"Selamat tinggal, cintaku. Sampai bertemu lagi, kau akan selalu ada di hatiku."
Happy Reading
_________________
Alunan musik dangdut bergema di dalam bus, menghidupkan suasana tour kali ini. Namun, Adel merasa sedikit kesepian. Bumi tak berada satu bus dengannya, kelas mereka berbeda. Ia menatap ke luar jendela, menikmati pemandangan yang berlalu dengan sedikit sedih.
Hawa, dengan mimik wajah jahilnya, mendekati Adel.
"Cie--- dikasih bekal sama mamah mertua," godanya, sembari menepuk pelan pundak Adel.
Adel merasa pipinya bersemu merah, ia menundukkan kepalanya, menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Apaan sih lo, nggak lucu tauk ah," decak Adel, suaranya bercampur dengan rasa malu.
"Sini Gue kasih tahu," bisik Hawa, mendekatkan tubuhnya ke telinga Adel. "Lo kan dikasih bekal sama mamahnya Bumi, itu berarti dia sudah restuin lo untuk jadi mantunya ... nggak wajar kan semisalnya lo dikasih sesuatu begitu aja tanpa ada alasan."
Adel mendengarkan dengan seksama, menanggapi perkataan Hawa dengan anggukan kepala.
"Hmm ... ada benarnya juga sih," gumamnya.
Perbincangan keduanya terhenti, saat ponsel Adel bergetar di dalam ranselnya. Notifikasi pesan dari seseorang berbunyi. Ia merogoh ponselnya dengan cepat.
Bumi: Sudah di makan belum, titipan dari mamah? Kalau memang belum, jangan lupa di makan ya...nanti aku yang kena semprot ibu negara.
Adel tersenyum simpul membaca pesan yang dikirimkan oleh Bumi. Lalu ia mulai mengetikkan sebuah pesan sebagai balasan.
Adel: Iya, nanti bakalan aku makan kok. Oh iya bilangin sama mamah, makasih ya untuk makanannya.
Bumi mengirimkan sebuah nomor telepon kepada Adel. "Ini nomor Mama," tulisnya.
Gadis itu mengerutkan keningnya melihat nomor yang dikirimkan oleh Bumi.
Adel: Kok tiba-tiba ngasih nomor Mama?
Bumi: Masa menantu nggak punya nomor mertua.
Adel tersipu malu mendengar jawaban Bumi. Pipinya kembali bersemu merah, seperti tertimpa mentari sore yang terik.
"Oh, oke," jawabnya, suaranya berbisik sambil menunduk. Ia merasa hatinya berdebar cepat.
Adel: Yaudah, aku mau makan dulu."
bumi mengirimkan emot jempol sebagai balasan.
***
Adel melirik jam tangannya, jarum pendek sudah menunjuk angka sepuluh. Terdengar suara Pak Guru dari depan, menginstruksikan agar para murid menuruni bus dengan teratur. Adel beranjak dari tempat duduknya, Hawa ikut berdiri di sisinya. Mereka menuruni bus bersama-sama, bergabung dengan rombongan siswa lainnya.
Setelah keluar dari bus, rombongan siswa diarahkan untuk berbaris rapi di lapangan. Pak Guru kemudian melakukan absen kembali, menghitung satu persatu nama murid yang hadir. Ini adalah prosedur standar setelah perjalanan tour, untuk memastikan semua murid sudah turun dengan lengkap.
Dua menit berlalu, detik-detik menjelang nama terakhir di daftar absen terasa begitu lama. Adel menengok ke kanan dan ke kiri, pandangannya menjelajahi kerumunan siswa yang berdiri rapi di lapangan, mencari sosok yang sedang ia cari. Namun, sudut matanya tak kunjung menemukan.
"Baiklah anak-anak," ujar Bu Chintya, suaranya bergema di lapangan, "Untuk kunci kamarnya kalian bisa ambil di halaman hotel. Ingat, satu kamar tiga orang. Tidak boleh lebih ataupun kurang karena sudah menjadi kesepakatan para guru."
"Oke, Bu," jawab para siswa serempak, suara mereka bercampur dengan desiran angin yang menyapa daun-daun pohon di sekitar lapangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMIGORA
Ficțiune adolescențiBumi, seorang pria yang pernah mengalami patah hati ketika kekasihnya meninggal lalu bertemu dengan sesosok seorang wanita yang membuat hatinya berdebar kembali. Namun, dalam perjalanan mencari kebahagiaan, Bumi harus memutuskan apakah dia akan memb...
