Bab 11: Hal sederhana yang Membahagiakan

250 111 23
                                        

"Kisah kita lucu ya untuk dijadikan sebuah cerita novel fiksi remaja."
-Zaraalthanni06

Happy Reading
________________


Deru mesin motor bergemuruh dari arah barat jalan raya.  Beberapa motor melaju dengan kecepatan tinggi, menembus  gelapnya  malam. Sorot  lampu  motor  menyinari  aspal  jalan  yang  berkelok-kelok,  membuat  bayangan  penonton  yang  berjejer  di  pinggir  jalan  bergoyang-goyang.  menarik sorak sorai penonton saat melintas di hadapan mereka.

"Gila! Patut diancungi jempol kecepatan motor si Rangga, nggak ada yang bisa ngalahin--- gue yakin malam ini dia yang akan jadi pemenangnya!" ucap seorang pemuda dengan keyakinan yang amat dalam,  matanya  tertuju  pada  motor  Rangga  yang  memimpin  rombongan.

"Bener sih kata lo, gue perhatiin kayaknya Rangga yang bakalan menang.  Emang ya ketua geng Cluster nggak ada duanya," timpal temannya,  menunjukkan kekaguman yang tak terselubung.

Tak terasa,  dua putaran sudah terlewati.  Para penonton semakin bersorak ria,  menyemangati jagoannya masing-masing.  Dan tibalah saatnya putaran terakhir.  Terlihat dari kejauhan,  Rangga menempati posisi paling depan,  memimpin motor-motor di belakangnya.

"Ayo, sikat bos!"

"Lo pasti bisa Bos!"

"Lo harus menang! Kalau nggak duit gue bakalan diambil sama si Supri!"  teriak seorang penonton dengan nada yang penuh harap.

Begitulah sorak sorai para penonton yang terdengar.  Suasana malam ini sangat riuh dikarenakan Cluster Geng menerima tawaran balapan liar dengan geng-geng motor jalanan yang terkenal di Bandung.
Rangga melesat kencang,  mendekati garis finish.
"Oke, pemenang balapan malam ini adalah ...  Rangga!" ucap salah seorang wanita sembari mengangkat bendera kemenangan.  Ia  mengacungkan  bendera  itu,  menandakan  bahwa  Rangga  adalah  sang  juara.
Seketika suasana semakin riuh.  Rangga tersenyum semringah saat mendengar bahwa dirinya adalah pemenangnya.  Senyum  itu  mencerminkan  kegembiraan  dan  kebanggaan  yang  ia  rasakan.

"Selamat bro, nggak sia-sia gue taruhan pilih lo," ucap salah seorang pemuda berbadan tegap.  Ia  menepuk  pundak  Rangga  dengan  santai,  menunjukkan  rasa  senang  dan  kebanggaan.

"Tenang aja bro, duit lo nggak bakalan terkuras habis kalau berpihak sama gue,"  ucapnya dengan penuh kepercayaan diri.  Keduanya pun tersenyum.

Saat mereka asyik berbincang,  tiba-tiba terlihat seorang lelaki dengan jaket hitam berlambang burung phoenix pada saku kanannya berjalan ke arah Rangga.  Ia  membawa  amplop  putih  di  tangannya.

Lelaki berjakun itu menyodorkan amplop berisikan sejumlah uang pada Rangga.

"Nih,  sesuai janji gue,"  ucapnya.
Rangga  hampir  menerima  uang  itu,  tetapi  tiba-tiba  terlintas  sesuatu  hal  pada  benaknya.  "Anak buah lo ada berapa?"  tanya  Rangga  semilir  menyilangkan  kedua  kakinya  dan  memajukan  sedikit  tubuhnya  ke  depan.

"Sekitar 100 orang lebih lah,"  balas  lelaki  itu.

BUMIGORATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang