaat pintu perlahan terbuka, terlihat seorang gadis sedang duduk membeku sambil menyederkan kepalanya pada dinding dengan keadaan sekujur tubuh basah kuyup serta rambut yang dipenuhi oleh tepung. Melihat kondisi yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya membuat Barsha tak bisa berkata-kata tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Gadis itu pun menoleh ke arah Barsha dengan tatapan sendu, perlahan ia berdiri lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun pada Barsha.
***
"Barsha!"panggil Tiara, sontak gadis itu pun menoleh ke arah Tiara.
"Lo dari mana aja?" tanya Tiara sembari menepuk pelan pundak Barsha.
"Gue dari toilet, emangnya kenapa?"
"Dari tadi gue cariin lo, ternyata ada di toilet," ucap Tiara, "oh iya sepulang sekolah nanti mau gue temenin nggak ke perpustakaan ambil buku?" tawar Tiara memberikan bantuan.
"Boleh banget, makasih ya," ucap Barsha sembari tersenyum simpul.
"Santai aja."
***
KRING!!
Mendengar bel pulang telah berbunyi, dengan cepat Barsha merapikan dan memasukkan alat tulis miliknya ke dalam tas begitupun dengan para siswa lainnya merapikan alat tulis mereka masing-masing. Sesuai janji Tiara, gadis itu menemani Barsha menuju perpustakaan guna mengambil buku paket terlebih dahulu sebelum dirinya berpamitan untuk pulang. Di tengah perjalanan menuju perpustakaan, Barsha yang teringat akan kejadian sewaktu di toilet lantas menayai Tiara agar tidak menganggu pikirannya.
Barsha menepuk pelan pundak gadis itu sontak gadis itu pun menoleh ke arahnya, "Gue boleh tanya sesuatu nggak?"
"Mau tanya tentang apa?"
"Di sekolah ini pernah ada kasus perundungan atau pembully'an?" tanya Barsha.
Tiara tampak berfikir sejenak akan pertanyaan yang diberikan Barsha untuknya.
"Selama gue sekolah disini, kayaknya belum pernah ada kasus perundungan atau pembully'an pada siswa," jawab Tiara, "kalaupun ada kasus pembully'an di sekolah kita, yang pasti tersangka bakalan lansung di keluarin dari sekolah tanpa ada toleransi."
"Kok lo yakin banget?" tanya Barsha, "semisalnya tersangka lebih mapan dan dia ngebungkam pihak sekolah dengan imbalan uang gimana?"
"Yang jelas sekolah kita ini salah satu sekolah ternama yang ada di Bandung Sha, kalaupun mereka di suap, pihak korban nggak bakalan diam aja kan, dia bisa aja ngelaporin ke pihak berwajib."
"Tapi...bisa aja kan si korban ini di ancam untuk tidak memberitahukan siapapun tentang kekerasan yang di alaminya."
Tiara mengebuskan nafas berat, "Lagian lo nanyain hal begini'an buat apa sih?" Tiara menatap Barsha dalam.
"Nggak papa, gue cuma penasaran aja." Tiara memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Tiara sebelum dirinya mengetahui kebenaran tentang kejadian yang di lihatnya tadi pagi.
"Bagus deh kalau nggak kenapa-napa, lagian si lo serius amat nanyain gue tentang itu."
"Nggak papa kok."
sesampainya, Barsha lansung masuk lalu mengambil buku paket yang di berikan oleh penjaga perpustakaan padanya. Setelah selesai mengambil buku paket keduanya pun bergegas menuju gerbang sekolah, setelah itu mereka terpisah di tengah perjalanan pulang karena arahyang berbeda. Disaat Barsha berada di dalam angkot pikirannya terus saja memikirkan kerjadian tadi pagi, entah apa yang membuat gadis itu terus saja memikirkan kejadian yang tidak ada hubungan sama sekali dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMIGORA
Teen FictionBumi, seorang pria yang pernah mengalami patah hati ketika kekasihnya meninggal lalu bertemu dengan sesosok seorang wanita yang membuat hatinya berdebar kembali. Namun, dalam perjalanan mencari kebahagiaan, Bumi harus memutuskan apakah dia akan memb...
