Bab 24: Tatapan Penuh Kebencian

123 31 0
                                        

-Matahari memancarkan kilauan sinarnya tetapi dia memancarkan senyuman yang selalu membuatku bahagia- Bumigora Prameswara🌷

Happy Reading
______________

Barsha menengok ke belakang dengan gusar saat mendengar suara yang tidak asing pada indra pendengarannya. Cowok dengan netra hitam legam di hadapannya itu, keduanya hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya ia berdiri.

"Sudah nggak sabar ketemu sama gue ya?" Mendengar perkataan Bumi membuat Barsha bergidik ngeri.

"Kepedean banget sih dia," batin Barsha.

Seandainya bukan karena Ceza-- sepupu nya sudah sedari tadi gadis itu pergi dan tak ingin berurusan dengan Bumi.


"Mau lo apa?" tanya Barsha malas berbasa-basi.

Dengan wajah memelas, Bumi tampak berfikir sejenak sontak saja membuat Barsha mengembuskan napas kesal. "Lo bisa nggak sih nggak usah buang waktu gue? Dari jam tujuh gue di sini, sedangkan lo ... baru datang jam delapan. Buruan, sebelum masuk kelas!"

Bukannya menjawab, Bumi masih saja tampak berfikir dengan wajah memelas. Untung saja, Barsha merupakan tipe manusia yang memiliki kesabaran setebal baja.

"Temuin gue di kantin yang ada coretan huruf A di salah satu meja nya jam sepuluh," ujar Bumi lalu pergi begitu saja meninggalkan Barsha seorang diri.

"Eh, Jam sepuluh itu belum waktunya istirahat!" Namun perkataan nya tak di hiraukan sama sekali oleh Bumi.

"Tengil banget tu cowok!" geram Barsha.

***

Semenjak pelajaran berlansung hanya perkataan Bumi yang terlintas dalam pikiran gadis itu membuat Ia tak fokus dengan materi yang sedang di paparkan oleh guru beberapa menit yang lalu.

"Tiara." Barsha sedikit menyenggol pelan lengan Tiara yang masih sibuk mencatat materi yang tertulis pada papan kelas.

"Hmm?"

"Tolong izinin gue ya ... mau ke toilet bentar."

Tiara menganggukkan kepalanya. "Oke, tapi jangan lama-lama bentar lagi pelajaran bu Laela ... lo tahu sendiri kan beliau itu kayak gimana," terang Tiara.

"Iya, tenang aja."

***

Satu-persatu meja di kantin Barsha amati, sampai sudut matanya menangkap salah satu meja sesuai dengan yang di deskpirsikan oleh cowok tengil itu.

Dua menit pun berlalu, Barsha celingukan kesana-kemari tidak mendapatk tanda-tanda kehadiran sosok Bumi di sana. "Mana sih tu cowok ... katanya mau ketemu di sini." Di rasa sudah terlalu lama menunggu Barsha memutuskan meninggalkan kantin ia sudah tak peduli dengan sikonkuensi apa yang akan di dapatkannya dari cowok itu.

***

Jam istirahat berbunyi, Tiara beranjak dari kursinya bergegas menuju kantin. "Lo nggak ke kantin?" tanya Tiara.

Barsha menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak , gue di kelas aja."

"Tumben banget lo nggak ke kantin ... kenapa? Lo lupa bawa uang atau memang lagi diet nih, goda Tiara sambil mengelitiki perut Barsha refleks gadis itu tertawa. "Geli tahu! Lo aja yang ke kantin, gue lagi mode hemat."

"Oh ... kalau gitu gue duluan ya." Kini hanya Barsha seorang diri yang berada di dalam kelas. Ia mengembuskan napas sambil merebahkan kepalanya di atas meja, rambut gadis itu sedikit menutupi wajahnya.

BUMIGORACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang